Site icon Baladena.ID

Politik dalam Secangkir Kopi 

Era modern saat ini, pembicaraan politik erat kaitannya dengan media sosial. Isu-isu terhangat sering berseliweran muncul di beranda yang disebut FYP atau tranding. Mulai dari isu passif, reaktif, hingga isu campaign (sosok atau program).

Geliat ini cukup merangkak dengan cepat seiring dengan perkembangan teknologi di abad 21 ini. Mungkin saat ini, untuk menyimak isu politik bisa lewat TikTok, Instagram, Facebook, Twitter, atau media online hingga media sosial alternatif lainnya.

Kalo dulu untuk menyimak berita politik wahananya TV, radio, koran atau untuk pembiraan yang begitu filsuf, ya ke warung kopi sambil ngobrol ngalor ngidul dengan senior cukup usia.

Mungkin penulis yang berusia digerasi milenial ini tidak paham secara kaffah tentang politik warung kopi atau seperti dalam judul “Politik dalam Secangkir Kopi”. Tapi di sini, penulis ingin berbagi sedikit pandangan tentang korelasi politik dan secangkir kopi.

Kopi dan pembicaraan politik memiliki sumbu yang satu dengan lainnya saling tarik menarik. Tradisi berbicara politik ditemani segelas kopi melahirkan sosok macan panggung yang lihai berbicara di hadapan khalayak, melahirkan sosok yang dengan tanggguh mempertahankan argumen yang diidealisasikan.

Pun juga kopi selalu menghangatkan pembicaraan, terkhusus politik. Bak lipstik dan minyak wangi, jika dipadukan dengan bidadari yang kita anggunkan, akan menjadi paduan yang sempurna.

Dalam tradisi dunia, warung kopi atau segelas kopi, erat kaitannya sebagai pelengkap untuk membuat kebijakan publik. Atau kalo ada kata-kata “ayo kita ngopi”, di situ akan disodorkan menu obrolan politik. Bahkan di Kebayoran Baru, Jakarta, ada warung kopi dengan nama “Kopi Politik”.

Menurut penulis, kopi melekatkan akan jejak, rasa, dan makna. Sedangkan, politik merujuk pemikiran, kebebasan, kebijakan, serta sejarah. Kopi memiliki jiwa sang ksatria. Jiwa politik sesungguhnya suci, kalo kotor, mungkin itu usernya.

Kopi dapat menenangkan jiwa, namun bagi aktor politisi yang terjerat korupsi, apakah sempat nyeruput secangkir kopi? Kopi menghibur lewat aromanya, tetapi politisi brengsek terbunuh dan terjerat oleh tingkahnya sendiri. Sungguh sadis alurnya, jika ada.

Namun dalam dunia perkopian, terdapat pasangan yang sulit dilepas yakni rokok. Pandangan yang selalu memunculkan pro dan kontra, apakah penting rokok menemani kopi dan politik, bagi penulis ini penting aja.

Kopi lebih enak diminum saat panas, begitu juga pembicaraan politik akan seru kala isu itu baru muncul dipermukaan lalu diperbincangkan. Kopi berpasangan dengan rokok, politik masa depan berpasangan dengan program dan gagasan. Bungang padangan politik uang, pekikkan politik program gagasan.

Penulis: saafff

Exit mobile version