“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat (wasathan) yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. ….” Al-Baqoroh:143.

Beberapa pekan terakhir ini, moderasi beragama sering dijadikan sebagai bahan diskusi di berbagai kesempatan. Tema moderasi beragama masih menjadi tema yang menarik dibahas karena sesuai dengan kondisi saat ini, yaitu sedang marak-maraknya sindrom radikalisme dan lainnya. Ayat yang artinya penulis tulis di awal artikel ini sering dijadikan sebagai acuan dalam membahas moderasi beragama, yaitu QS Al-Baqoroh ayat 143.

Dari sekian banyak kalangan yang menggaung-gaungkan sikap moderat, mari kita tinjau kembali, sudah betulkah kita sebagai orang Islam memiliki sikap moderat terhadap agama? Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan moderasi beragama, sampai-sampai banyak yang mengunggulkannya, dan bahkan dijadikan sebagai mata kuliah di perkuliahan. Siapa yang pertama kali mempelopori adanya sikap moderasi? Sikap moderasi beragama yang bagaimanakah yang benar?.

Sebelum jauh memahami mengenai seluk beluk moderasi beragama, kiranya kita perlu mengetahui terlebih dahulu pengertian moderasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menurut kamus ini, yang dimaksud dengan moderasi adalah pengurangan kekerasan dan penghindaran keekstreman. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa diharapkan setelah bersikap moderasi kekerasan akan berkurang dan tidak ada lagi sifat ekstrem dalam beragama.

Pada website muisumut.com, disebutkan bahwa moderasi beragama adalah tentang cara pandang seseorang dalam beragama secara moderat., yakni tidak ekstrem kanan tidak ekstrem kiri dan mengamalkan, memahami ajaran agama dengan tidak ekstrem juga. Pencetus moderasi beragama, yaitu Lukman Hakim Saifuddin, mengatakan bahwa moderasi beragama adalah sebuah jalan tengah dalam keberagaman agama di Indonesia. Ia adalah warisan budaya Nusantara yang berjalan seiring dan antara agama dan kearifan local.

Baca Juga  Buku: Sahabat Mahasiswa atau Musuh Mahasiswa?

Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Indonesia periode 2014 – 2019, selama menjabat, beliau sering menggaungkan dan mengkampanyekan moderasi beragama dalam berbagai kesempatan dan program Kemenag yang diadakannya. Antara lain pada aspek kepenyuluhan, kurikulum pendidik, bimbingan manasik haji, dan lain-lain. Bapak Lukman yang biasa dipanggil LHS juga menginisiasi terbitnya buku Moderasi Beragama. Karena itulah, LHS dianugerahi sebagai pencetus Moderasi Beragama oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2019 lalu.

Kembali pada penjelasan Moderasi menurut Alqur’an surat Al-Baqarah ayat 143. Moderasi dalam Al-Qur’an disebut dengan wasathan. Wasathan memiliki arti di antara, dipertengahan, dan medium. Ummatan wasathan berarti umat pertengahan atau umat yang moderat, maksudnya adalah tidak berlebihan, tapi harus seimbang antara hablun min Allah dan hablun min an –nas. Jangan sampai seseorang hidup hanya condong ke hablun min Allah saja atau hablun min an-nas saja. Karena kita hidup di dunia yang berhubungan dengan manusia dan memiliki tujuan ke akhirat yang berhubungan dengan Allah.

Ummatan wasathan dalam Tafsir jalalain diartikan sebagai khiyaran ‘uduulan (baik dan adil). Dalam Tafsir Kemenag diartikan sebagai umat yang mendapat petunjuk. Dalam tafsir Muyassar diartikan sebagai umat terbaik dan terpilih. Dalam Tafsir Ibnu Katsir diartikan sebagai pilihan yang terbaik. Semua tafsiran yang penulis sebutkan memberi kesimpulan bahwa arti kata wasathan memang sangatlah luas dan beragam, tidak hanya berpatok pada satu makna.

Jika diserap ke dalam bahasa Indonesia, kata wasathan menghasilkan kata wasit yang bertugas menjadi penengah dalam suatu pertandingan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wasit adalah penengah, perantara, penentu, pemimpin, pemisah dan pelerai. Seorang wasit harus netral. Tidak berat sebelah ke kanan maupun kiri. Di antara beberapa tugas wasit, menurut hemat penulis cocok dikaitkan dengan moderasi adalah menjaga dan menjalankan aturan permainan (wasit tidak boleh menjadi orang yang melanggar peraturan. Harus paham mana yang baik dan mana yang tidak baik), berhak memberikan peringatan kepada pemain jika bersalah (ini termasuk yang paling penting. Wasit harus punya kekuasaan untuk menegur pihak yang bersalah. Begitu pun orang muslim, harus memiliki kekuasaan dahulu supaya tegurannya didengarkan), memutuskan perselisihan atau gangguan (wasit harus bias menjadi penengah diantara kedua pihak yang berselisih. Begitu pun orang muslim, harus bias membawa kedamaian terkhusus di lingkungan masing-masing. Jika ada yang berselisih, harus bias menjadi pelerai diantara mereka sekaligus membantu mencarikan jalan keluar dari apa yang ,mereka perselisihkan).

Baca Juga  Dr. Siti Fadhilah, Virus, dan WHO

Dari seluruh makna kata moderasi, ternyata tersimpan misi besar yang harus dicapai umat Islam dalam menjalankannya. Jika ingin bisa mempraktekkannya, kita harus menjadi orang yang omongannya didengar. Untuk bias menjadi seperti itu, harus memiliki kekuasaan. Dan untuk bias menjadi orang yang berkuasa, harus memiliki banyak harta. Singkatnya, umat Islam haruslah menjadi umat yang kaya. Karena tidak ada perintah baik dalam Al-Qur’an maupun hadis yang memerintahkan kita untuk menjadi orang miskin

 

Oleh: Almas Fairuza Salsabila, Mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora
UIN Walisongo Semarang.

KPK Tangkap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo

Previous article

Allah Telah Menciptakan Manusia dan Memeliharanya, Mengapa Ada yang Dimasukkan ke dalam Neraka?

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan