Masalah di dalam suatu organisasi yang kian mengakar sampai saat ini adalah hilangnya komitmen atau terlalu berat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Padahal, ketaatan terhadap tugas dan tanggung jawab sangat diperlukan untuk memperlancar jalannya sebuah organisasi. Peringatan dan sanksi sering kali harus diterapkan, padahal kita sebagai manusia harusnya sudah sadar akan tugas dan tanggung jawab yang harus diemban. Kebebasan sebagai pengurus sangat menentukan perilaku pengurus tersebut. Mereka bisa menggunakannya dengan baik atau sebaliknya.
Individualisme sangat mempengaruhi hancurnya sebuah kelompok atau organiasi. Sifat ini harus kita hilangkan untuk membangun peradaban kembali. Hakikatnya berteman dengan semua orang adalah kebutuhan, tapi berlebihan sangatlah tidak baik. Terlihat banyak sekali orang lebih membela temannya daripada kebenaran itu sendiri.
Kegagalan organisasi saat ini adalah hanya sibuk mencari perbedaan daripada mencari persamaan. Hidup dalam keluarga yang berbeda beda ormas, memberikan banyak sekali pelajaran. Seperti yang penulis rasakan, penulis tidak bisa memaksa teman LDII untuk sholat Jum’at bersama.
Pemuda membutuhkan spirit untuk melakukan perubahan yang baik. Organisasi adalah wadah untuk mewujudkan tujuan tersebut. Maka menaati peraturan adalah unsur yang paling penting dalam suatu pemerintahan.
Berorganisasi mengajarkan untuk berpikir, sehingga melahirkan orang-orang yang mampu menyampaikan pendapat dengan bukti bukan dengan sentimen. Kegiatan menyampaikan pendapat untuk memecahkan masalah inilah yang diharapkan agar menghasilkan pemuda yang kritis.
Rakyat yang mentaati, pun harus menghargai aturan yang dibuat. Jikalau aturan tersebut kurang berkenan, maka sampaikan kritik. Kritik yang disandarkan pada bukti bukan sekedar asal omong. Terkadang dalam pemerintahan, mengatasi kritikan pun dengan sentimen, padahal semua harus disandarkan pada bukti bukan asumsi.
Asumsi-asumsi yang tidak tepat menghasilkan isu yang bisa merusak keutuhan sebuah kelompok. Dendam yang masih menyelimuti selalu membuat keonaran. Semua takkan pernah berhasil dalam menjalankan organisasi. Namun, terkadang ada hal hal yang menyebabkan organisasi tidak mau melakukan hal yang benar, karena masih terikat oleh instansi yang membantu mereka, sehingga mereka takut jika instansi tersebut tidak mau membantu lagi. Kemandirian secara intelektual dan finansial sangat diperlukan untuk menopang sebuah organisasi, sehingga organisasi tidak bisa diintervensi dan disuruh-suruh, sehingga bisa melakukan tanpa adanya kekakangan.
Belajar dari Pahlawan Islam
Dalam organisasi yang sangat diperlukan adalah kualitas pengurus. Dalam sejarah Islam pun Khulafaurasyidin tidak main-main dalam memilih “wakil rakyat”. Terbukti Khulafaurasyidin mampu memperluas daerahnya hingga Romawi dan Persia pun dapat dikalahkan. Namun, setelah Ali meninggal, umat Islam terpecah belah, sehingga membuat umat Islam saling serang menyerang. Sungguh, begitu besar sekali pengaruh orang munafik hingga mampu memecah belah umat Islam.
Ketika Al Quds merintih kesakitan, karena direbut oleh Pasukan Salib yang membunuh sekitar 70 ribu muslim dengan sangat sadis. Apa yang dilakukan umat islam saat itu? Mereka sibuk dengan perang saudara dan hanya memperdulikan daerah kekuasaannya. Bahkan, ada yang meminta pertolongan kepada orang Kafir.
Umat Islam hanya sibuk memperdulikan masalah akidah sampai-sampai ada sekitar 40 ribu jiwa melayang, mungkin karena perbedaan antara qunut atau tak qunut. Betapa menyedihkan sekali, sampai sekarang pun prilaku demikian masih ada, sehingga umat Islam jauh tertinggal tentang masalah sains dan teknologi.
Banyak sekali pahlawan-pahlawan Islam yang dapat menyatukan umat Islam, salah satunya adalah Shalahuddin Al Ayyub. Ia menyatukan Islam dengan cara yang unik, yaitu dengan mendekati seluruh kerajaan Islam dan menyadarkan betapa pentingnya Al Aqsa bagi umat Islam. Membutuhkan sekitar 33 bulan untuk menyatukan umat Islam, sedangkan untuk menaklukkan Palestina hanya butuh 13 bulan.
Hal demikian membuktikan bahwa memang membutuhkan waktu yang lama untuk menyatukan kembali umat Islam daripada menaklukan Palestina. Ulama di zaman Shalahuddin memfokuskan untuk membangun ukhuwah daripada aqidah, sehingga saat itu umat Islam bersatu walaupun aqidahnya belum benar. Akan tetapi Shalahuddin kemudian perlahan-lahan memperbaiki aqidah.
Oleh: Moh. Fahim Al-Ghifari, Sanja SLTA Alam Planet Nufo, Pimpinan Redaksi Majalah Planet Nufo Mlagen Rembang, Pengurus Bidang PIP Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Rembang.

