“Perempuan. Mereka adalah misteri yang lengkap”. Perkataan Stepen Hawking yang sempat mendunia itu rupanya telah menjadi buah bibir para lelaki untuk memberi predikit khusus bagi para wanita. Perempuan adalah makkhluk paling aneh. Kalimat itulah yang kerap kali keluar dari celotehan mereka. Bagaimana tidak? Berbagai tingkah perempuan yang tidak bisa ditebak sudah cukup menjadi bukti akan adanya kebenaran ungkapan tersebut. Awalnya marah, tiba-tiba bahagia, dan beberapa menit kemudian menangis tanpa sebab yang jelas. Berbagai sikap yang dipandang aneh itulah memicu munculnya pandangan negatif bagi perempuan di pandangan lawan jenisnya.
Salah satu hal yang dipandang sebagai sisi negatif perempuan ialah mereka yang selalu terlihat mata duitan di mata lelaki. Mereka selalu menghubungkan segela sisi kehidupan dengan materi. Sehingga, ketika didekati oleh lelaki, ia juga akan memilah dan memilih, yang terbaik untuknya. Penghasilan lelaki menjadi salah satu faktor penting dalam kriteria calon pemimpinnya. Bukan karena mereka mata duitan atau bahasa yang sering anak zaman sekarang sebut adalah cewe matre. Namun mereka hanya realistis terhadap apa yang harus di persiapkannya di masa mendatang. Terutama saat ia telah mengarungi bahtera rumah tangga. Ia tidak ingin karena pendapat yang tak maksimal, bahkan cenderung rendah, menyebabkan kehidupan keluarganya berantakan dan berakhir tragis. Hingga tak jarang buah hatilah yang akan menjadi korban.
Berdasarkan data yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS),menunjukkan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2022 adalah sebesar 8,40 juta penduduk. Dibandingkan jumlah pada Februari tahun lalu, maka angkanya menurun sekitar 350 ribu lebih orang. Sedangkan jika dibandingkan jumlah pada Agustus tahun lalu, penurunannya sekitar 700 ribuan orang. Selain itu, BPS juga telah melakukan survei, bahwa jumlah pengangguran tersebut akan terus berada pada level ekonomi tingkat rendah hingga mereka berumah tangga. Itu artinya, mereka yang awalnya masuk dalam golongan penduduk pengangguran, setelah menikah, mereka akan mulai bekerja (karena tuntutan rumah tangga) dan masuk kedalam golongan keluarga miskin.
Disinilah masalah itu mulai muncul satu persatu. Ada banyak sekali masalah atau dampak yang ditimbulkan akibat kemiskinan. Baik itu bersifat sosial, keluarga, maupun individu. Diantaranya: kriminalitas meluas, akses pendidikan tertutup, tingkat pengangguran tinggi, angka kematian tinggi, angka perceraian tinngi. Selanjutnya, mari kita bahas kaitan kemiskinan tersebut di lingkup keluarga.
Pertama, kriminalitas meluas. Sebagai manusia, sudah pasti kita selalu memiliki kebutuhan untuk dipenuhi dan ditunaikan. Apalagi ketika telah memiliki keluarga yang kewajiban kepala keluarga tersebut bukan hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Namun juga kepada istri dan anak-anaknya. Salah satu survei yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa di Universitas Indonesia, Indonesia menempati peringkat ke 60 dari 147 negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi. Selain karena kurangnya penegakkan hukum yang maksimal, dalam riset tersebut juga ditemukan, tingkat ekonomi rendah juga sangat memicu adanya tindakan kriminalitas tersebut. Seringkali seseorang tak memiliki niat sama sakali untuk merampok, mencuri, membegal dan lain sebagainya. Namun, karena himpitan ekonomi dan tuntutan keluarga untuk terus mendapat penghasilan yang memadai, kriminalitaspun menjadi solusi terakhir. Meskipun kerap kali nyawa yang menjadi taruhan.
