Site icon Baladena.ID

Menyoal Prediksi Bappenas Petani Punah Tahun 2063

Modern Smart Farming Agriculture Technology At Farm Or Field

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) memperkirakan, petani sudah tidak ada pada 2063.Ancaman petani terancam punah bukan semata pernyataan, namun hasil riset Pusat Penelitian Kependudukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Disebutkan, saat ini rata-rata usia petani nasional mayoritas berumur 45 tahun ke atas. Bahkan, rata-rata usia petani di tiga desa pertanian padi di Jawa Tengah mencapai 52 tahun. Ditambah lagi kaum muda yang bersedia melanjutkan usaha tani keluarga di sana hanya sekitar 3 persen. Ini artinya, ke depan tidak ada lagi generasi baru petani.

Namun kita tidak perlu khawatir dalam menanggapi pesoalan tersebut. Dimasa mendatang, pekerjaan manusia akan digantikan oleh robot-robot canggih sehingga memudahkan manusia dalam menyelesaikan pekerjaanya terutama dalam hal pertanian.

Pada tahun 2015, seorang akademisi dari Future of Humanity Institute di Oxford University, Stuart Armstrong bahwa di masa depan yang bisa menggantikan pekerjaan manusia salah satunya adalah hasil kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kecanggihan robot yang selama ini hanya ada dalam film-film fiksi ilmiah, dalam beberapa tahun ke depan, mungkin dapat kita lihat secara nyata. Boston Consulting Group memprediksi ditahun 2025 lebih dari seperempat pekerjaan akan diambil alih oleh robot ataupun perangkat lunak tertentu. Berdasarkan studi dari Universitas Oxford, 35% jenis pekerjaan yang ada di Inggris saat ini sangat rentan digantikan dengan tenaga kerja robot dan 20 tahun mendatang.

Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi pertanian juga kian canggih, hal ini tentu memiliki dampak yang postif bagi para petani. Dengan bantuan teknologi pertanian, efektifitas penanaman, perawatan, hingga panen bisa lebih meningkat. Selain itu, biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh petani semakin menurun dengan hasil produksi yang meningkat.

Diantara inovasi terbaru dari Pertanian Presisi di bidang penelitian dan pengembangan teknologi adalah:

1. Transplanter
Teknologi pertanian transplanter direkomendasikan oleh Litbang (Penelitian dan pengembangan) Kementerian Pertanian untuk memberikan jarak yang pas antar padi yang ditanam. Konsep teknologi pertanian ini menganut sistem jajar legowo dari Jawa Timur dalam proses penanaman padi. Transplater dipercaya bisa meningkatkan produksi padi hingga 30%. Jarak yang tepat antar padi lebih memudahkan petani dalam hal perawatan.Harga satu unit mesin transplanter ini sekitar Rp 75 juta. Tapi, Anda tak perlu khawatir karena pemerintah akan memberikan bantuan mesin ini kepada para petani. Ketika digunakan untuk menanam padi, mesin ini tidak akan tenggelam di lumpur sawah karena sudah dilengkapi dengan pengapung. Meski begitu, transplanter dirancang dengan berat seringan mungkin agar tidak menyulitkan petani.
2. Indo Combine Harvester
Dengan menggunakan teknologi pertanian indo combine harvester petani akan dimudahkan dalam urusan panen padi mulai dari pemotongan, pengangkutan, perontokan, pembersihan, sortasi, hingga pengantongan. Dengan indo combine harvester, Anda tidak lagi membutuhkan banyak orang untuk memanen padi, karena satu mesin ini hanya butuh tiga orang saja, dengan kapasitas kerja empat sampai enam jam per hektar.
Teknologi ini akan semakin baik performanya jika digunakan pada lahan yang basah. Indo combine transplanter memiliki gaya tekan ke permukaan tanah 0.13kg/cm2, memperkecil kemungkinan bagi mesin untuk terperosok dalam tanah. Hebatnya lagi, teknologi pertanian ini mampu menghasilkan gabah dengan tingkat kebersihan 99.5%.
3. Mesin Pemilah Bibit Unggul
Bibit unggul akan menghasilkan tanaman dengan kualitas yang baik pula. Jika dulunya petani tidak bisa menentukan bibit mana yang akan menghasilkan tumbuhan terbaik, kini dengan teknologi pertanian, hal tersebut bisa diketahui. Penggunaan mesin pemilah bibit unggul ini banyak digunakan oleh perusahaa penyedia bibit.
Misalnya saja pemilihan bibit jagung hibrida. Bibit jagung ini memiliki kualitas yang terbaik, Tanaman yang akan dihasilkan akan memiliki kualitas tonggol unggul dan biji jagung yang semakin banyak. Dengan adanya mesin pemilah bibit unggul, tentu Anda sebagai petani tidak perlu lagi khawatir menanam bibit dengan kualitas yang buruk.

4. Drone Lahan Sawah

Teknologi drone atau pesawat tanpa awak dimanfaatkan di lahan pertanian untuk membantu dan memaksimalkan kegiatan penyemprotan. Hal tersebut benar-benar ada dan sudah berlangsung di Kecamatan Akenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pihak Balai Penelitian Lingkungan Pertanian daerah setempat meneliti dan memodifikasi drone tersebut menjadi alat penyempot pestisida di lahan persawahan yang cakupannya begitu luas.

Karena drone dikendalikan dengan remote control, penyemprotan tak perlu langsung terjun ke sawah, tinggal mengoperasikan drone tersebut sesuai dengan yang diinginkan. Hasilnya juga tidak mengecewakan karena penyemprotan bisa lebih cepat dan efisien. Tentu saja, teknologi pertanian anak bangsa ini sangat membantu petani penggarap sawah. Diperkirakan, satu hektar lahan sawah dapat disemprot dengan drone ini dalam waktu sekitar 30 menit saja.

5. Sensor Tanaman

Sensor tanaman yang dapat mengumpulkan data sebanyak mungkin tentang kondisi pertumbuhan optimal untuk tanaman. Microneedles atau sensor berupa jarum kecil para peneliti menambang data real-time untuk membuat pertanian menjadi sangat efisien dan lebih berkelanjutan. Dengan cara memasukkan mikrosensor ke dalam daun dan batang tanaman, peneliti dapat memantau informasi tentang kesehatan dan produktivitas mereka secara langsung.

Exit mobile version