Site icon Baladena.ID

New Normal Pemulih Ekonomi?

Kebijakan new normal pernah menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat dan sekarang menjadi hal yang biasa saja. Istilah ini dimaksudkan untuk menunjukkan kondisi normal yang berbeda dengan masa sebelum pandemi covid-19 menyerang kehidupan manusia.

Pemerintah menggunakan istilah new normal untuk mengarahkan bahkan “memaksa” masyarakat agar berdamai dengan virus yang meresahkan tersebut dan menjalani kehidupan dengan protokol kesehatan sampai vaksin virus ini ditemukan. Entah itu sampai kapan?

Alasan ekonomi menjadi faktor utama penerapan new normal ini. Sebab, kebijakan penanggulanan covid-19 dari tingkat desa hingga sampai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) telah melemahkan ekonomi Indonesia baik supply maupun demand.

Kondisi ini terkonfirmasi melalui data statistik dan juga pernyataan Menteri Keuangan tentang petumbuhan ekonomi kuartal pertama 2020 yang hanya 2,9 % dan merupakan terendah sejak 2001. Bahkan kuartal berikutnya lebih buruk. Para ahli ekonomi hampir semua satu suara menyatakan bahwa kondisi ekonomi kuartal kedua 2020 pada mulai Mei dan Juni  berada pada angka negatif. Data penjualan  bulan tersebut berada pada angka negatif pada hampir seluruh daerah di Indonesia. Daya beli masyarakat mengalami penurunan sangat dratis. Tentu kondisi ini merupakan akibat dari kebijakan pembatasan sosial yang jauh dari maksimal.

Tren ekonomi yang negatif itulah yang menjadi pendorong pemerintah untuk melakukan langkah new normal serta membuka kembali sembilan sektor ekonomi yang meliputi pertambangan, perminyakan, industri, konstruksi, perkebunan, pertanian dan peternakan, perikanan, logistik, dan transportasi barang. Harapannya dengan dibukanya kembali sektor tersebut mampu mendogkrak pertumbuhan ekonomi yang jatuh bebas karena pandemi covid-19.

Masalahnya sekarang adalah langkah pembukaan sembilan sektor ekonomi di masa penetrasi virus yang semakin meningkat mempunyai konsekuensi logis. Yaitu, jika virus mampu diatasi dengan mengurangi mitigasi penularan, maka upaya pembukaan sembilan sektor ekonomi tersebut akan menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi. Namun sebaliknya, jika virus tidak dapat diatasi dengan baik, maka tidak hanya akan memperluas penyebaran virus, tetapi juga akan menimbulkan inflasi ekonomi secara masif. Jika yang terjadi demikian, maka langkah pemulihan ekonomi akan semakin sulit dan membutuhkan waktu relatif lebih lama.

Harus kita akui bahwa sampai sekarang new normal belum berjalan dengan maksimal. Terlebih jumlah orang yang dinyatakan positif covid-19 selalu mengalami peningkatan setiap hari. Dulu tiap harinya bertambah ratusan pasien, tapi sekarang sudah mencapai ribuan.

Jumlah pasien dan korban terus bertambah disebabkan masifnya pergerakan masyarakat setelah diterapkan langkah new normal ini. Pasar mulai penuh kembali, ruang publik, pabrik, dan perkantoran mulai ramai kembali. Jalan pun menunjukkan arus lalu lintas yang mulai memadat. Lebih disayangkan lagi adalah masifnya kegiatan masyarakat tersebut tidak dibarengi dengan kesadaran dalam mematuhi protokol kesehatan. Masih banyak yang tidak memakai masker dan tidak memperhatikan social maupun physical distancing. Tak heran lagi jika sekarang menemukan sekelompok orang nongkrong dengan bebas tanpa ada petugas yang membubarkan seperti dulu saat pertama kali diterapkan pembatasan sosial.

Jika sikap acuh terhadap covid-19 ini terus berlanjut, maka upaya untuk mendongkrak ekonomi dan menurunkan angka penularan hanya menjadi angan belaka. Dengan demikian new normal yang harusnya menjadi solusi malah berubah menjadi titik masalah. Wallahu ‘alam bi al-shawab.

Oleh: Hidayatur Rohmah, Pemerhati Sosial dan Ekonomi

Exit mobile version