Site icon Baladena.ID

Minoritas dan Idealitas: Salahkah?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Minoritas diartikan sebagai keadaan suatu kelompok sosial yang jumlahnya jauh lebih kecil dibanding golongan lain dalam suatu masyarakat tertentu. Populasi suatu kelompok dikatakan minoritas disebabkan oleh etnis, ras, agama, maupun disebabkan oleh idealitas yang seharusnya dimiliki oleh seseorang maupun suatu kelompok sehingga karena idealitas yang senantiasa terjaga itulah yang menjadikan mereka terasingkan di tengah masyarakat yang standar hidupnya tidak sesuai dengan idealitas. Misalnya pemuka agama yang idealnya menyampaikan kebaikan meskipun itu pahit kulil haqqa walau kaana murran sampaikanlah kebaikan walaupun itu pahit, artinya mau tidak mau, suka atau tidak mereka harus menyampaikan apa yang seharusnya mereka sampaikan.

            Menjadi kelompok yang minoritas karena menjaga idealitas bukanlah sesuatu yang baru, realitas ini telah ada bahkan sejak zaman kepemimpinan Yohanes Paulus II misalnya, yang memutuskan hukuman mati kepada Galileo Galilei karena temuannya yang berpihak pada Copernicus tentang Bumi mengitari Matahari yang mana temuan ini bertentangan dengan keyakinan gereja katholik yang meyakini bahwa bumi sebagai pusat alam semesta, alhasil Galilei ditangkap untuk menjalani inkuisi, yaitu sistem yang dibuat oleh Vatikan pada tahun 1542 untuk menegakkan hukum gereja. Sementara bagi pemuka agama yang senantiasa menjaga idealitas dalam dakwah keagamaan. Dari cerita ini maka dapat disimpulkan bahwa pertentangan bahkan antara ilmu pengetahuan dengan agama bukanlah hal tabu sejak dulu.  Lantas bagaimana dengan zaman sekarang, apakah keadaan minoritas sudah tidak relevan lagi apabila dibawa ke konteks sekarang. Jawabannya tentu saja masih, selama perbedaan pendapat masih ada maka kubu antara mayoritas dan minoritas menjadi aktualitas yang tidak mungkin terelakkan.

            Sebenarnya aktualitas tersebut tidak perlu dijadikan masalah selama dua kubu antara mayotitas dan minoritas ini senantiasa menghargai satu sama lain, karena awal mula terjadi konflik tidak lain karena munculnya sikap saling egois dan merasa diri paling baik daripada yang lain, namun menjadi ekspektasi yang disayangkan, karena nampaknya sesuatu yang menjadi hal yang seharusnya ini merupakan khayalan saja. Realitasnya sekarang semakin sulit menemukan orang yang mampu bersikap legowo dalam menyikapi perbedaan entah perbedaan yang mengena dalam hal ras, agama, suku, maupun warna kulit bahkan perbedaan macam ini rentan menimbulkan kubu mayoritas minoritas sehingga dapat mengakibatkan terjadinya tindakan rasisme khususnya bagi mereka yang hidup di negara Barat.

Kembali ke persoalan antara minoritas dengan idealitas. Menjadi kelompok minoritas tidak selamanya disebabkan oleh perbedaan fisik, agama, maupun suku bangsa seperti penjelasan di atas. Misalnya begini, walaupun seseorang memiliki kesamaan fisik, agama, dan suku dengan masyarakat disekitarnya namun berbeda soal pemikiran atau gampangannya ia adalah orang yang mampu memainkan pikiran sesuai dengan idealitas yang ada dalam artian apa yang menjadi pola pikirnya itu ternyata bertentangan dengan pola pikir orang – orang di sekitarnya maka kemungkinan besar ia akan menjadi orang minoritas.

Dengan keadaan demikian apakah ia diharuskan untuk mengikuti pola pikir orang – orang kebanyakan namun tidak sesuai idealitas? Sudah pasti tidak, menjadi orang minoritas memang tidak enak, sebab mau tidak mau seseorang atau sekelompok orang pasti akan merasakan keterasingan, keterpojokan, bahkan kesenjangan dan sebagai manusia sosial tentu kita tidak sungkan mengatakan bahwa perlakuan tersebut adalah sesuatu yang tidak enak. Memangnya sejak dulu sampai sekarang manusia mana yang tidak haus dengan penghargaan orang lain? Dan ketika seseorang menjadi orang minoritas bakal sulit untuk mendapatkan penghargaan orang lain.

Termasuk politisi kala menjalankan tugas sesuai idealitas yang seharusnya sudah pasti akan terasingkan dari kawan- kawan sejawat yang seprofesi dengannya karena dianggap aneh dan tidak sesuai sama orang kebanyakan. Sementara bagi pemuka agama dengan idealitas kuat ia juga akan terminoritaskan oleh umat, dan inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi pemuka agama yang menjadikan uang sebagai orientasi utama dalam berdakwah, karena ketika ia ditinggalkan oleh umat maka tak ada lagi masukan amplop yang menghampiri.

Sampai sini dapat ditarik kesimpulan bahwa menjadi minoritas karena mempertahankan idealitas bukanlah sesuatu yang amat memprihatinkan selama kita memiliki keberdayaan diri dalam hal finansial maupun intelektual. Sebab orang yang menomorduakan idealitas bisa jadi berasal dari mereka yang mempunyai rasa takut kehilangan pengikut dan kehilangan pendapatan alias mereka terlalu menggantungkan diri pada orang lain sehingga idealitaslah yang dikorbankan karena tidak mau dianggap merugikan atau bertentangan dengan orang banyak.

Wallaahu A’lam Bishawab

Exit mobile version