Site icon Baladena.ID

Perempuan, Melangitlah! Dapur Bukan Tempat Menetap

Kebanyakan orang tua seringkali berkata pada anak perempuannya agar tidak muluk-muluk dalam mengenyam dunia pendidikan. Mereka masih percaya bahwa tugas seorang perempuan hanya mengurus rumah tangga. Oleh sebab itu, segala aktivitas yang dilakukan di luar rumah atau di ranah publik sangat minim akan dukungan. Kebebasan tampil di ranah publik seakan menjadi mimpi bagi kebanyakan perempuan. Akhirnya, banyak impian dan harapan yang terkubur dalam-dalam.

Kondisi tersebut telah menciptakan jarak antara perempuan dan laki-laki dalam melangkah. Anak lelaki cenderung mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi dan melakukan aktivitas apapun di luar rumah. Sedangkan anak perempuan hanya diperbolehkan mengenyam dunia pendidikan yang  kebanyakan hanya sampai jenjang SLTA saja. Anggapan serta tindakan seperti itu kiranya pelu ditelaah kembali. Benarkah langkah perempuan harus dibatasi?

 

Perempuan diibaratkan sebagai sumur, dapur, dan kasur

Dalam perspektif Jawa dikenal istilah perempuan adalah sumur, dapur, dan kasur. Tentunya bukan tanpa sebab budaya Jawa menempatkan perempuan pada posisi tesebut. Antara perempuan dan laki-laki memiliki kondisi fisik yang berbeda. Laki-laki cenderung memiliki tanaga atau daya tahan yang lebih kuat. Oleh sebab itu, ia diperbolehkan melakukan aktivitas di luar dan bebas melakukan apapun. Berbeda dengan perempuan yang dianggap lemah sehingga hanya diperkenankan beraktivitas di dalam rumah saja. Dari sinilah anggapan bahwa perempuan adalah sumur, dapur, dan kasur itu muncul.

Maksud dari perempuan sebagai sumur, dapur, dan kasur adalah perempuan bertugas mencuci pakaian keluarga, menyiapkan makanan, dan melayani suaminya. Ketiganya merupakan pandangan yang sangat feodal terhadap kaum perempuan. Pasalnya, perempuan hanya diizinkan melakukan tugas di ranah domestik dan sama sekali tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di ranah publik. Karena sudah menjadi tradisi yang mendarah daging, maka akan sulit menghilangkannya.

 

Islam dalam memposisikan perempuan di ranah publik

Islam sebenarnya memperbolehkan kaum perempuan untuk memiliki peran di ranah publik. Sebab, pada dasarnya antara perempuan dan laki-laki memiliki kewajiban yang sama dalam melakukan kebaikan. Dalam sebuah riwayat sirah Rosul disebutkan adanya majlis-masjlis bagi perempuan menunjukkan bahwa Islam memperbolehan perempuan eksis di ranah publik. Apalagi dengan tujuan mencari ilmu dan amar ma’ruf nahi munkar.

Perempuan khususnya seorang muslimah bisa beraktivitas di ranah publik asalkan tidak meninggalkan kewajibannya di rumah, tidak mengumbar aurat saat keluar, serta aktivitas yang dilakukan merupakan aktivitas yang bermanfaat bagi dirinya dan atau orang lain. Perempuan tidak melulu dikaitkan dengan ranah domestik saja, namun juga memiliki kebebasan untuk aktif di ranah publik.

 

Sosok perempuan sukses domestik dan publik bernama R.A Kartini

Di Indonesia sendiri, kemunculan sosok R.A Kartini telah memberikan angin segar bagi kaum perempuan. Terlebih setelah emansipasi di gaungkan, akses perempuan untuk masuk ke dunia luar menjadi lebih mudah, khususnya dalam bidang pendidikan. Dari sini Perempuan Indonesia mulai mengalami perkembangan, semakin luwes dalam menapaki ruang publik, serta mengambil banyak peran.

Keinginan Kartini untuk memberikan kebebasan belajar dan menuntut ilmu bagi kaum perempuan membuat Kartini menuliskan cita-citanya. Keinginan tersebut melahirkan perjuangan serta usaha-usaha yang tidak pernah membuatnya lelah hingga berhasil.

Seiring dengan berjalannya waktu, perempuan sudah mengalami kemajuan dan mulai unjuk gigi di ranah publik dengan menduduki posisi-posisi strategis terutama dalam lembaga pemerintah. Perempuanpun ikut bergelut di dunia politik, bahkan Indonesia pernah dipimpin oleh sosok perempuan.

Dengan kebebasan akses bergelut di ranah publik, perempuan diharapkan dapat melahirkan kebijakan-kebijakan yang dapat meningkatkan sumber daya perempuan. Selain itu, ia juga dapat menafkahi kebutuhan sendiri agar tidak menjadi beban bagi orang lain. Tentunya dengan tidak mengabaikan tugas dan tanggung jawab domestik yang ia miliki.

Pada era demokrasi seperti sekarang ini, perempuan bebas menyalukan bakat dan kemampuan dalam rangka mewujudkan prestasi dan cita-citanya. Dengan adanya kebebasan ini, perempuan

harus mampu memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Bakat-bakat serta kemampuan khusus yang dimiliki harus semakin berkembang dan meningkat.

Harus ditanamkan dalam diri perempuan bahwa, dapur bukanlah tempat menetap bagi perempuan. Langkah perempuan bahkan bisa mencapai langit ketujuh. Prestasi dan pencapaian-pencapaian yang visioner harus dilakukan sedini mungkin. Jangan sampai emansipasi serta kebebasan yang telah didapatkan hilang karena ketidakpiawaian perempuan dalam memainkan kondisi strategis tersebut. Perempuan, melangitlah! Dapur bukan tempat menetap.

 

Oleh: Lainy Ahsin Ningsih, Sekretaris umum HMI Korkom Walisongo, Direktur FKHMI Walisongo, penelitindi Daar al-Qolam Semarang, Mahasiswi jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang

Exit mobile version