Site icon Baladena.ID

Merajut Luka

Perkenalkan, ia adalah “Luka”. Yang terlahir beberapa saat setelah kita lahir. Kita mengundangnya bermain di saat senja menampakkan indahnya, yang sering kita pandang setiap waktu terbitnya fajar. Terkadang lagi, kita tertawa melihatnya sembari melantunkan dengan indah nyanyian-nyanyian “Tentang Rindu” yang terdengar parau.

 

Luka ini menyayat hati. ia bisa seperti api. Menghangatkan atau membakar emosi. Ia sering kali hadir disaat kita berusaha melupakan, lalu menghilang disaat kita mau mengingat. Tapi kita tak bisa memungkiri bahwa kita dibentuk dari luka, bahkan tanpa luka kita tidak akan mempunyai cerita yang sering kita rasakan saat ini.

 

Aku sendiri pernah membuat luka kecewa. Aku tak ingin lagi merasakannya. Aku bilang, luka terlalu sakit untuk kurasakan.

Dan terlalu buruk untuk aku pandang. Aku ingin melepaskan dan membuang semua luka yang mendera. Padahal, maksud luka tidak seburuk itu.

 

Luka mendidik kita, agar belajar lebih dewasa. Agar kita tak selalu mengikuti ego yang ada pada diri kita. Dan kita akan lebih berhati-hati lagi untuk kedepannya.

 

Ketika luka menerpa, seharusnya kita lebih kuat menghadapinya. Kita harus mempunyai hati sekuat baja, agar kita tak pernah goyah dan kita mampu untuk menahan segala bentuk goresan atau pukulan yang bertubi-tubi menerpa diri kita. Dan kita akan tetap bahagia untuk menghadapinya. Kita akan bisa terbang lagi, dengan segala tenaga yang tersisa, dan kita bersedia menopang segala penderitaan yang melukai hati kita. Agar kita mampu terbang untuk meraih mimpi.

 

Tuhan mengirimkan luka, agar kita selalu belajar darinya. Dari wajah cantiknya agar kita menghargai apa yang pernah kita punya, dan wajah buruknya untuk membantu dan menghargai sebuah arti kehidupan. Membenci dan mencemburui luka adalah hal yang melelahkan dan tidak berguna. Sebab, tepatnya selalu di belakang, kita hanya bisa belajar darinya. Karena luka yang menyakitkan akan sembuh ketika kita selalu berusaha dan ingin berjuang untuk menyembuhkannya.

 

 

Penulis

Mughits, Penikmat Sastra Asal Mudura.

Exit mobile version