Site icon Baladena.ID

Pemimpin Buncit Rakyat Menjerit

Ilustrasi. Oleh Gilas Audi.

Sebagai Seorang Pemimpin tidak semata menggunakan Otoritas yang dimiliki, melainkan juga menggunakan seni untuk mempengaruhi orang lain. Dalam menjalankan perannya, seorang pemimpin akan berhadapan dengan segala macam karakter, perilaku dan tingkat kedewasaan pemikiran yang dimiliki bawahannya.

Apakah kepemimpinan di lembaga kita seperti yang ditulis oleh Robert Greenleaf? Saya pikir tidak, karena untuk melaksanakan gaya kepemimpinan pelayan itu didahului sikap sadar bahwa seorang pemimpin itu harus melayani, akan tetapi kesadaran manusia itu hilang tatkala ia memegang kekuasaan, bahkan manusia pun berbuat sekehendak hati tanpa perasaan malu, takut dan khawatir. Dan itu bukanlah contoh dari perilaku Nabi ketika beliau menjadi seorang pemimpin. Begitupun para pemimpin yang saat ini menganggap dirinya telah melakukan kebaikan, padahal hasilnya adalah semrawut atau yang sering kita ketahui adalah amburadul, karena mereka sedang dalam kondisi dibutakan oleh kekuasaan, sehingga hanya mengetahui apa yang dia harus raih untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya. Tidak ada lagi fungsi kenegaraan yang menjadi fokus kehidupan berbangsa, padahal di dalamnya terdapat rakyat yang memerlukan perhatian, kesejahteraan, dan keadilan ekonomi dari pemimpin. Entah berapa lama lagi kita berhadapan dengan “ketamakan” para pemegang kekuasaan yang pintar membolak balikkan tatanan hukum untuk kepentingan kelompoknya.

Mari kita belajar Ikhlas seperti Lafran Pane yang beliau itu bangga ketika hadir dalam setiap acara Kongres Pimpinan Besar Himpunan Mahasiswa Islam tetapi orang-orang tidak mengenalnya sebagai pendiri Himpunan Mahasiswa Islam. Kisah ini Sama halnya seperti Gula yg larut, ia hilang tak terlihat tapi tetap memberi makna. Bisa kita lihat bagaimana gambaran pengelolaan uang negara saat ini, demi menggemukkan perut-perut buncit akhirnya pemimpin rakus, yang sudah tidak mengetahui arah yang dituju dengan adanya fungsi negara, yang harusnya mengutamakan kepentingan rakyat malah uangnya dinikmati sendiri bersama anak buahnya. Dari sekian banyak cuan yang ada di pemerintah, satu per satu mengajukan proker yang menjulang sehingga banyak oknum-oknum yang mempunyai akses bukan untuk skala prioritas kepentingan rakyat melainkan untuk perut buncit.

Setelah 13 tahun bersekolah, akhirnya saya sadar bahwa penjajah itu nyata, ada di antara kita yang mengatasnamakan dirinya sebagai pemegang kebijakan. Tidak usah jauh-jauh berpikir siapa yang menjajah negara tercinta kita Indonesia, sudah jelas penjajahan di zaman sekarang itu korupsi. Itu sangat melemahkan jantung negara. Maka ketika memilih pemimpin diperlukan pemimpin yang tidak mempunyai karakter “tamak” dalam mengatur negara, lihatlah dari aspek Kualitas. Tolonglah, Rakyat jangan dipermainkan terus supaya alam tidak marah. Sudah 76 th Indonesia merdeka, akan tetapi masih banyak rakyat Indonesia yang masih tercekik, sebab lemahnya ekonomi.

Oleh : Siti Mastiah

Exit mobile version