Perspertif mengenai Knowledge secara umum masih menjadi perbedaan yang cukup marak terjadi di kalangan umat Islam khususnya. Munculnya perbedaan perspektif ini salah satunya dilatarbelakangi oleh dikotomi Ilmu yang dibawakan penjajah Belanda yang menginginkan pembodohan terhadap umat Islam. Gagasan ini dibawakan para kolonial karena adanya rasa takut terhadap kebangkitan umat Islam setelah Dinasti Abbasiyah mengalami kekalahan pada tahun 1258.
Berbicara tentang dikotomi Ilmu sangat erat kaitannya dengan sekularisasi Ilmu pengetahuan. Munculnya sekularisasi Ilmu mendapatkan tantangan terbesar yang hadir dari kalangan gereja. Misalnya seperti yang dirasakan oleh Galileo yang dipandang sebagai pahlawan sekularisasi Ilmu pengetahuan meski dalam salah satu sumber disebutkan bahwa kebenarannya masih diperdebatkan. Selain itu, meski lumayan marak didapatkan dari cerita-cerita katholik kuno, dikotomi ilmu juga menjadi sesuatu yang cukup hangat dibicarakan terutama terkait nasib umat Islam yang saat ini sedang merasakan pahitnya dikotomi ilmu.
Terpisahnya antara wahyu dengan Ilmu perolehan manusia tidak seharusnya terjadi, namun tidak dapat dipungkiri bahwa realitas ini akhirnya terjadi juga. Analisis tentang dikotomi ilmu sekali lagi terjadi akibat penjajahan epistemologi Barat yang sudah lama menjadi virus dalam sistem filsafat. Menurut Ahmad Tafsir, pengintegrasian kembali pengetahuan harus dengan merekonstuksi kembali filsafat pengetahuan dalam Islam. Integrasi sistem pendidikan merupakan tindakan memasukkan ilmu-ilmu modern ke dalam kurikulum pendidikan Islam. Hal ini sejalan dengan pendapat Hasan Langgulung, menurutnya kurikulum yang ideal adalah kurikulum yang bersifat universal dan relevan dengan kebutuhan perkembangan minat siswa dan relevan pula dengan kebutuhan budaya masyarakat.
Maurice Bucaille dalam bukunya yang berjudul Bible, Qur’an, dan Sains Modern menyebutkan bahwa, Al-Qur’an diwahyukan dengan meyakinkan kepada orang yang mempelajarinya secara obyektif dengan mengambil petunjuk dari sains modern, suatu sifat yang khusus, yakni persesuaian yang sempurna dengan hasil sains modern. Lebih dari itu, sudah dibuktikan bahwa Al-Qur’an mengandung pernyataan ilmiah yang sangat modern dan tidak masuk akal jika dikatakan bahwa orang yang hidup pada waktu Al-Qur’an diwahyukan itu sebagai pencetus pencetusnya. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan modern memungkinkan penganutnya untuk memahami ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an, yang sampai sekarang tidak atau belum dapat ditafsirkan.
Dari penyampaian Maurice Bucaille di atas setidaknya dapat disimpulkan bahwa dengan menyeimbangkan antara pemahaman Al-Qur’an dengan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan yang secara umum bersifat universal atau yang biasa disebut dengan ilmu umum maka memungkinkan seseorang dapat menemukan perspektif baru yang semakin menguatkan bukti autentik Al-Qur’an. Sehingga Umat Islam sekarang tidak hanya sekedar bangga terhadap produk-produk pendahulunya akan tetapi mereka juga perlu menghidupkan kembali budaya berpikir keras. Dengan menguatkan kembali ijtihad-ijtihad sebagaimana yang pernah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu mereka. Melalui ijtihad lah mereka para pendahulu tadi kemudian menjadi cikal bakal lahirnya teori-teori temuan baru yang kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh para ilmuan barat di kemudian hari.
Tidak ada yang perlu dibanggakan lagi jika daya berpikir kian menyusut dan kerap termakan oleh pengaruh dikotomi ilmu. Sekalipun memang paham bahwa pengetahuan agama dan umum merupakan dua ilmu yang berbeda menjadi stigma di sebagian kalangan orang saat ini baik dari kalangan agamawan maupun dari kalangan intelektual. Namun tidak cukup sampai di sini, sebagai Umat Islam menjadi tugas bagi umat Isla untuk mematahkan stigma yang berbeda terkait “Ilmu” ini demi memajukan kualitas berpikir Umat Islam yang kemudian melahirkan kembali temuan-temuan terbaru yang merupakan tindak lanjut dari misi para pendahulu kita di masa lalu.
Wallaahu A’lam Bisshowab

