Site icon Baladena.ID

Mutan dengan Neuroplastisitas

Indonesia adalah bangsa yang memliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah. Namun, miskin akan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, sehingga dapat mengelola SDA dengan baik dan optimal. Seharusnya Indonesia menjadi negara maju dan terkaya di dunia, tapi realitanya hanya menjadi negara berkembang dan miskin dengan IQ penduduk rata-rata 78 sebagaimana data yang diungkap oleh Liputan6.com.

Kecerdasan dalam ilmu kesehatan dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu: faktor genetik sebesar 40 persen, gizi, stimulus, dan lingkungan. Ketika berasal dari genetik yang kurang cerdas, masih bisa diusahakan dari faktor gizi, stimulus, dan lingkungan. Lalu, bagaimana ketika orang tua yang keterbatasan pengetahuan tentang hal itu? Pengganti orang tua adalah guru, maka seorang guru yang berkewajiban mencerdaskan generasi bangsa. Bagaimana seorang guru bisa mengubah anak yang tidak cerdas menjadi cerdas, padahal secara genetik kurang cerdas?

Ketika anak secara genetik kurang cerdas, tidak mendapatkan gizi, stimulus, dan lingkungan yang semestinya, dikarenakan keterbatasan pengetahuan orang tua. Maka, guru masih bisa mengupayakan kecerdasannya dengan neuroplastisitas yang lebih akrab disebut plastisitas otak. Sharon Begley (2007), seorang ilmuwan sains membuktikan bahwa sel saraf otak memiliki kemampuan untuk melahirkan sel saraf baru, yang kemudian dikenal dengan istilah neurogenesis. Selanjutnya Begley juga membuktikan bahwa sel saraf memiliki kemampuan adaptasi dan perubahan struktur berdasarkan pengalaman yang diterima dari lingkungan, dikenal dengan istilah neuroplastisitas sel saraf.

Pada usia tiga tahun otak berada pada fase yang paling krusial, karaena pada fase ini otak menghasilkan satu juta koneksi saraf baru setiap detik. otak mengalami growth spurt dan fokus pada keterampilan fisik untuk mengembangkaan keterampilan hidup praktis seperti berbicara, berjalan dan empati. Pembentukan saraf baru terus terjadi (brain circuit) sampai balita mampu mengembangkan fondasi perilaku yang kuat untuk setiap keterampilan yang dipelajari. Pengembangan kegagalan otak pada fase ini terutama dalam aspek bahasa, menyebabkan kemunduran saat sekolah dan kehidupan di kemudian hari.

Ilmuwan Universitas Boston menyatakan, menggunakan teknologi untuk menenangkan dan mengalihkan perhatian anak berusia dua tahun, dapat menghambat pengembangan mekanisme regulasi internal. Lingkungan yang penuh kasih sayang atau perhatian, akan memicu pelepasan hormon oksitosin pada anak yang memicu rasa percaya diri, serta perkembangan sosial anak dengan orang tua dan teman bermain.

Remaja merupakan masa transisi otak menuju otak dewasa yang matang. Pada fase ini penataan kembali sirkuit saraf secara intens, dengan menggantikan sirkuit saraf yang sudah rusak. Remaja biasanya bersikap labil dan melakukan sesuatu yang masuk akal, karena pada fase ini korteks prefrontal yang berperan atas fungsi pengambilan keputusan lebih tinggi dan pengendalian impuls secara intens.

Perkembangan otak paling ekstrem terjadi sebelum kisaran usia 20 sampai 25 tahun. Pada grafik perkembangan organ dan jaringan tubuh pada bagian otak menunjukkan usia 15 tahun hampir mencapai perkembangan optimal 100 persen. Setelah mencapai optimal, perkembangan relatif stabil. Usia-usia remaja menjadi puncak perkembangan organ dan jaringan tubuh. Penelitian menunjukkan aktivitas hormonal sangat berperan pada fase ini, jika secara signifikan dan berlangsung terus menerus bisa merubah struktur fisik otak, baik sifatnya sementara, maupun permanen. Perubahan fisik dapat mengusik keseimbangan hormonal otak.

Penelitian Sweeney (2009) menemukan bahwa sekitar lima persen volume otak menyusut setelah usia 40 tahun dan semakin menyusut seiring bertambahnya usia. Cerebral cortex juga menyusut sebesar 30 persen. Sel saraf yang memproduksi hormon dopamin dan serotonin juga menyusut sebanyak 30-40 persen, korelasinya dengan kemampuan pengambilan keputusan, kreativitas, penalaran, dan ingatan. Penelitian yang dilakukan di Universitas Harvard menunjukkan gaya hidup yang berkaitan dengan konsumsi gizi yang baik, olahraga teratur, stimulasi kognitif, simbiosis mutualisme, dan aktivitas positif lainnya, dapat membantu meningkatkan ketangkasan otak, serta mencegah penurunan fungsi kognitif.

Beberapa penelitian menunjukkan penurunan kognitif yang jauh lebih rendah pada negara-negara Mediterania yang mengonsumsi makanan sehat dari buah, kacang-kacangan, sayuran, biji-bijian, minyak dan ikan segar yang dapat membantu menjaga otak tetap bugar di hari tua. Orang awam pada umumnya makan hanya mengikuti selera keinginan dan yang terpenting mengenyangkan. Tidak pernah terbesit dalam pikiran untuk mengonsumsi makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tapi juga mengoptimalkan fungsi organ dan jaringan tubuh, termasuk di dalamnya adalah otak, sekitar 25 sampai 30 persen otak menyerap nutrisi dari total makanan yang kita makan.

Mengkontruksi manusia unggul hakikatnya sama dengan mengkontruksi otak manusia, otak sebagai pusat kontrol seluruh aktivitas manusia sepanjang hidupnya. Salah satu kekuatan yang dimiliki otak adalah kemampuan untuk berubah yakni neuroplastisitas. Otak mampu beradaptasi dengan setiap hal baru, baik melalui imajinasi yang dapat merubah secara struktur, dan dengan latihan melakukan berbagai kebiasaan-kebiasaan baru, kinerja otak akan terupgride secara maksimal. Neuroplastisitas membutuhkan waktu, tidak terjadi secara instan, butuh kesabaran, daya tahan, komitmen, dan konsistensi.

Tumbuh kembang otak menurun ketika memasuki usia 20 tahun, untuk menjaga pertumbuhan dan fleksibelitas otak pada usia 20 tahun ke atas dengan memastikan otak mendapatkan rangsangan proaktif, membiasakan diri melakukan hobi baru atau mempraktekkan perilaku baru secara terus menerus, agar sirkuit saraf yang baru terbentuk jalurnya akan lebih kuat. Kepastian tentang kapan neuroplastisitas berhenti para ilmuwan belum menemukan kepastiannya hingga saat ini. Otak ibarat bunga, siramilah dengan kebiasaan baru yang posistif, agar kelak menjadi taman perilaku yang selalu menyajikan pemandangan indah, bagi setiap mata yang memandangnya.

Reference

Suadu, Fikri. 2018. Manusia Unggul Neurosains dan Al-Qur’an. Jakarta: PT. Penjuru Ilmu Sejati.

 

Oleh: Faizatul Kamilah, Disciple Angkatan 2021 Monashmuda Institute Semarang, Mahasiswa Program Studi Gizi Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang.

Exit mobile version