Site icon Baladena.ID

Minor

Langit tampak begitu cerah di pagi yang indah ini. Mentari tampak sumringah di tengah kesibukan manusia di bumi. Semuanya tampak begitu indah. Terkecuali seorag gadis yang sedang berjalan dengan wajah lesu di koridor sebuah sekolah seni di negaranya. Gadis itu sering dianggap aneh oleh teman-teman sekelasnya. Segala sesuatu yang dilakukannya sangat berbeda. Mulai dari cara berjalannya, cara berpakaiannya, bahkan selera musiknya. Ia amat menyukai lagu-lagu bernada minor.

Namanya Kim Na Yeon. Nama yang seharusnya memiliki arti yang sangat indah. Na Yeon berarti takdir yang indah. Nama yang amat berbalik dengan kondisinya saat ini. Di usia remajanya, ia justru mengalami sesuatu yang bernama pembulian.

Wajah cantik Na Yeon seolah tertutup oleh sebuah kabut. Tampak begitu suram. Ia terus menunduk selama melewati koridor sekolah itu. Tanpa ia sadari, seseorang telah menepuk bahunya. Seseorang itu tak lain adalah sahabatnya, Choi Ryujin. Ryujin adalah satu-satunya orang yang dapat menghargai segala sesuatu yang ada pada diri Na Yeon. Ia tak pernah menganggap Na Yeon aneh apalagi gila. Mereka mulai melintasi koridor sekolah yang seolah tak berujung.

Sesampainya di kelas, Na Yeon dan Ryujin langsung dihadang oleh genk HESYY, yang konon merupakan genk yang berisi siswi-siswi tercantik di sekolahnya. Haein, ketua genk HESYY pun langsung mendorong Na Yeon hingga ia terjatuh. Ryujin hendak memalas perbuatan Haein. Namun sebelum ia sempat bergerak, Yoreum dan Eunji, anggota genk yang lain telah menahannya. Ia tak dapat bergerak.

Tiga anggota HESYY lainnya teus menyiksa Na Yeon tanpa ampun. Mereka adalah Haein, Sohyun, dan Yona. Sementara itu, Ryujin hanya bisa memandang Na Yeon sembari berkaca-kaca. Penampilan Na Yeon terlihat sangat kacau.

Pembulian itu terhenti ketika Bok Soon, si ketua kelas datang. Ia langsung meringkus HESYY dan membawanya ke ruang BK. Sedangkan Na Yeon, ia langsung dibawa ke UKS ditemani oleh Ryujin. Kondisi Na Yeon sangat parah. Tubuhnya dipenuhi oleh luka dan lebam.

“Maafkan aku karena aku tak bisa menolongmu.” Ucap Ryujin sembari menangis parau. Ia tak tega melihat kondisi Na Yeon.

“Kau tak pernah bersalah Ryujin, kau tak perlu meminta maaf.” Kata Na Yeon menenangkan Ryujin. Ia berusaha keras untuk dapat tersenyum.

Sepanjang jam pelajaran, Na Yeon tetap berada di UKS. Sepulangnya dari sekolah, ia tak langsung pulang. Na Yeon pergi ke sebuah atap gedung tinggi di kotanya. Na Yeon sudah lelah. Ia bingung, apa yang salah dengan dirinya? Apa yang ia lakukan sehingga ia diperlakukan dengan begitu buruk?

Saat ia hendak melompat, seseorang meneriakinya dari belakang. Awalnya, Na Yeon tak menggubrisnya. Akan tetapi, ia langsung menoleh ketika kata itu diteriakkan.

“Si Minor! Kau mau mati?’ Teriak seorang lelaki bernama Jeonghoon. Ia adalah laki-laki paling populer di kelasnya.

Saat mendengar kata Si Minor disebut, Ia langsung turun untuk menemui lelaki itu. Wajahnya masih terlihat begitu suram. Ia tersenyum tipis, kemudian ia bertanya kepada Jeonghoon.

“Tidak lelahkah kau membuliku?” Tanya Na Yeon

“Aku tak pernah membulimu, aku hanya ingin memberikanmu ini.” Jawab Jeonghoon sembari menyodorkan sebuah surat.

Na Yeon pun menerima surat itu dengan wajah tertunduk lalu, ia pergi. Sesampainya di rumah, ia langsung membaca surat itu.

Mungkin kau takkan menyadarinya, seseorang yang amat tertutup dengan dunia yang tajam. Menurut mereka, cara berjalanmu dan gaya berpakaianmu mungkin terlihat aneh. Musik bernada minor yang kau putar mampu menggetarkan hatiku sehingga, aku memanggilmu Si Minor.

Asalkan kau tahu, diatas kepalamu yang menunduk ada sebuah cahaya yang bersinar terang. Tak apa, pelan-pelan saja. Tapi, kuharap kau sadar bahwa kaulah selebritiku satu-satunya.

Kau adalah bintang. Walaupun tak dilukis dengan tangan kanan, kau tetaplah indah. Saat kau murung, seseorang seperti telah mematikan tombol powermu. Jantungmu berdetak begitu pelan.

Kau tak tahu bahwa puisi cinta yang ditulis untukmu belum berkembang sepenuhnya. Tak apa kau cemberut. Tapi, kuharap kau akan segera tersenyum. Aku mencintaimu Na Yeon.

Rangkaian kata yang ditulis Jeonghoon amat menyadarkan Na Yeon. Akhirnya, ia dapat bersyukur dengan apa yang ia punya. Ia tak pernah menggubris kata-kata orang yang tak menyukainya lagi.

 

Oleh : KYoo (Rosaida Artha Kusumanova). Sekretaris PMR Planet NUFO periode 2022-2023.

Exit mobile version