Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pesantren Planet NUFO Mlagen Rembang, dan Guru Utama Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang; Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI
Orang yang mendapatkan amanah untuk memimpin sesungguhnya mendapatkan kesempatan melakukan sesuatu yang sangat besar. Orang kaya yang memiliki banyak harta dan memiliki kedermawanan luar biasa pun masih kalah jauh dibandingkan dengan orang yang memiliki kekuasaan. Sebab, seseorang dengan kekayaan yang dimilikinya memang bisa membantu banyak orang. Namun, orang yang memiliki kekuasaan, bisa membantu semua orang. Semua yang dimaksud ini tentu saja semua orang yang berada di bawah kendali kekuasaan politiknya.
Dengan apa seorang pemimpin memiliki kemampuan untuk membantu semua orang? Dengan kekuasaan yang ada padanya, dan kekuasaan itu digunakan untuk membuat kebijakan politik yang baik. Mengapa yang dibantu adalah semua orang? Karena kebijakan politik memiliki kekuatan yang mengikat seluruh warga negara. Jika kebijakan yang dibuat adalah kebijakan politik yang baik, maka itu sama dengan telah membuat seluruh warga negara merasakan kebaikan bersama. Inilah yang dimaksudkan oleh al-Qur’an bahwa kekuasaan berfungsi untuk menolong.
وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا
Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (al-Isra’: 80)
Karena fungsi signifikan kekuasaan itulah, Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman meminta kekuasaan. Nabi Yusuf melakukan negosiasi kepada raja Mesir, agar diberikan kepadanya kekuasaan untuk mengurus perbendaharaan negara. Sebab, dengan mengurus itu, dengan kecakapan yang dimilikinya, dia akan bisa menolong seluruh warga Mesir dari paceklik.
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (Yusuf: 55)
Nabi Sulaiman bahkan berdo’a langsung kepada Allah agar memberikan kepadanya kekuasaan yang besar, yang tidak akan pernah Allah berikan kepada siapa pun setelahnya.
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (Shad: 35)
Namun, tidak semua pemimpin adalah orang yang baik dan mampu memperjuangkan kebaikan. Pemimpin ideal adalah orang yang baik dan memiliki ketrampilan khusus untuk mentransformastikan nilai-nilai kebenaran ke dalam kebijakan politik yang dibuatnya. Jika seseorang yang memiliki tabiat yang baik, tetapi tidak memiliki kelihaian dalam politik, maka itu belumlah cukup untuk membuatnya layak menjadi pemimpin politik. Sebab, di dalam politik selalu terdapat trik, intrik, juga tipu daya, yang hanya orang-orang tertentu saja yang mampu mengidentifikasinya dan membuat strategi untuk tidak terjerat dan kemudian memperoleh kemenangan.
Selain itu, tidak sedikit pula orang yang memiliki kekuasaan, justru menggunakan kekuasaan yang ada di tangan mereka untuk keburukan. Atau, mereka merasa telah melakukan kebaikan dan perbaikan, padahal sesungguhnya mereka telah melakukan kerusakan.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. (al-Baqarah: 11)
Ini adalah pemimpin yang tertipu. Mereka tertipu, karena mereka mengikuti hawa nafsu yang lebih banyak memerintahkan kepada keburukan. Cinta kepada dunia telah mengubah orientasi kepemimpinan yang mestinya adalah menolong rakyat, menjadi digunakan untuk menguntungkan diri sendiri. Orientasi untuk menguntungkan diri sendiri inilah yang menyebabkan banyak pemimpin melakukan tindakan penyelewengan kekuasaan (abuse of power). Karena itulah, Allah memberikan peringatan kepada Daud, agar ia senantiasa menegakkan aturan dengan kebenaran dari Allah Swt., dan jangan pernah mengikuti hawa nafsu.
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shad: 26)
Namun, seringkali tindakan penyelewengan kekuasaan yang mereka lakukan, mereka carikan legitimasi dengan asumsi-asumsi yang mereka buat sendiri. Tindakan menyogok yang jelas-jelas diharamkan oleh Nabi Muhammad mereka halalkan dengan asumsi dangkal di antaranya: daripada kekuasaan jatuh ke tangan orang fasik, lebih baik melakukan praktek politik uang. Padahal mestinya mereka melakukan usaha melakukan pendidikan politik agar membuat rakyat memiliki kesadaran untuk memiliki pemimpin yang lahir dari mekanisme yang dijalankan dengan jujur, bebas dari praktik politik uang.
Kekuasaan yang didapatkan dengan cara yang tidak benar dan dijalankan dengan menyelewengan akan menyebabkan kehinaan dan penyesalan di hari kiamat. Mungkin pemimpin yang mendapatkan kekuasaan dengan cara keliru ini merasa telah mendapatkan kemuliaan, padahal nyatanya adalah sebaliknya. Nabi Muhammad saw. memperingatkan hal ini kepada salah seorang sahabatnya.
عن أبي ذرٍ رضي الله عنه، قال: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِي؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَىَ مَنْكِبِي. ثُمّ قَالَ: يَا أَبَا ذَرَ إنّكَ ضَعِيفٌ وَإنّهَا أَمَانَةٌ، وَإنّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إلاّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقّهَا وَأَدّى الّذِي عَلَيْهِ فِيهَا
Dari Abi Dzar ra. ia berkata: “Aku berkata kepada Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku (seorang pemimpin)?” Lalu, Rasul memukulkan tangannya di bahuku, dan bersabda: “Wahai Aba Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya hal ini adalah amanah, ia merupakan kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya, dan menunaikannya (dengan sebaik-baiknya).” (HR Muslim). Wallahu a’lam bi al-shawab.

