Site icon Baladena.ID

Nasib Masa Depan Korban Perceraian

Perceraian terkadang menjadi suatu keadaan yang tidak diharapkan dan sering dihindari oleh setiap pasangan suami istri. Apalagi apabila pasangan tersebut sudah memiliki anak, bercerai akan menjadi pertimbangan yang sangat berat. Namun, terkadang perceraian dalam kondisi tertentu dapat menjadi jalan keluar yang terbaik dalam menyelesaikan masalah antara pasangan suami istri, ketika masalah memang sudah terlalu rumit untuk dipecahkan.

Perceraian akan semakin berat jika di dalamnya terdapat anak dari hasil pernikahannya, sebab pasangan suami istri yang terlibat dalam permasalahan akan memikirkan lebih jauh bagaimana konsekuensi dari perceraian, mereka akan mempertimbangkan kondisi masa depan buah hati.

Suami dan istri yang sudah dewasa ketika bercerai akan cenderung memiliki orientasi untuk menata hidup kembali dengan pasangan barunya dan melupakan kesedihan atau keburukan masa lalunya. Namun, berbeda dengan anak-anak mereka. Perceraian akan menimbulkan dampak yang berkepanjangan, sebab orang tua tidak dapat hadir di kehidupan mereka dan hal itu dapat mempengaruhi psikologi anak-anak mereka. Bahkan, dampak yang terjadi pada anak mungkin saja akan terbawa hingga dewasa. Dampak yang terjadi pada setiap anak bisa berbeda-beda, tergantung dari usia anak tersebut ketika orang Taunya bercerai, hingga kepribadian anak tersebut.

Berdasarkan penelitian tim peneliti dari University of Montreal, Ketika anak-anak menghadapi perceraian orang tua cenderung mengalami gejala-gejala gangguan kesehatan mental jangka pendek, seperti kecemasan, stres, depresi, dan lain-lain. Menurut ketua tim peneliti University of Montreal Jennifer O’Loughlin bahwa jika terus dibiarkan kondisi ini akan menimbulkan dampak buruk, seperti kehilangan kepercayaan diri, penurunan prestasi, dan hal yang paling buruk yaitu anak-anak bisa terjebak dalam pergaulan bebas.
Efek psikologis perceraian pada anak kerap menjadi kekhawatiran orang tua. Sebab, setidaknya ada beberapa dampak negatif yang akan diterima oleh anak pasca perceraian, antara lain:

1. Prestasi Akademik Menurun
Menurut penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Lowa State University menunjukkan bahwa anak yang masih berusia di bawah 18 tahun saat orang tuanya bercerai memiliki kemungkinan meraih gelar sarjana 35% lebih rendah, jika dibandingkan dengan anak yang telah melewati usia 18 tahun saat melalui masa perceraian.
Selain berkurangnya waktu khusus dan bimbingan dari orang tua, perubahan kondisi finansial keluarga setelah perceraian pun menjadi faktor lain yang menjadi hambatan anak dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

2. Mudah Terpengaruh Hal Negatif
Dampak negatif dari perceraian bagi anak juga menyebabkan anak kecil yang beranjak remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif, seperti merokok, minum-minuman alkohol, dan narkotika.
Hal ini pasti disebabkan oleh orang tua yang sudah tidak perhatian lagi. Mereka sibuk dengan masalah rumah tangganya, karena membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan dirinya sendiri, menyebabkan orang tua mengabaikan anak-anaknya.

3. Depresi
Depresi tidak mengenal usia. Bahkan, anak-anak kecil bisa merasakan depresi saat mereka merasa sangat sedih atas dampak negatif perceraian pada anak. Risiko depresi ini lebih tinggi pada anak yang menyaksikan perceraian dan mengerti apa artinya.
Menurut banyak penelitian, perceraian orang tua adalah adalah satu faktor penyebab seseorang memiliki gangguan bipolar. Selain itu, pada balita dan anak-anak prasekolah antara usia 18 bulan dan 6 tahun menunjukkan rasa depresi dengan kembali ke perilaku seperti menempel, mengompol, mengisap jempol, dan amarah.

Itulah beberapa dampak negatif yang akan dirasakan oleh korban perceraian, khususnya seorang anak. Maka, bagi orang tua sebaiknya menghindari perceraian. Karena perceraian adalah keputusan besar yang memerlukan banyak pertimbangan. Selalu bijaksanalah sebelum mengambil tindakan yang permanen.

Saatnya seluruh elemen bangsa bergandeng tangan untuk mencari solusi terbaik agar kasus perceraian bisa diminimalisir. Apabila fenomena ini terus dibiarkan berlarut-larut, bukan tak mungkin Indonesia akan menjadi bangsa yang rapuh karena pilar-pilar utama penyangganya, yakni keluarga dan generasi selanjutnya, hancur akibat perceraian.

Exit mobile version