Planet NUFO didesain sebagai pesantren dan juga sekolah alam. Rupanya yang dimaksud dengan kata alam di sini bukan hanya karena aktivitas belajar mengajar dilaksanakan di alam secara langsung, tetapi juga agar para muridnya mengalami. Proses mengalami ini benar-benar dijalankan, sehingga para murid tidak hanya memahami teori atau konsep, tetapi mempraktekkannya juga dalam kehidupan keseharian.
Bagaimana strategis para guru Planet NUFO agar semua muridnya bisa benar-benar mengalami semua pembelajaran dengan senang? Kali ini baladena.id akan mengupasnya secara tuntas dengan Dr. Mohammad Nasih, Pendiri dan Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam yang ada di sebelah timur Desa Mlagen, Pamotan, Rembang itu:
Baladena: “Kenapa Planet NUFO didesain berbeda begini? Saya lihat semuanya terbuka. Akses ke alam semesta benar-benar bebas.”
Abah Nasih: “Intinya sesungguhnya kami ingin menjalankan perintah al-Qur’an untuk memikirkan apa yang ada di dalam semesta ini, termasuk di antaranya pergantian siang dan malam. Dengan keadaan yang terbuka begini, setiap hari para murid melihat dan merasakan secara langsung pergantian siang dan malam yang dikatakan Allah di dalam QS. Ali Imran: 190-191.
Berbeda kalau anak-anak dirumahkan. Akses mereka kepada proses pergantian siang malam, juga alam semesta secara keseluruhan pasti kurang optimal. Dengan melihat cakrawala yang luas, diharapkan rasa ingin tahu mereka akan terus meningkat. Dengan begitu, mereka akan tertarik untuk membuntuti rasa penasaran. Kalau keinginan ini sudah muncul, kita tidak perlu lagi menyuruh mereka belajar. Bahkan sebaliknya, mereka tidak akan bisa dilarang untuk belajar”.
Baladena: “Baik. Jadi sesungguhnya apa sih tujuan paling fundamental sekolah alam ini?”
Abah Nasih: “Di samping agar para murid bisa kembali ke alam, melihat dan memikirkannya, lalu membuat langkah-langkah untuk melakukan perbaikan, yang juga menjadi tujuan kami adalah para murid benar-benar mengalami berbagai kejadian dan pekerjaan yang sebelumnya hanya mereka lihat dan dengar, misalnya: menanam dan memelihara hewan ternak.
Mengalami ini sangat penting, sehingga mereka bisa merasakan dinamikanya. Semua aktivitas yang mereka lakukan itu kan mengandung risiko. Berpotensi untung, tetapi juga ada risiko rugi. Dari sini mereka harus belajar melakukan kalkulasi, juga belajar untuk total. Sebab, kalau mereka tidak total, maka mereka akan gagal. Dan kalau gagal, maka harus mengulangi dari nol. Tidak bisa melakukan usaha dengan semangat hangat-hangat tai ayam.
Baladena: “Modalnya pasti besar kalau begini. Dari mana?”
Abah Nasih: “Ya tergantung. Bisa dari orang tua murid, bisa dari saya, bisa dari orang-orang beriman yang memiliki komitmen untuk memberdayakan umat. Benar yang anda katakan bahwa modalnya pasti besar. Lebih besar dari modal kalau kita usaha sendiri. Kalau kita usaha sendiri kan benar-benar karena kita ini butuh dan kemudian sadar untuk melakukan usaha. Kalau murid-murid ini kan anak-anak yang belum tahu tentang kebutuhan hidup mereka. Jadi untuk membuat mereka total itu harus ada cara khusus. Tapi kalau tidak kita lakukan, anak-anak kita bahkan akan bisa mengalami salah persepsi bahwa dengan belajar agama kemudian otomatis jadi sejahtera. Rumus yang diberikan oleh al-Qur’an tidak begitu. Harus digabungkan antara usaha dan do’a. Keduanya harus berjalan bersamaan.
Karena itu, orang tua yang mampu biasanya kami minta untuk mensupport anaknya menjalani usaha, baik support moral maupun material. Misalnya, mereka membelikan hewan ternak untuk anak mereka sendiri. Sementara anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, ya kita atur bagaimana caranya agar mereka bisa mengalami hal yang sama. Kalau yang dari keluarga tidak mampu terus tidak mendapatkan fasilitas yang sama, bagaimana kehidupan mereka di masa depan akan berubah? Risiko kerugian ini yang harus kita tanggung. Dan dalam kalkukasi dan pengalaman saya, menanggung risiko kerugian akibat mereka belajar ini jauh lebih kecil dibandingkan di masa depan mereka menjadi SDM tanpa skill yang tentu saja akan menjadi beban umat dan negara.
Baladena: “Kalai bertani dan beternak, mestinya perlu lahan yang luas ya?”
Abah Nasih: “Makanya Planet NUFO saya dirikan di pedesaan. Di sini, lahan masih luas. Mau berapa pun masih bisa. Tergantung duitnya saja. Kami sudah usaha dan berdoa, semoga lahan kami terus bertambah. Saat ini sudah ada kira-kira 5 hektar lahan yang bisa dipakai para santri berlatih. Pokoknya yang kami lakukan sekarang ini memberikan contoh konkret, kami sendiri melakukan, lalu santri yang tertarik kami ajari, dan selalu kami motivasi. Tidak perlu mereka mendapatkan hasil yang besar. Kecil pun tidak masalah. Yang penting mereka dalam usia belia sudah tahu bahwa untuk mendapatkan uang itu sebenarnya tidak sulit.
Asal mau bergerak dengan skill yang cukup, mereka akan bisa berhasil. Dan kalau mereka sudah senang jadi pengusaha, hasil kecil kan tinggal dilipatgandakan saja, jadi besar. Tidak seperti kalau mereka jadi karyawan. Dan inilah yang menjadi dasar pemikiran kami mendirikan NUFO. Sebab, yang ingin kami lahirkan bukan hanya generasi berilmu, tetapi juga berharta. Selanjutnya, setelah keduanya itu berhasil didapatkan, akan menjadi relatif lebih mudah. In syaa’a Allah. (AH)

