Negara Indonesia memiliki masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Mulai era kepemimpinan Ir. Soekarno sampai Joko Widodo, pemimpin bangsa ini seorang muslim. Walaupun memiliki pemimpin muslim, justru akhir-akhir ini, Indonesia mengalami berbagai kerusakan yang terjadi di berbagai wilayah, baik itu kerusakan alam maupun kerusakan mental. Menurut KH. Ahmad Dahlan (Tokoh Pendiri Muhammadiyah),
“Perhatikanlah alam dan bangsamu! Jika di suatu bangsa yang beriman, dan mengaku sebagai pemimpin yang baik, tetapi masih terjadi kerusakan akibat bencana alam yang berturut-turut, maka itu pertanda rusak pemimpinmu. Jika rusak pemimpinmu, maka rusaklah tatanan masyarakatmu. Mereka saling memfitnah, menghujat, bahkan mencela, dan hal itu tidak bisa terhindarkan. Disaat itulah, Allah memberi peringatan bagimu dengan musibah yang tiada henti.”
Dapat disimpulkan bahwa pemimpin sebagai pengaruh mutlak terhadap keadaan suatu negara. Jika melihat keadaan Indonesia yang semakin terpuruk dari tahun ke tahun, sangat terlihat bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya muslim, tetapi juga pemimpin muslim ideal. Salah satu dalil yang menjelaskan mengenai pemimpin muslim ideal yaitu QS. Al-Anbiya’ : 73, yang artinya,
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi.”
dari ayat tersebut, pemimpin muslim yang ideal merupakan pemimpin yang mengarahkan rakyat dan negaranya menuju kebenaran, yaitu sesuai dengan apa yang diperintahkankan Allah dalam alquran. Pemimpin yang senantiasa mengerjakan kebajikan, tak pernah meninggalkan salat dan rutin menunaikan ibadah zakat. Pemimpin yang menggunakan kekuasaannya untuk senantiasa sebagai sarana untuk mengabdi dan beribadah hanya kepada Allah, dan bukan karena tujuan keduniaan atau hal buruk lainnya.
Untuk mendapatkan pemimpin seperti kriteria yang telah disebut, pastilah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dari realita yang terjadi, Indonesia memang memiliki banyak orang yang kaya pengetahuan, namun tidak diimbangi dengan moral dan agama yang mumpuni. Salah satu generasi yang dapat diharapkan Indonesia adalah santri. Bisa dikatakan santri, tidak harus menetap dan telah berkecimpung lama di dalam pesantren . Namun, dikatakan santri apabila dia yang mempunyai pengetahuan agama yang mumpuni, berdikari, berjiwa dan berakhlak sesuai dengan alquran. Walaupun begitu, generasi tersebut bisa dengan mudah ditemui dalam pesantren. Sebab, di pesantren, setiap harinya tak lepas dari kegiatan kajian mengenai agama dan kalam Allah.
Dikalangan masyarakat, santri disebut sebagai orang yang alim atau bisa juga disebut sebagai ulama. Ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu-ilmu Allah SWT dari ayat-ayat-Nya (Shihab, 1994: 382). Memang, seorang yang telah memahami alquran, tafsir, dan hadist, layak menjadi pemimpin Indonesia. Sebab bisa dipastikan, dia akan lebih bijaksana dalam memberi, solusi dari permasalahan keummatan. Santri akan mencontoh model kepemimpinan yang telah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW. Namun, ulama haruslah mempunyai pengetahuan mengenai ilmu-ilmu umum dan universal. Sebab, era globalisasi yang mendunia, menuntut bangsa Indonesia untuk mengikuti zaman yang semakin modern. Jadi seorang pemimpin harus bisa mengimbangi antara dua hal tersebut.
Santri, generasi bangsa yang mampu mempimpin negara Indonesia.Sehingga, diperlukan adanya pendidikan yang intensif kepada mereka, misalnya pendidikan kepemimpinan dan perpolitikan. Indonesia sangat membutuhkan seorang pemimpin yang dapat memimpin dirinya sendiri, rakyatnya, dan negaranya. Santri haruslah tergugah akan hal itu, karena negara Indonesia sangat merindukan, bahkan membutuhkan pemimpin yang bernafaskan Islam dan berdasarkan alquran. Maka, seorang santri harus bersegera menyiapkan dan membariskan barisan untuk menyiapkan diri sebagai seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Keberadaan santri sebagai seorang pemimpin akan lebih baik bagi bangsa ini, karena lebih besar kemungkinan bahwa Allah SAW, akan meridloi negara Indonesia ini.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang siap menderita, bukan berbahagia di atas kesengsaraan rakyatnya. Pemimpin yang mampu menjamin kebahagiaan rakyat, dan tetap bersama rakyat dalam suka maupun duka, yaitu satu bangsa Indonesia. Didalam kehidupan pesantren, telah lama berkembang budaya kebhinekaan. Mereka meninggalkan kesenangan semu(sementara) demi meraih ilmu-ilmu Allah yang tiada batasannya. Mereka peduli kepada sesama, menjalani kehidupan susah maupun senang bersama, dan saling memotivasi dalam hal kebaikan. Santri yang baik akan menganggap bahwa keprihatinan merupakan gizi. Anggapan itu justru dapat menguatkan karakter mereka. Sebab, dengan segala keterbatasan yang ada, mereka dituntut untuk tetap bisa hidup, baik untuk hidupnya sendiri maupun temannnya, karena di pesantren prinsip hidup mereka berjamaah. Kehidupan santri telah mencerminkan sosok pemimpin yang baik.
Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW merupakan contoh paling ideal untuk diteladani para pemimpin muslim. Beliau memiliki akhlak yang mulia dan diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia pula. Alquran merupakan akhlak Rasulullah sekaligus sebagai mukjizat terbesarnya. Sehingga mempelajari alquran menjadi penting untuk mendapatkan akhlaq seperti Rasulullah. Memang bukan hal yang mudah mencetak generasi-generasi yang berakhlakkan alquran, tetapi sebagai umat Islam yang baik, hendaklah mengikuti Kalam Allah.Sehingga, mengusahakan memiliki generasi berjiwa pemimpin dan berakhlak alquran, menjadi kurang tepat jika dianggap tidak mudah dan mustahil. Indonesia hanya perlu mengusahakan yang terbaik, sabar, dan tetap menjunjungtinggi kebenaran. Penulis berharap Indonesia mempunyai generasi yang mumpuni dan berdikari, sehingga dapat diandalkan sebagai pemimpin yang ideal bagi Indonesia. Selamat hari santri, generasi akhlak qur’ani.
Oleh: I Anatur Roziqoh, santri Pesantren Darul Qalam Semarang.

