Educational Psycology atau kalau dikata dalam dialog Bahasa Indonesia menjadi psikologi pendidikan merupakan angin segar bagi dunia pendidikan. Hal-hal yang ada dpada psikologi pendidikan menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan. Psikologi pendidikan menurut Muhibbin Syah adalah cabang ilmu psikologi yang memiliki lingkup bahasan mengamati, mempelajari, dan membahas gerak-gerik pelaku pendidikan.
Raden Mas Suwardi atau lebih akrab kita sapa dengan Ki Hadjar Dewantara menciptakan sebuah semboyan bagi dunia pendidikan terutama pendidikan di Indonesia. Ing Ngarso sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani kalau dalam terjemah Bahasa Indonesia menjadi, di depan memberi contoh, di tengah memberi motivasi, di belakaang memberi dukungan/bantuan. Ketiga slogan ini seolah menjadi kata-kata yang mengandung sisi magis bagi pendidikan Indonesia, sampai-sampai lambang kementrian yang mengurusi hal-ihwal dan segala yang berbau dengan pendidikan pun mencatut slogan tersebut “meski hanya bagian ketiga”.
Bagi Republik Indonesia, mengenal Prapta Triloka adalah hal yang sangat melekat dan in memoriam, sebab sering didengar dan dibaca pada banyak literatur, terutama yang berbau pendidikan di Indonesia. Namun, meski dekat dengan slogan tersebut, agaknya kurang menjadi perhatian bagi pemerhati pendidikan atau pelaku pendidikan untuk menerapkan falsafah pendidikan tersebut. Padahal apabila falsafah pendidikan ini diterapkan akan menjadi tolak ukur pembelajaran yang baik bagi pendidikan di Indonesia.
Ing Ngarso Sung Tuladha, merupakan peran strategis yang semestinya dilaksanakan oleh tenaga pendidik atau pengajar, dalam hal ini guru menjadi sasaran utama. Memberi contoh yang baik merupakan salah satu pembelajaran yang tanpa disadari sangat krusial. Dalam tahap pembelajaran pada tingkat awal “masa kanak-kanak” anak-anak cenderung meng-copy segala hal yang dia lihat dan dengar. Pada masa awal ini peserta didik belum memiliki intelektual yang cukup guna mengguakan penalarannya untuk menilai baik/buruk nya suatu hal.
Dalam dunia Islam, Rasulullah sendiri adalah contoh “uswatun hasanah” bagi umat. Dalam Al Qur’an surat Al Ahzab ayat 21 jelas diterangkan bahwa pribadi rasul adalah contoh yang baik bagi umat yang mengharap rahmat Allah. Contoh yang baik tidak hanya diperlihatkan tenaga pendidik dalam lingkungan pendidikan. Namun harus ditunjukan dalam setiap tindak-tanduknya setiap hari. Rasulullah sendiri tanpa disadari menjadi role model bagi umatnya lewat kegiatan sehari-hari beliau. Hal ini dibuktikan lewat banyaknya hadist yang diriwayatkan oleh banyak sahabat tentang perilaku rasulullah sehari-hari.
Ing Madya Mangun Karso, berarti memberikan motivasi kepada peserta didik untuk terus meningkatkan kemampuannya. Dalam khazanah literatur Jawa klasik terdapat sistem pendidikan yaitu, Trimong yang terdiri dari Momong atau mengasuh, hal ini berarti pelaku pendidikan memberi kasih sayang sebagai bentuk riil terhadap kebutuhan anak yang masih kecil. Among, memberikan pengajaran berupa cara pandang hidup dan bagaimana cara seorang anak menemukan jati diri. Pada masa Among inilah penentu masa depan anak ditentukan, menurut Erik Eriksen seorang Freudian dari Inggris menyatakan bahwa “jika seorang anak mampu melewati konflik internal pada masa ini maka akan lebih mudah menghadapi konflik di masa mendatang”. Dan yang terakhir adalah Momong yang ada pada tahap ketika anak ketika mahasiswa. Pad tahap ini adalah tahap terberat dalam mendidik karena anak cenderung lebih berhati-hati dalam menerima informasi karena daya nalar seorang anak sudah mulai aktif.
Di lain sudut pandang, DR. Muhammad Nasih M.Si memberikan pandangan terhadap pendidikan yang cocok diterapkan pada anak-anak yaitu; usia 0-7 tahun adalah masa anak-anak diperlakukan sebagai raja, dalam artian semua kemauan yang diinginkan anak dipenuhi dan tentu dalam tahap wajar. Hal ini karena anak belum bisa diajak berfikir sebab prnalar pada anak belum bisa berfungsi secara sempurna.
Kedua adalah ketika anak memasuki umur 8-20 tahun adalah masa anak-anak dijadikan budak. Budak dalam hal ini bukan berarti orang yang disuruh secara semena-mena melainkan anak dituntut untuk melakukan segala hal yang diperlukan bagi masa depan anak. Contoh sederhana dalam tahap ini adalah mengenai pembelajaran intensif. Dan bagian terakhir dari fase tumbuh kembang anak adalah usia 21-dst, anak-anak pada kelompok usia ini diposisikan sebagai kawan dalam berjuang “motivasi” yaitu anak dan orang tua”pengajar” berposisi sebagai rekan dalam melakukan berbagai hal.
Tut Wuri Handayani, atau dalam Bahasa Indonesia disebut di belakang memberi dorongan. Peran strategis bagi tenaga pendidikan adalah memberikan dorongan yang besar bagi kemajuan intelektual seorang anak. Dorongan ini bisa bermacam-macam seperti memberi dukungan materiil berupa biaya pendidikan maupun non materiil berupa pengajaran atau membantu peserta didik dalam menghadapi kesulitan dalam belajar.
Apabila Prapta Triloka yang dicetuskan oleh KiHadjar Dewantara benar-benar dilaksanakan dalam nafas pendidikan di Indonesia, maka kemungkinan anak untuk gagal dalam pembelajaran dapat diminimalisir.

