Site icon Baladena.ID

MINIMNYA GENERASI YANG BERINTELEKTUAL

Dilansir dari Indonesiabaik.id bahwa, Indonesia akan menjadi negara emas  atau akan terjadi adanya bonus demografi pada tahun 2045. Bonus demografi ini terdiri dari 70% usia produktif yaitu usia 15-64 tahun. Sedangkan, 30%nya terdiri dari usia yang tidak produktif yaitu usia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun.

Ketika negara Indonesia bisa mengelolah bonus demografi, maka negara ini akan maju. Akan tetapi jika negara Indonesia tidak bisa mengelolanya dengan baik, maka bonus demografi ini akan menjadi bom waktu. yang akan menghancurkan semuanya. Dampaknya yaitu negara Indonesia akan mengalami adanya kemiskinan. Entah itu dalam segi ekonomi, kesehatan, sosial, dan masih banyak lainnya.

Dapat kita lihat bersama dari data CATAHU Komnas Perempuan menyatakan, ada sekitar 59 ribu pernikahan dini di Indonesia. Sedangkan ketika orang yang ingin menikah dia harus mandiri secara intelektual dan financial. Masalah mengenai pernikahan, bukan hanya sekedar bagaimana cara membuat anak, melahirkan, lalu membiarkan anaknya tumbuh dewasa tanpa memperhatikan asupan gizinya. Tetapi, sebagai orang tua harus bisa menyeimbangkan dan memenuhi semua kebutuhan yang dibutuhkan oleh anaknya. Dan bahkan seseorang yang akan menjadi ibu, dia harus memperhatikan asupan gizi jauh-jauh hari sebelum mengandung. Karena gizi tersebut sangat berpengaruh pada anak yang akan dikandungnya.

Genarasi yang berintelektual juga dapat kita nilai dari sisi IQnya. IQ  merupakan singkatan dari  Intelligence Quotient yang memiliki arti kemampuan untuk bertindak secara efektif, berpikir rasional, dan menghadapi lingkungan secara baik. dilansir dari gramedia blog bahwa rata-rata IQ terendah manusia adalah 90 sampai 110. Jika IQ manusia dibawah 90 maka dapat dikatakan bahwa mereka itu bodoh.

Sedangkan rata-rata IQ orang Indonesia hanya sekitar 78,49. Padahal, rata-rata IQ penduduk dunia mencapai 82. Indonesia juga menjadi peringkat ke-130 dari 199 negara yang telah diuji.  Data ini dilansir dari laporan World Population Review tahun 2022. Dapat kita ambil kesimpulan, bahwa masyarakat Indonesia termasuk dalam kategori IQ yang sangat rendah.

Jika hal ini terus menerus terjadi tanpa adanya tindakan dari pemerintah. Indonesia tidak akan bisa melahirkan generasi-genarasi yang berintelektual yang dapat memajukan Bangsa Indonesia itu sendiri. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus menindak lanjuti hal seperti ini lebih dalam lagi. bukan hanya sekedar kurikulumnya saja yang terus-menerus berganti. tetapi juga, SDM pngajarnya yang harus lebih berkualitas lagi, dan memperhatikan gizi serta pola asuh anak-anak Indonesia. agar Indonesia dapat melahirkan generasi emas.

Indonesia telah berganti kurikulum dari tahun 1945 s.d 2022 sebanyak 11 kali. Kurikulum terbaru yaitu kurikulum prototype. kurikulum ini berbasis proyek (Project Based Learning) untuk mendukung perkembangan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila. Kurikulum ini dibuat oleh Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. Kurikulum prototype memang tergolong sangat bagus. akan tetapi, sebagus apapun kurikulum yang telah ditetapkan jikalau SDM guru dan anak-anaknya tidak memadai, maka kurikulum itu akan terbuang sia-sia dan tidak akan pernah berhasil.

Indonesia memiliki anggaran pendidikan yang sangat banyak. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menambah alokasi anggaran untuk sektor pendidikan sebesar Rp78,5 triliun. Saat ini bernilai Rp 621,3 triliun. Dalan catatan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022, belanja pemerintah meningkat Rp2.714,15 triliun dari Rp2.708,7 triliun. Hal itu disebabkan adanya peningkatan anggaran pendidikan dari APBN 2022 sebesar Rp542,83 triliun.

Kesalahan dari pemerintah Indonesia yaitu, mereka belum bisa menggunakan anggaran dengan tepat dan dapat dikatakana belum tepat pada sasarannya. Pemerintah Indonesia lebih memilih menggunakan anggarannya untuk membeli barang-barang. padahal yang perlu diperbaiki adalah sumber daya gurunya. Jika gurunya saja tidak memiliki kualitas yang baik, maka dapat dipastikan guru itu tidak akan menghasilkan murid yang berkualitas juga. Pada umumnya masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai guru, mereka menempatkan profesi itu sebagai mata pencaharian yang utama. padahal, gaji seorang guru belum bisa mencukupi biaya hidup mereka. Pada akhirnya imbas dari semua itu yaitu, anak-anak sekarang banyak yang tidak ingin menjadi guru. Kalau seperti itu, bagaimana nasib bangsa Indonesia jikalau minim tenaga guru dan dapat dipastikan juga akan semakin minim generasi yang berintelektual?

Oleh karena itu, kita sebagai agen perubahan harus bisa mengubah hal-hal yang memang harus kita ubah. Sebelum kita menjadi seorang guru, lebih baik kita harus mandiri secara Intelektual dan finansial. Karena ketika kita sudah mandiri dari sisi keduanya, banyak waktu luang yang akan kita gunakan untuk mengajar dan tanpa mengharapkan imbalan. Dan kita juga bisa melahirkan generasi-genarsi unggul yang dapat memajukan Bangsa Indonesia di berbagai aspek.

 

 

Exit mobile version