Site icon Baladena.ID

Muharram: Bulan Mulia; Bukan Bulan yang Serem (Bagian I)

Istimewa

Oleh: Dr. Achmad Maimun, M.Ag, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Dakwah IAIN Salatiga

Perjalanan kehidupan dunia ditandai dengan perjalanan dan pergantian waktu. Dari detik ke menit, dari menit ke jam dan jam ke hari dari hari ke pekan hingga seterusnya. Selain perjalanan sebagai proses yang terus menerus bersambung, hingga akhir zaman kehidupan didunia ini juga ditandai dengan pergantian atau perputaran waktu. Siang dan malam, silih berganti. Banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan waktu, termasuk siang dan malam

Malam hari oleh Allah dijelaskan sebagai libaasa yang artinya pakaian yakni malam gelap gulita yang menutupi manusia dan alam sekitarnya. Sedangkan siang hari adalah waktu untuk mencari penghidupan sebagaimana dijelaskan dalam QS. an-Naba’[78]:10-11.

وجعلنا الليل لباسا وجعلنا النهارا معاشا

Dan telah kami ciptakan malam hari itu sebagai pakaian11. Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan

Pada ayat yang lain, malam juga dijelaskan sebagai waktu Allah mewafatkan atau mematikan manusia, artinya waktu dimana Allah menjadikannya waktu untuk tidur, kemudian manusia dibangkitkan lagi di siang hari dalam rangka menghabiskan waktu kematian yang telah ditentukan. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam dalam QS. Al-An’am [06]: 60.

وهو الذي يتوفاكم بالليل ويعلم ما جرحتم بالنهار ثم يبعثكم فيه ليقضى أجل مسمى ثم اليه مرجعكم ثم ينبئكم بما كنتم تعملون

Dialah yang telah menidurkan (mewafatkan) kalian di malam hari dan mengetahui apa-apa yang telah kalian lakukan di siang hari. Kemudian Dia yang membangunkan (membangkitkan) kalian pada siang hari untuk disempurnakan umur yang telah ditetapkan. Kemudian kepada-Nya tempat kamu kembali, lalu Dia memberi tahu kepadamu tentang apa yang telah kalian lakukan.

Berkenaan dengan ayat tersebut Muhammad Rasyid Ridha, dalam Tafsir al-Manaar Juz 7, menjelaskan bahwa di dalam bahasa Arab wafat memiliki dua arti. Pertama mati atau meninggal karena nyawanya sudah diambil oleh Allah secara sempurna. Kedua artinya, tidur. Mengapa tidur dimajazkan dengan mati? Karena adanya isytirak antara mati dan tidur. Seperti hilangnya fungsi-fungsi inderawi dan juga psikisnya. Kalau tidak percaya pada adanya persamaan antara yang mati dan tidur ini, bisa diuji coba. Misalnya, coba tawarkan uang satu milyar kepada orang mati dan orang tidur, kan semuanya pada tidak merespon tawaran uang tersebut. Atau coba acungkan kepalan tangan kepada orang mati dan tidur, kan keduanya tidak akan marah.

Malam dan siang sebagaimana penjelasan ayat di atas pada hakikatnya hanyalah waktu manusia untuk menghabiskan kontraknya, hingga batas waktu yang telah ditetapkan oleh Allah. Di dalam menghabiskan kontraknya ini ada yang mengisinya dengan hal-hal baik dan ada yang berbuat dusta dan mengikuti hawa nafsunya. Ada yang menumpuk harta dengan menguasai sebanyak-banyaknya tanah negara (misalnya), ada yang korupsi, ada yang sibuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan politik dengan money politic dan sebagainya. Hal itu dilakukan bahkan hingga menjelang hari akhir sekalipun. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam QS. Al-Qamar [54]: 1-3

Kemudian, perputaran malam dan siang hari ini ditandai dengan pergantian munculnya matahari dan rembulan secara silih berganti, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam QS. Yaasin [36]: 40. Hari berganti hari, pekan berganti pekan bulan berganti bulan dan sampailah pada hitungan tahun. Allah menjelaskan bahwa di dalam satu tahun, terdapat 12 bulan, 4 di antaranya adalah bulan haram seperti dijelaskan dalam QS at-Taubah [09]: 34. Berikut ini kutipan ayatnya.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah 12 bulan (sebagaimana) dalam ketetapan (kitab) Allah pada waktu ketika Dia menitahkan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus dan janganlah kalian mendhalimi diri kalian pada bulan haram tersebut.

Berikut ini adalah nama-nama bulan dimaksud:

المحرم وصفر وربيع الأول وشهر ربيع الثاني وجمادى الأولى وجمادى الآخرة ورجب وشعبان وشهر رمضان وشوال وذو القعدة وذو الحجة

Muharram, Shafar, Rabiul Awwal, Rabiutstsaniy, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawwal, Dzul Qa’dah dan Dzulhijjah.

Adapun 4 bulan Haram tersebut, Rasulullah menjelaskannya sebagai berikut.

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهراً منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب، شهر مُضر، الذي بين جمادى وشعبان

Dari Nabi saw. Sesungguhnya zaman itu dibuat berputar seperi keadaan hari di mana Allah menitahkan langit dan bumi. Satu tahun itu ada 12 bulan 4 diantaranua adalah bulan haram. Yang dua berurutan yakni Dzul Qa’dah dan Dzulhijjah, Muharram dan Rajab bulan yang sulit/darurat yakni antara dua bulan Jumadil dan Sya’ban.

Nah, sekarang berkenaan dengan alasan mengapa 4 bulan tersebut dilabeli sebagai bulan Haram, para ulama berselisih paham. Berikut kutipannya.

اختلفوا لم سميت هذه الأشهر الأربعة حرما ؟ فقيل: لعظم حرمتها و حرمة الذنب فيها، قال علي بن أبي طلحة عن ابن عباس: اختص الله أربعة أشهر جعلهن حرما و عظم حرماتهن و جعل الذنب فيهن أعظم و جعل العمل الصالح و الأجر أعظم. وقال كعب: اختار الله الزمان فأحبه إلى الله الأشهر الحرم و قد روي مرفوعا و لا يصح رفعه وقد قيل: في قوله تعالى: ( فلا تظلموا فيهن أنفسكم ) أن المراد في الأشهر الحرم، و قيل : بل في جميع شهور السنة، وقيل: إنما سميت حرما لتحريم القتال فيها و كان ذلك معروفا في الجاهلية، وقيل: إنه كان من عهد إبراهيم عليه السلام

Ulama berselisih pendapat tentang mengapa 4 bulan tersebut dinamakan bulan Haram. Di antaranya, karena agungnya kemulian bulan-bulan tersebut dan juga karena disangatkannya larangan berbuat dosa pada bulan-bulan tersebut. Ali bin Abi Thalhah dari Ibn Abbas berkata: Allah menspesialkan 4 bulan tersebut dengan sebutan bulan Haram, juga mengagungkan kemuliaanya, dan menjadikan lebih berat bobot dosa yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut, dan menjadikan lebih berat bobot pahala amal pada bulan-bulan tersebut. Sementara itu Ka’ab berkata: Allah telah memilih waktu dan di antara yang paling disukainya adalah bulan Haram. …Selanjutnya (bulan yang 4) itu disebut bulan Haram karena adanya larangan berperang di dalamnya, dan hal ini telah dikenal sejak masa Jahiliyah. Sementara itu ada pula yang mengatakan hal itu telah ada sejak masa Nabi Ibrahim as.

Demikian Hikmah Jum’at kali ini, semoga Allah memberikan manfaat dengannya. Billaahi fii sabiili al-haq.

Exit mobile version