Site icon Baladena.ID

PPKM dan Dimensi Esoteris Masyarakat yang Terabaikan

 

Setiap hari suara sirene ambulans muncul di setiap siang, sore dan malam. Ambulans itu membawa jenazah pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Bagi masyarakat tertentu suara itu menimbulkan trauma yang mengganggu secara psikologis, karena dibarengi dengan aktivitas kegiatan masyarakat yang dibatasi untuk tinggal dirumah.. Sehingga suara ambulans semakin jelas terdengar, karena jalanan sunyi dan mencekam. Selain suara ambulans, hampir pengeras suara di masjid atau mushola sekitar perumahan atau desa kita, dalam setiap berapa jam mengumumkan tetangga warga yang meninggal. Ada yang berusia balita, muda, sampai yang usia tua .Semua kejadian itu berlangsung begitu singkat di bulan Juli.

Itulah gambaran yang terjadi tidak hanya terjadi di Jakarta, Surabaya, Bandung ataupun Bali, tapi juga terjadi di lingkungan terdekat kita, disekitar perumahan dan tempat tinggal kita. Maka mensikapi itu semua, Pemerintah melalui Presiden Jokowi mengumumkan untuk diadakan kebijakan Permberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM ).Dasar utamanya adalah adanya kenaikan kasus Covid-19 . Angkanya sudah tembus hampir 3 juta kasus Covid-19 terjadi di Indonesia, dengan angka kematian per hari yang sangat fantastic, 1350 kematian tiap hari di seluruh Indonesia, dengan lebih khusus mayoritas di daerah Jawa Bali. Angka kematian ini bisa dikatakan luar biasa, karena Indonesia sudah masuk dalam episentrum pandemic Covid-19. Sebagian besar Covid-19 varian virus Delta, yang cepat menyebar dan meneror manusia setiap saat dan waktu. Presiden Jokowi melalui dasar hukum Intruksi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2021 membuat kebijakan Tentang Peberlakuan PPKM Darurat Covid-19 wilayah Jawa dan Bali. PPKM ini berlaku dari tanggal 3 Juli sampai 20 Juli dan terus diperpanjang entah sampai kapan.

Namun pada prakteknya jauh dari harapan yang dikemukakan oleh Menteri Luhut Panjaitan selaku menko maritim dan Ekonomi dan Penanggung jawab Program PPKM Nasional. Diberlakukannya PPKM pertama, angka kematian pasien Covid-19 bukannya menurun , malah semakin hari semakin bertambah. Angka nya meningkat sampai 1500 orang meninggal dalam satu hari. Program PPKM ini sesungguhnya sangat ketat pelaksanaannya. Tempat keramaian seperti pasar, mal dan sebagai ditutup. Sekolah dan perguruan tinggi ditutup, tidak boleh ada aktivitas tatap muka apalagi berangkat ke sekolah maupun kampus. Akses jalan ditutup sehingga pergerakan orang di kota dan daerah dibatasi, sehingga jalan jalan sepi. Adanya PPKM pertama yang tidak memberikan efek maksimal , kemudian Presiden Jokowi baru saja memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM ) Darutat Covid-19 sampai tanggal 2 Agustus 2021. Kita tunggu apakah perpanjangan PPKM ini berhasil mewjudkan harapan kita semua, bisa menurunkan angka kematian Covid-19 dan kasus covid secara keseluruhan .

 

Salah Pendekatan dalam Kebijakan

Muncul pertanyaan besar pada kita semua, apa yang menyebabkan terjadinya kegagalan atau setidaknya kenapa kebijakan ini belum memberikan efektifitas program yaitu menurunkan angka kematian kasus Covid-19.Padahal Program ini berjalan sangat ketat dengan melibatkan unsur Pemerintah Daerah, Polri dan TNI. Semua wilayah khsususnya di Jawa dan Bali, semua wilayah dimobilisasi mengurangi pergerakan manusia, dari pasar, kantor, sekolah sampai instanti pemerintah, akan tetapi hal itu tidak bisa mengurangi sedikitpun angka kasus kematian.

Pada dasarnya manusia terdiri dari dua hal, yaitu yang bersifat lahir dan yang bersifat batin. Yang bersifat lahir adalah kebutuhan manusia yang merupakan kebutuhan lahiriah, dimana membutuhkan makan, minum, kesejahteraan, karir yang bagus, mata pencaharian yang cukup, masa depan yang jelas. Intinya segala kebutuhan manusia yang bersifat lahiriah. Sementara yang bersifat batin adalah keyakinan, harapan, motivasi , semangat yang meskipun tidak bersifat lahiriah , akan tetapi merupakan satu bagian dengan kebutuhan lahriah. Orang yang sukses secara karir dan melaksanakan keyakinan atau ajaran dengan benar, akan memberikan ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya orang yang sukses secara karir dan mata pencaharian, akan tetapi kehidupannya jauh dari agama, seringkali mendapati kebahagiaan yang semu.

