Oleh: Dr. Achmad Maimun, M.Ag, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Dakwah IAIN Salatiga
Bulan Muharram di dalam tradisi penanggalan Jawa disebut dengan bulan Sura. Bisa jadi nama itu diambil dari ’Asyura’, atau hari kesepuluh di dalam bulan Muharram tersebut. Telah disinggung sebelumnya bahwa bulan-bulan Haram di dalam Islam merupakan bulan-bulan pilihan yang ada keutamaan dibanding bulan-bulan lainnya. Berbeda dengan itu, adalah gambaran yang berkenaan dengan bulan Sura khususnya di sebagian kalangan masyarakat Jawa. Ada semacam keyakinan di sebagian kalangan masyarakat Jawa bahwa bulan Sura ini bulan yang banyak wewaler-nya.
Wewaler itu semacam larangan yang sifatnya mistis yang tidak boleh dilanggar, jika ada yang nekad melanggar akibatnya ia akan menemui ketidakberuntungan, kena petaka atau musibah misalnya. Di lain pihak, ada pula umat Islam yang memandang bahwa di bulan Sura ini cucu Rasulullah yang bernama Husein, gugur di medan perang. Karena itu layak jika umat Islam berkabung sehingga tidak pantas menyelenggarakan pesta di hari berkabung semacam itu.
Bukti adanya keyakinan bahwa bulan Sura itu membawa sial atau petaka di sebagian masyarakat Jawa, bisa dilihat di media-media online. Salah satunya, misalnya IDN Times. Di laman tersebut dinyatakan: Tak hanya membawa malapetaka, menikah di bulan Sura juga bisa membawa sial bagi kedua pengantin atau orang tua pengantin. Sial tersebut diartikan sama dengan kabar meninggal atau tidak suksesnya hajatan yang digelar.
Oleh karena pada bulan Sura, sebagian masyarakat (Islam) Jawa tidak berani menyelenggarakan acara hajatan, pesta pernikahan misalnya. Pesta pernikahan di bulan Sura itu pamali, melanggar wewaler. Secara sosiologis, fenomena ini sebenarnya malah menjadikan hidup lebih ekonomis dan efisien, karena ada waktu libur untuk tidak melakukan pirukunan bagi masyarakat. Karena nyaris hampir sebulan lamanya tidak ada udangan untuk datang di acara pesta pernikahan, jadi agak-agak ngirit sedikit gitu lah kira-kira.
Nah, bagaimana perspektif aqidah Islam melihat fenomena bulan Sura yang di dalamnya banyak wewaler ini. Islam memposisikan semua hari itu baik, tidak ada hari yang jelek. Yang dijelaskan dalam Islam adalah bahwa ada waktu-waktu yang lebih utama dari waktu-waktu lainnya, ada hari yang lebih utama dibanding hari-hari lainnya, ada malam yang lebih utama dibanding malam-malam lainnya, ada bulan yang lebih utama dari bulan-bulan lainnya. Tidak ada waktu, hari atau bulan yang jelek yang membawa sial atau petaka, menurut Islam.
Di dalam Q.S al-Jatsiyah [45]: 24 dijelaskan bahwa meyakini ada waktu yang membawa petaka atau sial, itu hanyalah didasarkan pada perkiraan belaka. Atau hanya kira-kira saja yang tidak ada hujjahnya. Berikut ini kutipan ayatnya.
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ
Dan mereka berkata: ”Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, dimana kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, tidak lain mereka hanyalah menduga-duga saja.
Berkenaan dengan ayat tersebut, di dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan tentang kebiasaan masyarakat Jahiliyah dahulu yang jika tertimpa petaka mereka mencela waktu-masa. Jadi ada waktu yang membawa kesialan, begitulah kira-kira. Berikut ini kutipannya.
عن أبي هريرة، رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كان أهل الجاهلية يقولون: إنما يهلكنا الليل والنهار، وهو الذي يهلكنا، يميتنا ويحيينا، فقال الله في كتابه: وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ قال: ويسبون الدهر، فقال الله عز وجل: يؤذيني ابن آدم، يسب الدهر وأنا الدهر، بيدي الأمر أقلب الليل والنهار.
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. Beliau bersabda: “Orang-orang Jahiliyah mengatakan, yang membinasakan kita itu hanyalah waktu malam dan siang. Itulah yang membinasakan kita, yang mematikan dan dan menghidupkan kita. Lalu Allah berfirman di dalam kitab-Nya: wa qaaluu maa hiya illa hayaatuna ad-dunya namuutu wanahyaa wa maa nuhlikunaa illa ad-dahr. Beliau bersabda: “Mereka mencela waktu-masa, maka Allah berfirman: Manusia (Anak Adam) itu pada menyakiti Aku, ia mencela waktu, padahal Aku ini adalah waktu. Ada di tangankulah segala urusan, Aku yang membolak-balikkan siang dan malam.
قال الشافعي وأبو عبيدة وغيرهما من الأئمة في تفسير قوله، عليه الصلاة والسلام: لا تسبوا الدهر فإن الله هو الدهر: كانت العرب في جاهليتها إذا أصابهم شدة أو بلاء أو نكبة، قالوا: ياخيبة الدهر. فيسندون تلك الأفعال إلى الدهر ويسبونه، وإنما فاعلها هو الله [عز وجل] فكأنهم إنما سبوا الله عز وجل؛ لأنه فاعل ذلك في الحقيقة، فلهذا نُهي عن سب الدهر بهذا الاعتبار لأن الله هو الدهر الذي يعنونه، ويسندون إليه تلك الأفعال هذا أحسن ما قيل في تفسيره، وهو المراد، والله أعلم
Imam Syafi’i dan Abu Ubaidah dan para ulama lainnya menjelaskan berkenaan dengan sabda Rasulullah yang menjelaskan bahwa: Jangalah kalian mencela masa, karena Allah itu adalah masa (yang menciptakan dan membolak-balikkan masa). Ada kebiasaan pada orang Arab Jahiliyah, ketika mereka tertimpa masalah atau kesulitan yang berat, musibah atau bencana, mereka mengatakan: ini adalah waktu sial. Mereka menyandarkan masalah, kesulitan, musibah tersebut kepada waktu-masa lalu mereka mencela waktu tersebut. Padahal yang menentukan hal tersebut hakikatnya adalah Allah. Dengan begitu maka seakan mereka itu mencela Allah itu sendiri. Karena itulah kemudian dilarang mencela waktu dengan ungkapan-ungkapan semacam itu. Karena Allah adalah masa, dan mereka mencela-Nya, dan menyandarkan perbuatan mereka pada masa tersebut.
Demikian Hikmah Jum’at kali ini, semoga Allah memberikan manfaat dengannya. Billaahi fii sabiili al-haq.

