Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Pengajar Ilmu Politik FISIP UMJ Jakarta; Pengasuh Pesantren Planet NUFO Rembang
Al-Qur’an memandang kekuasaan secara objektif sebagai sekedar alat bagi para pemimpin dan elite politik. Ia bisa digunakan untuk melakukan tindakan-tindakan dengan tujuan buruk maupun yang baik, tergantung siapa yang mengendalikannya. Jika kekuasaan di tangan pribadi yang korup, maka kekuasaan bisa digunakan untuk bertindak semena-mena nan destruktif. Sebaliknya, jika kekuasaan berada di tangan pribadi yang baik, maka bisa berfungsi efektif untuk membangun aturan hukum berbasis nilai-nilai agama yang mulia nan sempurna dan penegakannya secara adil. Kekuasaan di tangan orang yang tepat, benar-benar bisa berfungsi umum sebagaimana diharapkan oleh al-Qur’an untuk menolong.
وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا ٨٠
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ya Tuhanku, masukkan aku (ke tempat dan keadaan apa saja) dengan cara yang benar, keluarkan (pula) aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(-ku). (al-Isra’: 80)
Al-Qur’an menyebut cukup banyak contoh pemimpin dan elite politik yang memiliki kekuasaan signifikan bahkan sangat besar. Yang baik, di antaranya adalah al-‘Aziz (dalam israiliyat dikenal dengan nama Qithfir/Itfir dan dalam al-Kitab disebut Potifar), al-Malik (al-Rayyan bin al-Walid), Nabi Yusuf (1745-1635), Thalut (memimpin: 1050-1025 SM), Daud (1040–970 SM), Sulaiman (989–931 SM), Balqis, dan Dzulqarnain (356–323 SM). Sedangkan penguasa jahat yang disebut di antaranya adalah Namrud (2275–1943 SM) yang menceburkan Nabi Ibrahim ke dalam api, Fir’aun (Ramses II dan Merneptah), Hadad bin Badad yang disebut Malik pada era Nabi Musa (1391–1271 SM) dan Khidlr, dan Jalut yang dikalahkan oleh Dawud. Walaupun lebih banyak yang raja baik yang disebut oleh al-Qur’an, tetapi narasi negatif tentang kekuasaan lebih kuat. Seolah-olah kekuasaan lebih banyak menyebabkan madlarrat dibandingkan manfaat.
Al-Qur’an menyebutkan tidak hanya fungsi kekuasaan, tetapi juga contoh-contoh aplikasinya yang paling dasar secara nyata. Inilah yang mestinya diperjuangkan, agar masyarakat mendapatkan kehidupan yang lebih baik, sehingga terwujud sebuah negara yang diidealisasikan oleh al-Qur’an sebagai “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”.
Trasformasi Hukum
Kitab suci adalah sumber pengetahuan yang berasal dari Allah. Di dalamnya terdapat banyak ketetapan yang akan membuat manusia terbebas dari perbedaan pandangan yang tidak produktif. Agar seluruh warga negara mengimplementasikan gagasan Allah, maka pengambil kebijakan politik berkewajiban untuk mentransformasikan ide-ide Tuhan ke dalam kebijakan publik, secara konsisten menjalankannya, dan secara tegas menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Fungsi kekuasaan ini nampak dalam perintah Allah kepada Raja dan sekaligus Nabi Dawud.
يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢ بِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِࣖ ٢٦
(Allah berfirman:) “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.” (Shad: 26).
Ayat ini menegaskan tentang tugas utama seorang pemimpin politik yang memiliki kekuasaan besar adalah membangun, mengimplementasikan, dan menegakkan hukum dengan benar. Tidak boleh ada penyelewengan kekuasaan yang karena kecenderungan buruk apa pun. Juga memberikan peringatan keras, bahwa siapa pun yang menyeleweng dari panduan yang diberikan oleh Allah, maka akan mendapatkan siksaan yang sangat berat.
Menolak Suap dan Fee
Pembuktian bahwa seorang pemegang kekuasaan memiliki tujuan dasar untuk menolong adalah tidak memanfaakannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Kekuasaan adalah karunia tertinggi melampaui harta kekayaan. Kekuasaan yang dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, memiliki implikasi jauh lebih besar dibandingkan dengan kepemilikan harta kekayaan semata. Al-Qur’an mencontohkan sikap ini dalam kepribadian Raja sekaligus Nabi Sulaiman dan Dzulqarnain.