Dimesi lahiriah disebut dengan dimensi eksoterik manusia, sementara dimensi batin manusia disebut dengan dimensi esoteris. Dimensi eksoterik yang bersifat lahiriah agar bersifat tertib dibuthksn Syariah atau aturan , dan dalam konteks bermasyarakat dan bernegara dibuthkan kebijakan atau peraturan hukum yang bersifat mengikat. Dimesi esoteris manusia diperlukan melalui adanya ketertiban , ketenangan hidup, keteraturan dalam bermasyarakat . Dimensi esoteris hadir di setiap relung relung tempat ibadah pada setiap semua pemeluk agama. Manusia akan mendapatkan ketenangan Ketika manusia hadir di setiap tempat ibadah. Tempat ibadah memberikan ketenangan batin, harapan dan keyakinan akan mendapatkan hidup yang kekal abadi kelak setelah meninggal dunia.Jadi paripurna manusia adalah Ketika dimensi eksoterik dan esoteris berjalan secara seimbang, sehati dan satu paradigma. DIa hadir secara manunggal, menyatu dan tidak terpisahkan.

Jika kita mengurai program kebijakan PPKM diadakan , dari awal terjadi ambiguitas. Mengedepan Kesehatan akan tetapi ekonomi pun harus berjalan, keduanya sebenarnya akan benturan, karena akan menyebebkan felsibilitas, inilah yang menyebabkan PPKM sebuah jalan terjal yang tidak memberikan efek maksimal. Sehingga di dalam pelaksanaannya terjadi ketidakjelasan arah. PPKM sebagai kebijakan Kesehatan yang dikedepankan hanya aspek fisik saja tidak ke non fisik , Pemerintah tidak memandang masyarakat sebagai obyek yang harus diperhatiakn secara menyeluruh. Yang dikedepankan lebih menitik beratkan pada aspek lahriah saja. Bagaimana bisa sehat, bisa makan, tapi tidak bisa memberikan harapan, masa depan dan kebahagiaan. Tempat tempat Harapan dan kebahagiaan itu di tutup semua. Sekolah, tempat ibadah, masjid, Gereja ,Wihara dan sebagainya ditutup.Banyaknya tempat ibadah yang ditutup ini , menyebabkan masyarakat jiwanya semakin tertekan. Ditambah dengan dirumah saja, semakin menambah beban pikiran.

Masyarakat kita adalah masyarakat religious sejak sebelum Indonesia itu ada. Mereka hidupnya aktivitas terbanyak di tempat ibadah. Manusia memahami bahwa kebahagiaan, harapan dan motivasi hidup itu adalah tempat ibadah. Maka Ketika tempat ibadah itu ditutup, imunitas semakin menurun, karena harapan dan masa depan nya sudah hilang.. Menutup tempat ibadah , akan membuat daya imunitas masyarakat semakin rendah. Hilang semangat, motivasi dan harapan. Bukankah melawan Covid itu harus ada semangat, harapan yang muncul secara esoteris pada setiap manusia. Tanpa itu hanya dengan obat dan semua alat Kesehatan, tidak menyelamatkan imunitas seseorang, malah justru frustasi dan pasrah menerima ajal kematian.

 

Inisiasi PPKM yang Esoteris

Progam PPKM merupakan kebijakan yang perlu didukung, karena tidak bisa dibantah kondisi yang ada saat ini, sudah pada fase darurat. Masyarakat dari hari ke hari, semakin bertambah jumlah kasus Covid maupun yang sakit lainnya, apalagi di masa pancaroba, orang rentan untuk terkena sakit. Kita semua harus bahu membahu membantu program PPKM ini dengan disipilin, khsusunya memakai masker, menjaga jarak dan menjaga kerumunan. Pada sisi lain, masyarakat sebagai obyek kebijakan juga harus dilihat dengan lebih lengkap. Masyarakat perlu dipandang dari sisi kebijakan dengan lebih menyeluruh, bagaimana bisa terpenuhu kebutuhan sehat , tapi juga kesejahteraan hidup jangan diabaikan. PPKM harus dibarengi bantuan sosial terutama bagi masyarakat non formal, pedagang yang terkena dampak karena pasar ditutup, dan para pekerja jasa non esensial yang banyak ditutup, sehingga semua butuh bantuan sosial berupa uang.Itu tugas pemerintah sebagai konsesukensi menjalankan Undang Undang Karantina sebagai basis hukum PPKM. Satu yang tidak boleh di abaikan dan sangat penting, Pemerintah juga perlu memperhatikan kebutuhan batin masyarakat. Masyarakat membutuhkan rasa Bahagia, aman, adanya harapan masa depan yang baik, serta kekhidupan beragama yang tidak boleh dikekakang, apalagi Sebagian masyarakat Indonesia adalah masyarakat religious. Maka penulis pribadi lebih condong agar tempat ibadah tetap dibuka, dan sekolah maupun perguruan tinggi dibuka, dengan mensyaratkan protocol Kesehatan yang baik, menjalankan aturan 3M yang ketat, bagi yang tidak sehat, maka tidak perlu untuk hadir ke tempat ibadah, sekolah maupun perguruan tinggi, dengan menyediakan petugas di pintu depan . Tempat ibadah dan sekolah ini sebagai wujud manusia membangun harapan, sebuah motivasi hidup, serta sebagai bentuk silaturahmi dengan orang lain. Media ini penting untuk membangun imunitas, dan yang terpenting menjaga kebutuhan esoteris dengan Tuhannya. Dengan ini , semoga PPKM bisa efektif menrunkan angka Covid-19 dan semua berharap dan berdoa agar pandemic segera berakhir menuju pemulihan kehidupan yang lebih baik.

Oleh: Dr. Moh. Taufik, M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Exit mobile version