Sara adalah seorang siswa kelas VII SMP Alam Nurul Furqon. Sara senang sekali bermain, berlari, dan memasak. Hampir setiap hari dia memasak dan bermain lari-larian bersama teman-temannya. Jika sedang bosan, Sara akan memasak apapun bahan makanan yang ada. Sekarang ia menginjak berusia 12 tahun. Pada usia inilah dia mulai menjalani kehidupan jauh dari orang tua untuk pertama kalinya.
Hari Rabu di sekolah adalah hari olah raga. Seperti biasa, pukul 06.00 WIB Sara menuju ke lapangan untuk berolah raga. Akan tetapi, dia bosan di lapangan karena hanya melihat orang-orang bermain. Dia mengajak satu orang temannya yang bernama Mba Rere untuk kembali ke sekolah. Mba Rere anak yang pintar, pandai bergaul, dan cantik jelita. Mba Rere tidak mau diajak Sara kembali, Mba Rere mengajak Sara untuk jalan-jalan saja.
Sara dan Olin berjalan ke arah selatan. Mereka tidak tahu peta desa, mereka hanya berjalan menyusuri jalan dan menikmati pemandangan alam. Saat berada di tengah-tengah perjalanan, Sara dan Mba Rere bertemu Rara dan Lily. Mba Rere bertanya ke mereka, “Kalian mau kemana?”. Mereka menjawab, “Kami mau ke gunung yang kelihatan itu loh”. Mendengar jawaban kedua temannya, Mba Rere ingin ikut bersama mereka. Terbesit keinginan Sara untuk kembali, tapi tidak ada yang menemani. Akhirnya dia terpaksa ikut dengan rombongan tiga anak jelita tadi.
Mereka berempat berjalan menuju gunung yang jaraknya kurang lebih 4 km. Mereka tidak membawa bekal. Mereka berempat haus dan kelaparan. Di antara mereka berempat, hanya Rara saja yang membawa uang dan itu pun hanya lima ribu rupiah. Uang itu hanya cukup untuk membeli minuman.
Setelah minuman habis, mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di kaki gunung. Mereka berempat ingin menuju ke puncak gunung tapi mereka tidak tahu jalan untuk menuju ke sana. Mereka hanya berjalan dan berhenti di jembatan di kaki gunung. Jembatan itu indah sekali. Ternyata di area itu hendak dijadikan sebagai tempat wisata, entah wisata apa.
Sudah satu jam berlalu. Mereka kecapean berjalan. Mereka mengeluh dan berdo’a agar mendapat rezeki. Tiba-tiba rezeki itu pun datang dengan sendirinya, Saat mereka hendak pulang, ada seorang penjual tua yang memberi mereka roti dan air minum. Mereka bersyukur karena masih ada orang yang seperti itu. Mereka berterima kasih dan menikmati makanan bersama-sama.
Setelah mereka selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan. Perjalanan dari kaki gunung menuju lapangan membutuhkan waktu 3 jam lebih. Mereka saling memberi semangat satu sama lain agar. Setelah dekat dengan sekolah, mereka merasa senang. Mereka sadar ternyata perjalanan 7 km membutuhkan perjuangan yang besar. Kaki terasa lelah, kepanasan, kahausan, kelaparan. Tapi Allah pasti membantu hamba-Nya yang meminta pertolongan. Sesampainya di Nufo, mereka berempat langsung istirahat dan bahkan sampai sampai ada yang lupa mandi.
Oleh: Aisya Rizqia, Siswi Kelas VII SMP Alam Nurul Furqon, Anggota Muda IPNU Planet Nufo

