Bak seekor kancil yang memiliki kecerdikan dalam mencuri dan meloloskan diri dari petani. Mengelabui seperti bunglon dan bermuka dua bagaikan kera sumbang dalam dongeng. Itulah politikus pada zaman sekarang, memanfaatkan berbagai cara untuk kesejahteraan diri sendiri. Menutup mata dan telingga dengan jeritan para mustad’afin yang tersiksa. Menarik selimut kehangan dibalik tembok tumpukan koran. Banyak akal, mungkin itu sebutan untuk politikus yang menggunkan cara cerdik untuk mengelabui masyarakat. Bahkan bukan hanya korupsi, kolusi dan nepotisme yang dijalankan, tetapi permainan data juga sering dipergunakan.
Slogan “Statistik bisa salah, tapi statistik tidak boleh bohong” sering digemakan serta disuarakan. Penggunaan statistik untuk kepentingan sendiri, bukan hal baru lagi. Siapapun bisa melakukanya dengan tujuan untuk menggiring berita, opini serta apapun yang dapat menguntungkan. Apalagi dunia kepolitikan, sudah menjadi strategi untuk korupsi atau memenagkan pasangan calon yang diusung. Jadi, jangan heran apabila pasangan calon mengeklaim diri masing-masing menjadi pemenang, di ranah kepala daerah maupun lebih tinggi lagi. Dengan kemungkinan bahwa mereka ataupun salah satu melakukan kebohongan dalam data.
Data-data merupakan sebuah kebenaran yang diselimuti kebohongan para politikus yang berkepentingan. Satu angka saja yang dimainkan, entah itu kurang maupun bertambah mampu mengubah keadaan. Sebagai contoh, permainan statistik dalam hasil pemilu gubernur maupun presiden. Hasil perhitungan yang dihasilkan oleh setiap calon, pasti berbeda ketika tersiarkan di stasiun televisi yang berbeda. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena kembali lagi pada kekuasaan yang mampu menundukan siapapun dan dengan apapun. Jadi, apabila pasangan calon telah menguasai stasiun A, maka angka yang dihasilkan atau ditampilkan passtinya akan lebih tinggi paslon A tersebut.
Data Statistika sangat penting bagi masyarakat, karena ini lah transparansi dari pemerintahan tentang data keuangan, ekspor , import dan lain-lain. Maklum saja jika data statistika memiliki sebuah kecacatan ataupun kesalahan dalam perhitungan. Tetapi tidak benar apabila data statistika merupakan kebohongan. Kebohongan adalah intsrumen dari propaganda yang mampu menguatkan keaslian informasi. Seperti yang dikatakan oleh Joshep Geobbels, kebohongan disampaikan berulang-ulang akan diterima kebanaranya.
Contoh di atas hanya sebagian kecil dengan contoh pemilihan suara, jika kebohongan yang dilakukan itu pada data tranparansi negara kepada rakyat, terus bagaimana? Coba bayangkan saja, ketika kebohongan statistik ada di dalam data impor minyak. Pada tahun 2022, Indonesia mengimpor minyak sebanyak 100 ton dari arab dan harga per satu ton itu adalah 20 juta dengan Rp. 20.000/kg. Namun, data yang dicantumkan oleh pemerintah hanya 99 ton saja. Keuntungan yang di ambil adalah 20 jt. Itu baru sekali impor, bagaimana jika selama satu bulan melakukan impor sebanyak 3, maka sudah mendapatkan uang 60 juta. Belum pertahunya dan jumlah impor bertambah.
Masyarakat perlu menyadari seberapa cerdiknya para penguasa dalam mengambil keuntungan sendiri. Sadar akan pentingnya satu persen dalam perhitungan statistika, yang mampu menghidupi beberapa orang bahkan ratusan dan sadar bahwa negara ini tidak sedang baik-baik saja. Jangan pernah tidak peduli apa yang terjadi, karena ketika kebohongan penguasa telah terkuak, maka masyarakat hanya bisa marah, menolak karena telah terjadi. Sudah berapa orang yang seharusnya bisa hidup, dengan uang yang sudah mereka ambil dengan pembohongan statistik.
Mengelabui masyarakat yang lebih tertarik dengan dunia selebriti, melalui gosip. Kemudian, menutup dan megendalikan berita yang dikelurkan oleh media agar baik-baik saja. Sehingga, masyarakat lupa dengan negara yang mulai dipermainkan dan dilucuti sedikit demi sedikit. Sampai masyarakat tahu, bahwa mereka sudah terlambat, bahwa negara tercinta ini telah tid
Politik Cerdik dengan Statistik

