Mochtar Lubis menjelaskan dalam bukunya yang berjudul “Manusia Indonesia” tentang kualitas etos kerja masyarakat Indonesia. Kualitas etos kerja masyarakat Indonesia termasuk dalam kualitas etos yang buruk. Pendapat ini adalah sebuah kenyataan di lapangan. Tidak bisa dipungkiri, dan memang begitu adanya. Sejak dahulu, masyarakat Indonesia terbiasa hidup seperti ini dan terlanjur nyaman dengan keadaan. Hal ini diperparah dengan kurangnya kesadaran dan upaya pembenahan terhadap “habbit” yang buruk bagi masyarakat Indonesia.
Adapun penjabaran etos kerja masyarakat Indonesia menurut Mochtar Lubis, terdiri dari sebagai berikut: 1) Munafik atau hipokrit. 2) Enggan bertanggung jawab. 3) Berjiwa feodal. 4) Percaya takhayul. 5) Berwatak lemah. 6) Artistik; dekat dengan alam. Di antara etos kerja masyarakat Indonesia tersebut, semua bermuatan negatif, kecuali hanya satu yang bermuatan positif, yaitu artistik; dekat dengan alam.
Pada dasarnya setiap manusia memiliki banyak kebutuhan dalam hidupnya. Secara mendasar, Jean Watson membagi kebutuhan manusia menjadi empat bagian dan bagian yang paling mendasar adalah kebutuhan biofisikal. Kebutuhan biofisikal berupa makanan dan minuman, eliminasi, dan ventilasi. Jika memang demikian, kebutuhan dasar semua manusia sama. Dan untuk memenuhi kebutuhan itu, dibutuhkan sebuah usaha yang kemudian disebut kerja. Namun, mengapa kualitas etos kerja masyarakat dengan negara lainnya berbeda.
Jika penulis bandingkan kualitas etos kerja masyarakat Indonesia dengan masyarakat Jepang misalnya, akan didapati perbandingan yang sangat signifikan. Masyarakat Jepang sejak dahulu dikenal dengan kualitas etos kerja yang bagus dan berkualitas. Bersebab itu, Jepang masuk dalam kategori negara maju. Selain itu, faktor lingkungan dan budayalah yang berhasil mencetak masyarakat Jepang menjadi masyarakat dengan etos kerja yang baik.
Secara historis, penyebab masyarakat Indonesia memiliki etos kerja yang buruk dikarenakan efek dari penjajahan. Secara fisik, Indonesia dijajah oleh bangsa asing kurang lebih selama 350 tahun lamanya dan itu yang menyebabkan ingatan masyarakat Indonesia menjadi ingatan traumatik pada alam bawah sadar mereka hingga saat ini. Walaupun penjajahan secara fisik Indonesia sudah tidak lagi dijajah, namun keadaan alam bawah sadar masyarakat Indonesia masih dalam keadaan terjajah. Diperparah lagi dengan penjajahan secara secara non fisik, penjajahan dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya, misalnya.
Dalam kajian disiplin ilmu psikologi, fenomena ini dapat dikaji menggunakan pendekatan aliran psikoanalisis. Aliran psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, memjelaskan bahwa secara determinisme fenomena tersebut terjadi akibat dari konflik pada masa kanak-kanak dan tekanan-tekanan biologis. Kejadian konflik dan tekanan pada masa penjajahan terus melekat dalam ingatan alam bawah sadar mereka. Hal itulah yang kelak menjadi mental yang tidak baik dalam alam bawah sadar mereka.
Mental tersebut biasa dinamakan dengan mental orang terjajah. Mental itu yang kelak akan melahirkan turunan-turunan yang tidak baik. Dalam benak mental orang terjajah, yang ia pikirkan hanya untuk dirinya sendiri. Sebab untuk mengurusi dirinya sendiri saja sudah susah, apalagi untuk mengurusi orang lain, hanya akan menambah susah saja. Alhasil, mental terjajah menghasilkan pola pikir yang kerdil. Dan oleh karena itulah, kualitas etos kerja menjadi buruk, karena yang dipikirkan masyarakat Indonesia hanya untuk dirinya sendiri.
Untuk itu, diperlukan pemutus tali rantai “penyakit” ini. Rekontruksi pemahaman di kalangan pemuda merupakan solusi konkret untuk menyudahi pola pikir tersebut. Sebab, pemuda adalah harapan bangsa di masa depan. Mereka yang kelak akan menggantikan estafet kepemimpinan bangsa. Jika pemuda tidak memiliki pola pikir yang kerdil atau dalam kata lain penyebaran pola pikir tersebut telah terputus, maka Indonesia akan mengalami kemajuan yang sangat signifikan.
Maka tidak heran jika berbagai tokoh masyarakat yang sadar dengan kondisi ini, mulai mengupayakan segala yang mereka punya untuk mendirikan lembaga pendidikan yang berorientasi kepada pembangunan karakter. Objek sasaran pendidikan dari lembaga itu adalah kalangan pemuda. Mereka berharap dengan upaya itu, pola pikir yang telah menjangkit pada kebanyakan orang tidak menjalar ke pemuda.
Dengan begitu, yang dipikirkan pemuda Indonesia tidak hanya tentang dirinya sendiri, melainkan dengan cakupan yang lebih luas. Ikut serta memikirkan kondisi lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya sekitar misalnya. Hal demikian akan meningkatkan kualitas etos kerja bangsa Indonesia. Wallahu a’lam bi al-showwab.