فَلَمَّا جَاۤءَ سُلَيْمٰنَ قَالَ اَتُمِدُّوْنَنِ بِمَالٍ فَمَآ اٰتٰىنِـىَ اللّٰهُ خَيْرٌ مِّمَّآ اٰتٰىكُمْۚ بَلْ اَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُوْنَ ٣٦
Ketika (para utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia berkata, “Apakah kamu akan memberi harta kepadaku (sebagai hadiah)? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. (al-Naml: 36).
Nabi Sulaiman secara tegas menolak hadiah dari Balqis yang sesungguhnya hanya menguji apakah Sulaiman benar-benar seorang penguasa dengan orientasi untuk memperjuangkan kebenaran atau sekedar penguasa yang sekedar menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menindas dan mendapatkan kekayaan yang lebih besar. Sulaiman berhasil membuktikan dirinya sebagai penguasa dan sekaligus nabi yang tujuan hidupnya adalah mengajak lebih banyak orang untuk hidup di dalam jalan Allah. Demikian pulalah yang dilakukan oleh Dzulqarnain ketika mendapatkan tawaran uang.
قَالَ مَا مَكَّنِّيْ فِيْهِ رَبِّيْ خَيْرٌ فَاَعِيْنُوْنِيْ بِقُوَّةٍ اَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًاۙ ٩٥
Dia (Zulqarnain) berkata, “Apa yang telahdikuasakan kepadaku oleh Tuhanku lebih baik (daripada apa yang kamu tawarkan). Maka, bantulah aku dengan kekuatan agar aku dapat membuatkan tembok penghalang antara kamu dan mereka. (al-Kahfi: 95)
Dzulqarnain dengan kepercayaan diri tinggi menyatakan bahwa kekuasaan yang diberikan Allah kepadanya jauh lebih baik dibandingkan uang ditawarkan. Dia sudah merasa cukup dengan bantuan tenaga yang memang diperlukan untuk membangun bangunan yang diperlukan. Dzulqarnain menghindari sikap loba terhadap materi, sehingga tidak menjadikan proyek pembangunan tembok penghalang Ya’juj Ma’juj untuk mendapatkan uang selisih yang sangat bisa ia dapatkan.
Sikap Dzulqarnain ini sangat relevan untuk praktik berkekuasaan kontemporer terutama di negara-negara yang sedang membangun infrastruktur dengan anggaran yang sangat besar. Para penyelenggara negara, karena sudah dibayar, mestinya tidak lagi menjadi pemburu rente dengan meminta suap, atau sekedar fee sekalipun. Gaji yang telah mereka terima memang agar mereka mengerjakan tugas kepemimpinan yang diantaranya adalah merencanakan program dan melaksanakannya dengan integritas tinggi dan bahkan memastikan agar tidak terjadi kebocoran anggaran.
Berilmu dan Mampu Mengontrol
Kepemimpinan akan bisa berjalan dengan efektif apabila memiliki basis pengetahuan yang kuat. Program-program yang telah dicanangkan juga akan terselenggara secara efisien jika ada kemampuan mengontrol yang baik. Jika keduanya tidak ada, penyelewengan dalam penyelenggaraan program akan sangat mungkin terjadi, sehingga membuat program yang diorientasikan untuk menolong rakyat banyak, justru hanya menjadi lahan korupsi bagi segelintir elite politik. Al-Qur’an menampilkan Nabi Yusuf sebagai orang memiliki dua keunggulan tersebut yang karena keduanya tidak tercela untuk meminta kekuasaan.
قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ ٥٥
Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku pengelola perbendaharaan negeri (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanah) lagi sangat berpengetahuan.” (Yusuf: 55)
Nabi Yusuf denga terus terang meminta kekuasaan karena memang dia memiliki pengetahuan dan kemampuan teknis untuk menjalankan program yang sangat diperlukan untuk menangani urusan publik luas. Jika kekuasaan jatuh ke tangan orang yang salah, justru dikhawatirkan yang akan terjadi adalah kegagalan yang tentu akan berimplikasi negatif yang bisa sangat membahayakan negara. Sebelum meminta kekuasaan, Nabi Yusuf telah mempresentasikan apa yang seharusnya dilakukan untuk mengatasi krisis yang akan terjadi.
قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًاۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ ٤٧ ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَّأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تُحْصِنُوْنَ ٤٨ ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ عَامٌ فِيْهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيْهِ يَعْصِرُوْنَࣖ ٤٩
(Yusuf) berkata, “Bercocoktanamlah kamu tujuh tahun berturut-turut! Kemudian apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian, sesudah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit (paceklik) yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun, ketika manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” (Yusuf: 47-49)
Bertindak Tepat dan Cepat
Kekuasaan politik sangat penting untuk mengerjakan berbagai keperluan dengan skala besar dan bahkan lintas negara. Ditambah lagi dengan tuntutan kecepatan. Memberikan pelayanan kepada masyarakat juga harus dilakukan secara cepat. Penanganan yang lambat terhadap urusan banyak orang berpotensi menyebabkan risiko besar. Semangat untuk mengerjakan fungsi kepemimpinan secara cepat ini juga ditemukan di dalam al-Qur’an dan dilakukan oleh Nabi Sulaiman.
قَالَ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا اَيُّكُمْ يَأْتِيْنِيْ بِعَرْشِهَا قَبْلَ اَنْ يَّأْتُوْنِيْ مُسْلِمِيْنَ ٣٨ قَالَ عِفْرِيْتٌ مِّنَ الْجِنِّ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ تَقُوْمَ مِنْ مَّقَامِكَۚ وَاِنِّيْ عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ اَمِيْنٌ ٣٩ قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ ٤٠
Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar, siapakah di antara kamu yang sanggup membawakanku singgasananya sebelum mereka datang menyerahkan diri?” Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari singgasanamu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya.” Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci berkata, “Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.” Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.” (al-Naml: 38-40)
Nabi Sulaiman meminta kepada para elite politik yang menjadi pembantu-pembantunya untuk mengerjakan tugas dengan cepat. Ifrit yang sesungguhnya sudah menawarkan penyelesaikan tugas berat dalam waktu yang cepat, ternyata masih kalah cepat lagi. Masih ada elite politik dengan kemampuan keilmuan yang tinggi yang mampu mengerjakan tugas yang diberikan oleh Nabi Sulaiman dalam waktu yang setara dengan sekali klik mouse komputer, karena hanya satu kedipan saja. Karena itu, kepemimpinan politik haruslah ditopang oleh penguasaan ilmu dan teknologi yang memadai. Dengan basis sains dan teknologi yang makin canggih, tugas-tugas pelayanan yang harus diberikan oleh pemimpin politik akan bisa dijalankan bukan hanya secara tepat, tetapi bahkan presisi dalam waktu yang sangat cepat.
Tahan Godaan Nafsu Seksual
Berada di lingkungan kekuasaan dengan segala kemudahan akses sama saja dengan mendekati berbagai godaan. Tidak terkecuali godaan seksual yang merupakan salah satu kebutuhan dasar biologis. Terlebih lagi jika godaan itu datang dari orang yang memiliki kedudukan tinggi dan paras indah. Nabi Yusuf mengalami ujian ini ketika berada di dalam istana. Namun, Nabi Yusuf memiliki daya tahan kuat sehingga berhasil menghindari tindakan tercela dan melanggar hukum.
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِيْ هُوَ فِيْ بَيْتِهَا عَنْ نَّفْسِهٖ وَغَلَّقَتِ الْاَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَۗ قَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْٓ اَحْسَنَ مَثْوَايَۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ ٢٣ وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَاۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ ٢٤
Perempuan, yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya, menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.” Sungguh, perempuan itu benar-benar telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Yusuf pun berkehendak kepadanya sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf: 23-24)
Praktik berkekuasaan itulah yang juga dijalankan oleh Nabi Muhammad saw. selama 10 tahun menjadi pemimpin tertinggi di Yatsrib yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah. Nabi Muhammad sama sekali tidak menjadikan kekuasaan yang diberikan kepadanya sebagai sarana untuk hidup bermewah-mewah. Nabi Muhammad makan, berpakaian, dan tinggal dengan standar yang bisa dikatakan sama dengan sahabat-sahabatnya yang di level bawah. Bahkan Nabi Muhammad meninggal dunia dalam keadaan baju perangnya tergadaikan kepada seorang Yahudi untuk memenuhi kebutuhan makan. ***

