Pesantren al-Falah, Mlagen, Pamotan, Rembang hari ini terlihat tidak biasa. Pesantren yang diasuh oleh Ustadz Mahbub Abdillah dan istrinya Ustadzah Laila Mufidah merayakan Idul Qurban dengan menyembelih dan membagikan daging hewan kurban kepada seluruh KK di Desa Mlagen. “Walaupun kami suddah berusaha agar tidak ada yang terlewat, tetapi ternyata ada yang terlewat juga. Namun, setelah ada laporan ada warga yang belum kebagian, kami langsung kirimkan. Walaupun baru 3 ons per KK, tetapi yang penting semua merasakan berkahnya”, demikian kata Ustadz Haizun Ni’am, Ketua Penyelengara Kurban yang juga salah satu pengajar senior di pesantren yang jumlah santrinya ratusan itu.
Tahun ini, seekor sapi jenis limousin jumbo dikurbankan oleh adik pengasuh, Ana Maghfuroh, yang sukses membangun usaha di Ruteng NTT. Selain itu, ada lima ekor kambing dan domba yang disembelih tepat setelah para santri menyelenggarakan shalat Idul Adlha di Masjid Jami’ Desa Mlagen. “Dua kambing dari pengasuh kami, dan tiga ekor lainnya dari wali santri”, terang Ni’am.
Yang membuat penyelenggaraan kurban tahun ini sangat meriah karena seluruh santri dilibatkan. Dan pada saat mereka bekerja dalam proses pemaketan dan distribusi, mereka juga sudah bisa menikmati sate kambing yang telah disembelih untuk pertama kali. “Kami membagi santri-santri ke dalam beberapa tim. Semua dapat peran. Santri usia SMU menguliti, santri usia SMP menyincang dan sebagiannya membakar sate. Pada saat sapi baru saja disembelih oleh Abah Mahbub, lalu diproses untuk ditimbang, semua santri sudah bisa menikmati daging kambing. Jadi daging kambing buat santri, daging sapi sebagian besarnya untuk warga Mlagen”, imbuh Ni’am yang juga mahasiswa pascasarjana UIN Walisongo yang sebentar lagi akan lulus.
Pesantren ini ternyata dirintis oleh sepasang suami istri KH. Muhammad Mudzakkir al-Hafidh dan Bunyai Chudzaifah al-Hafidhah yang merupakan orang tua Ustadz Dr. Mohammad Nasih, M.Si., pendiri dan pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO. Bahkan keduanya bisa dikatakan berdampaing, karena berjarak hanya seratusan meter saja. Namun kedua pesantren yang secara sederhana bisa dikatakan berbeda dalam metode pengelolaan ini, sering melakukan aktivitas bersama. (AH)

