“Selamat Tahun Baru Islam 1444 H.” Ucapan selamat demikian sering kali kita lihat di hari-hari ini dan beberapa hari ke depan. Baik itu dalam media sosial, media cetak, maupun poster-poster umum yang tersebar secara luas. Tak jarang pula, ucapan tersebut di iringi dengan doa dan harapan oleh masing-masing kelompok ataupun individu yang mengucapkannya. Lantas, sebenarnya hakekat apakah yang terkandung dalam beribu bahkan berjuta ucapan tersebut? Apakah hanya sebatas penanda bahwa islam telah memasuki tahun baru? Atau doa tersebut hanya sebagai formalitas ucapan tanpa kesungguhan harapan? Atau bahkan hanya sebagai hiasan media agar terlihat ada fungsinya? Mari kita belajar mendalami makna 1 Muharram yang sesungguhnya.
Makna Tahun Baru Islam 1 Muharram berkaitan erat dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Pada saat itu, hijrah dinilai sebagai langkah yang paling strategis dalam misi dakwah Nabi. Karena pada saat itu, kondisi ummat muslim sungguh memprihatinkan jika harus terus menerus bertahan di Makkah.
Hijrah memiliki arti perjuangan meninggalkan keburukan menuju kea rah yang lebih baik. Artinya, saat itu ummat islam sedang mengalami tekanan dan siksaan secara bertubi-tubi dari Kaum Kafir Quraisy. Oleh karena itu, Nabi memiliki siasat untuk hijrah ke Madinah agar kondisi ummat semakin membaik tanpa adanya siksaan dan hinaan kembali.
Bagitu halnya kita sebagai ummat islam saat ini. Meskipun kita tidak pernah merasakan hinaan dan cacian dari kaum kafir yang mengakibatkan diri kita semakin buruk, namun sebenarnya kita yang telah menciptakan kerusakan dan keburukan itu di dalam diri kita sendiri. Dalam berkehidupan saat ini, sudah pasti kita kerap melakukan tindakan-tindakan ataupun perilaku yang melanggar norma baik dalam sosial maupaun agama. Hal-hal buruk tersebutlah yang menjadikan jiwa kita semakin kotor dan bahkan sulit untuk menerima kebenaran. Segala nasehat yang dikeluarkan oleh teman-teman, sahabat, atau bahkan keluarga kita, hanyalah sebagai angin lalu yang tak perlu diindahkan.
Allah SWT telah menegaskan di dalam QS. An-Nisa’: 79
مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا
Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.(Q.S. An-Nisa’ : 79).
Dalam ayat tersebut, Allah telah menegaskan bahwa segala bentuk keburukan ataupaun kerugian yang menimpa diri kita, itu adalah akaibat perbuatan hati, mulut ataupun tangan kita sendiri. Sedangkan segala bentuk nikmat dan rezeki yang sekarang berlimpah dalam diri, semata-mata sebagai bentuk kasih sayang Allah yang tak terhingga kepada kita. Jadi, saat kita merasa raga sering terkena bencana, fikiran kita tidak pernah merasa tenang, dan hati kita selalu merasa gelisah, itu berarti memang diri kita yang sedang bermasalah.
Marilah sejenak meraba diri kita masing-masing, terutama di awal bulan dalam tahun baru islam ini. Kita jadikan tahun baru inii sebagai perenungan hebat dalam benak kita. Menganai apa saja dosa dan keburukan yang telah kita kerjakan, baik itu kepada teman, sahabat, keluarga, bahkan orang-orang yang menyayangi kita sekalipun. Sudah berapa ribu meter tinggi dosa kita jika dosa tersebut kita tumpuk ibarat gunung. Sepertinya gunung tertinggi di duniapun tak akan sanggup menandingi tingginya gunung dosa kita. Astaghfirullah…
Jika kita bandingkan dengan amal shalih kita yang ‘katanya’ ikhlas, namun masih sering diiringi dengan sifat ingin dihargai orang lain, ingin dipandang unggul orang lain, ingin dipandang baik orang lain dan beribu ingin yang lain, masih sanggupkah kita membayangkan apa yang terjadi pada diri kita di Yaumil Hisab kelak?
Oleh karena itu kawan, marilah kita jadikan Tahun Baru Hijriyyah ini sebagai refleksi, sebagai muhasabah diri atas beribu dosa dan kerusakan yang menimbulkan kerugian bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Segera memohon ampun, menyesali segala keburukan, dan berkomitmen pada diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik adalah hal terbijak yang harus kita jalankan. Tutup segala coretan kelam. Kunci dan buang segala rasa dendam. Mari buka beribu lembar keikhlasan dan kebersihan dari hati terdalam. Semoga Allah berkenan menerima kita kembali sebagai ummat yang bertaqwa dan selalu berjuang. Amiinn…