Kedua, akses pendidikan tertutup. Pendidikan merupakan hal wajib yang harus ditempuh oleh setiap anak bangsa. Karena merekalah yang nantinya akan meneruskan estafet kepemimpinan bagsa ini. Namun, hal tersebut tidak selalu bisa terlaksana secara baik dan layak. Biaya pendidikan yang cukup tinggi mengakibatkan keluarga miskin tidak dapat menjangkau dunia pendidikan. Tak jarang diantara anak bangsa ini terpaksa harus memutus mimpinya karena orang tua tidak bisa memberikan biaya yang cukup unutk melanjutkan jenjang pendidikan buah hatinya. Hal ini semakin memperburuk situasi keluarga yang kekurangan karena kurangnya pendidikan membuat mereka tidak bisa bersaing dan tidak bisa bangkit dari keterpurukan. Sehingga hampir seluruh generasi yang dihasilkan dari keluarga miskin, akan muncul sebagai manusia dengan kualitas yang rendah. Hanya keluarga dengan ekonomi di atas rata-rata yang pasti dapat menjamin masa depan dan impian anaknya tergapai. Meskipun tetap ada beberapa keluarga miskin yang bisa bangkit dari kemiskinan berkat perjuangannya dalam mendapat akses pendidikan yang tinggi. Namun, kemiskinan tetap saja menjadi faktor terbesar dari kebodohan. Begitu juga kebodohan yang menjadi penyebab utama dari kemiskinan.
Ketiga, tingkat pengangguran tinggi. Seseorang dapat mendapat pekerjaan layak bisa terjadi karena beberapa hal. Ada yang karena warisan keluarga, ada yang karena ia merupakan anak orang kaya, sehingga akan lebih mudah masuk ke dalam profesi yang di inginkan, dan ada juga yang karena ia memamng memiliki kualitas yang cukup baik dalam bidangnya. Namun, jika salah satu dari ketiga hal tersebut tidak ada dalm diri seseorang, maka sudah pasti dia akan menjadi orang yang di singkirkan dari dunia profesi. Inilah keterkaitan antara kemiskinan, pendidikan yang rendah, dan pengangguran. Keluarga miskin yang sulit untuk mendapatkan akses pendidikan kemudian akan berdampak terhadap tingkat pengangguran.
Keempat, angka kematian tinggi. Dampak kemiskinan selanjutnya yakni dimana angka kematian yang tinggi. Dampak tersebut tentunya mempunyai hubungan dengan penyebab kemiskinan yakni kualitas kesehatan yang belum baik. Padahal gizi seimbang sangat diperlukan dalam masa tumbuh kembang anak. Baik saat anak tersebut masih dalam kandungan, ataupun ketika ia telah terlahir kedunia. Saat gizi yang diperoleh tidak maksimal, tentu akan menghasilkan kulitas manusia yang rendah. Dalam proses pembelahan, pertumbuhan, dan perkembangan sel-sel saraf ini dibutuhkan energi, protein, dan lemak yang cukup. Kekurangan asupan protein-energi pada ibu hamil muda di bawah 24 minggu, akan menyebabkan jumlah sel-sel otak berkurang, sedangkan kekurangan asupan pada protein-energi pada akhir kehamilan akan menyebabkan ukuran sel saraf menjadi kecil. Kekurangan asupan protein-energi yang berat pada ibu hamil dapat menurunkan berat otak anak sampai 25 persen.
Keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan umumnya tidak mendapatkan akses kesehatan yang memadai. Hal ini menyebabkan tingginya angka kematian pada bayi atau balita dalam keluarga miskin. Selain itu, gizi yang buruk juga merupakan masalah yang sering terjadi pada balita dengan gizi tidak seimbang.
Padahal sudah tentu, setiap orang tua berharap memiliki anak yang sehat jasmani maupun rohani. Namun, jika asupan dasar yang berupa gizi masih belum bisa terpenuhi, sangat mustahil harapan tersebut bisa terwujud.
Beberapa alasan rasional tadi sudah sangat cukup membuktikan sebab perempuan sangat menyeleksi pasangan hidupnya. Mereka bukannya mata duitan, namun realistis. Segala kebutuhan yang diperlukan untuk membentuk keluarga sejahtera benar-benar difikirkannya. Berbagai pertimbangan dalam mengelola pemasukan, investasi maupun pengeluaran, juga sangat dipersiapkannya. Karena mereka merasa bahwa akan menjadi “ibu negara” dalam keluarga. Mereka memiliki tanggung jawab untuk menjadi pengatur alur dalam perjalanan keluarga. Selain itu mereka juga mamiliki kewajiban untuk slalu menyediakan gizi seimbang untuk generasi penerus bangsanya. Lalu, ketika sang pemimpin keluarga tak bisa memenuhi semua itu, yang sudah pasti hanya bisa di dapat dengan uang, apa yang harus mereka lakukan? Hanya tindakan para calon pemimpin keluarga yang bisa menjawab.

