Oleh: Lilis Setyawati, Mahasiswa KKN MIT DR ke-12 UIN Walisongo Semarang kelompok 26
Dewasa ini, persaingan bisnis semakin ketat. Jika tidak menyesuaikan, maka yang terjadi akan seperti Giant yang resmi tutup di seluruh Indonesia. Namun tak bisa dipungkiri, Indonesia masih kekurangan sosialisasi dan pembelajaran digital marketing terutama untuk UMKM menengah ke bawah.
Jika kita telusuri, ada makanan atau jajanan yang sudah tidak kita temui di jalan-jalan. Kini makanan seperti kue putu, cenil, rambut nenek, dll sudah jarang ditemui. Apalagi sekarang. Pandemi semakin menurunkan eksistensi UMKM menengah ke bawah. Tentu ini sangat memperihatinkan.
Melihat hal tersebut, sudah seyogyanya pemerintah dengan segala fasilitasnya memfasilitasi para PKL dan UMKM mendapatkan haknya. Karena tidak jarang kita lihat warung yang tutup karena kekurangan pembeli atau karena warung yang tak memiliki inovasi. Setidaknya itu yang mesti harus dibenahi.
Mengingat kondisi pandemi, ini menjadi tugas bersama. Bahwa digitalisasi UMKM itu tidak semua memiliki kompetensi, itu benar. Tapi untuk mendorong, menuntut, dan belajar dari manapun kapanpun itu menjadi tugas kita semua. Hal ini sejalan dengan kepentingan atau kewajiban negara yakni mensejahterakan rakyatnya.
Pemerintah mesti memacu program digitalisasi ekonomi terutama bagi UMKM. Ini penting. Kita tak tahu kapan pandemi akan berakhir. Maka, mestinya pemerintah menggenjot pembuatan pelatihan bagi anak muda dan pelaku bisnis UMKM.

