Sebagaimana yang kita tahu, shampo adalah sebuah produk yang berguna untuk membersihkan rambut. Secara spesifik, kegunaan shampo antara lain untuk membersihkan kulit kepala dari minyak, debu, dan kotoran yang muncul atau menempel saat beraktivitas. Selain itu, shampo juga dapat mencegah penumpukan sel kulit mati dan ketombe yang ada di kulit kepala. Banyak sekali manfaat dari mengonsumsi shampo bukan?
Perspektif orang-orang tentang shampo bisa dikatakan sangat positif, inovatif, dan useful. Karena seiring berjalannya waktu, para produsen shampo mulai menciptakan sebuah inovasi dan perubahan-perubahan pada resep shampo mereka secara terperinci, sesuai dengan kebutuhan kondisi rambut dan kulit kepala manusia yang tentunya berbeda-beda. Rambut lepek, berketombe, rontok, dan sebagainya, shampo adalah solusi dari permasalahan itu. Sebagaimana yang tersuguh dalam iklan-iklan ciamik mereka.
Melihat banyak sekali advantage dan perkembangan yang dapat manusia peroleh dari mengonsumsi shampo, secara tidak langsung menjadikan shampo sebagai kebutuhan primer kita, sehingga tak heran mengapa hampir di setiap sudut kamar mandi rumah pasti tersedia shampo, baik dalam kemasan botol ataupun plastik, dan dengan fungsi yang berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan konsumen. Seolah-olah shampo bak menjadi sahabat bagi kepala manusia.
Namun, ada suatu kejanggalan yang para produsen shampo sembunyikan dari sepengetahuan konsumen setia mereka, atau bahkan bisa dibilang, shampo adalah produk propaganda para kapitalis kejam?
WHAT?
Sekali lagi, yang khalayak ketahui tentang shampo adalah sebuah produk yang sangat berguna bagi kesehatan dan kebersihan pada kepala, meliputi rambut dan kulit kepala. Pun dengan terobosan-terobosan terhadap produk yang memiliki lebih dari satu varian dan dengan fungsi yang beragam, dengan advertisement yang meyakinkan parah, pada akhirnya dapat menggugah para penonton iklan untuk membeli produk tersebut, dengan harapan akan memperbaiki, merawat, dan memperbagus look dan kondisi rambut kita.
Namun, apakah kita sadar, bahwa ternyata, shampo mengandung banyak sekali dan hampir seluruh komposisi pembentuknya adalah bahan kimia? Bukan hanya itu saja, bahkan bahan kimia yang terkandung pada shampo adalah bahan kimia yang sifatnya cenderung merusak, seperti contoh Propilen glikol yang dapat menyebabkan iritasi kulit dan Paraben yang dapat menyebabkan kanker payudara. Bayangkan jika manusia setiap hari mengonsumsi zat yang demikian, bagaimana jadinya kulit kepala kita?
WHY?
Hal ini dilatarbelakangi oleh iklan yang menggugah, dengan embel-embel rambut bersih dan sehat, para viewers iklan dengan mudah akan tertarik, karena sebagaimana yang kita semua tahu, bahwa dalam beberapa keadaan tertentu model rambut adalah mahkota manusia. Siapa yang tak ingin tampil maksimal dengan gaya rambut yang bagus dan sesuai dengan mode yang trendy?
Sebetulnya, rambut dan kepala kita Tuhan ciptakan dengan sistem organ yang terbilang sempurna, bahkan manusia bisa dibilang tidak butuh shampo untuk menjaga rambut mereka dari beberapa gejala ringan seperti munculnya ketombe dan rambut rontok. Jika kita telusuri lebih dalam, justru penyebab utama dari acapnya ketombe dan rontok muncul adalah karena shampo itu sendiri. Korelasinya sama seperti proses candu, di mana konsumen akan diadiksikan demi keuntungan sepihak.
Di atas kita sudah sedikit mengulas tentang dua bahan kimia yang terkandung pada shampo, namun masih banyak bahan yang belum kita bahas, apa saja?
- Diethanolamine (DEA) Triethanolamine (TEA)
DEA dan TEA adalah dua bahan kimia yang juga menyebabkan iritasi pada kulit. Kedua bahan ini juga bisa merusak keratin, sehingga menyebabkan rambut yang kering dan rapuh.
- Sodium lauril sulfat dan lauret sulfat
Sulfat adalah bahan kimia pada shampo yang paling merusak dan sering ditemukan dalam produk rambut. Di mana sulfat sebenarnya ditemukan dalam sabun cuci mobil dan pembersih mesin. Ada banyak jenis sulfat, tapi ada dua jenis kandungan yang harus kamu waspadai waspadai adalah natrium lauril sulfat dan natrium lauret sulfat.
Di sisi lain, busa shampo yang berlebihan itu tidak baik bagi rambut karena memecah protein yang dibutuhkan rambut. Rambut pun juga kehilangan minyak pelindungnya, akibatnya rambut menjadi kering dan mudah patah.
- Wewangian berbahan kimia
Tak dapat dipungkiri bahwa aroma shampo adalah salah satu faktor yang paling memikat pembeli. Namun demikian, aroma tersebut mengandung wewangian berbahan kimia. Sayangnya aroma harum tersebut dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon, sehingga mengakibatkan rambut rontok. Jadi, aroma shampo yang harus itu bisa menyebabkan kerusakan pada rambut.
HOW?
Johnny Harris, adalah seorang influencer dalam sosial media yang mendukung suatu gerakan bertajuk No Poo Movement, atau gerakan tanpa shampo. Di dalam salah satu video youtube miliknya, ia menyatakan, bahwa ia sudah tidak mengenakan shampo selama lima tahun. Lantas apa dampak yang terjadi pada rambutnya? Menurut Harris, rambutnya lebih bersih, bervolume, normal-normal saja, dan bahkan menyenangkan. Shampo adalah kebohongan, pungkasnya.
Sedikit informasi, No Poo Movement, secara filosofis adalah cara membersihkan rambut tanpa shampo tradisional, dan menakjubkannya, banyak sekali orang-orang yang mengikuti gerakan ini, dan tentu saja mayoritas dari mereka sepakat dan memandang gerakan ini adalah gerakan yang positif. Mengurangi sedikit bahan-bahan kimia terhadap rutinitas harian manusia adalah pilihan yang efektif, pun dengan biaya yang dikeluarkan akan lebih sedikit.
Tetapi janganlah salah menanggapi gerakan No Poo Movement ini sebagai gerakan bermotif jorok dan menjijikkan. Karena berhenti menggunakan shampo, bukan berarti berhenti mencuci dan membersihkan rambut. Hanya saja, produk yang digunakan bukan lagi shampo. Ada banyak alat pengganti shampo, seperti kondisioner, hair mist, dan lain sebagainya.
Manfaat dari No Poo Movement, antara lain adalah; rambut dan kulit kepala lebih sehat dengan menghasilkan jumlah minyak alami yang seimbang, rambut lebih bervolume, rambut bertekstur lebih baik dan lebih sedikit membutuhkan produk penataan rambut, lebih sedikit paparan kimia yang berpotensi merusak rambut, mengurahi limbah kemasan plastik, serta memutus siklus keramas buatan, yang dapat menyebabkan rambut kering, pemakaian pelembab, kemudian keramas lagi untuk menghilangkan bekas pelembab.
Untuk produk-produk yang dapat dijadikan pengganti shampo, bisa berupa minyak kelapa, minyak zaitun, kondisioner, soda kue dengan cuka sari apel, air putih bersih, dan masih banyak lagi produk-produk yang dapat menyubstitusi penggunaan shampo.
Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

