Site icon Baladena.ID

Menyoal Penyuluh Pertanian Ideal

Digitalisasi Penyuluh Pertanian

Kemajuan teknologi mampu mengubah berbagai aspek fundamental masyarakat dari yang awalnya serba apa adanya, kini menjadi lebih berwarna dan tentunya lebih produktif. Salah satu aspek fundamental dalam kegiatan manusia yang berhasil diubah adalah kegiatan pertanian.

Kegiatan pertanian pada awalnya hanya seputar mengolah, menanam, merawat, dan memanen. Siklus yang stagnan tersebut lambat laun mengalami dinamika akibat modifikasi oleh perkembangan akal manusia sebagai makhluk yang memiliki akal. Kegiatan pertanian yang mengandalkan otot seperti mencangkul, membajak, kini telah bertransformasi dengan traktor. Bahkan untuk sekedar menyiram tanaman pun telah dilakukan oleh teknologi jarak jauh melalui rangkaian Internet of Things.

Balada dalam sebuah perkembangan bukan menjadi isapan jempol belaka. Meskipun kemajuan teknologi memberikan manfaat yang berlimpah ruah terhadap peradaban, namun tetap ada pihak yang belum bisa menerima berbagai perubahan yang ada. Petani konvensional yang sangat tradisional apalagi yang berada jauh di dalam pedalaman memiliki akses yang minim untuk berbagai pengetahuan yang menggiurkan. Jangankan untuk merubah cara bertani, berhasil menjual hasil panen dengan harga yang pantas saja sudah sangat susah bagi mereka. Alhasil, mereka masih terbelenggu oleh jeratan tengkulak yang datang seperti malaikat namun dengan seribu satu akal dan tipu muslihat. Maka disinilah pentingnya fungsi kelompok tani dalam kegiatan penyuluhan.

Kegiatan penyuluh pertanian merupakan tangan panjang dari kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah. Kegiatan penyuluhan akan sangat efektif apabila satu komando dari pusat. Hal tersebut dibuktikan ketika masa pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun sekitar 1980-1990. Gaya kepemimpinan Top  Down, kepemimpinan pusat adalah hal yang mutlak mampu membawa Indonesia surplus beras, bahkan bisa swasembada.

Gaya kepemimpinan Presiden Soeharto pun menuai berbagai konflik serta polemik. Meskipun mampu membawa Indonesia swasembada beras, Presiden Soeharto harus mengalah untuk kemaslahatan umat dan bangsa yang ditandai dengan masa Revolusi. Pada masa ini, gaya kepemimpinan presiden saat itu adalah Bottom Up, artinya setiap daerah diberi kewenangan dan kekuasaan seluas-luasnya untuk mengelola daerahnya sendiri. Akibatnya adalah ketidakmerataan kegiatan penyuluh pertanian yang ditandai dengan dibubarkannya Badan Penyuluh Pertanian (BPP).

Salah satu dampak reformasi pada kegiatan penyuluh pertanian adalah perubahan gaya penyuluh. Pada masa Top Down, penyuluh pertanian bersifat monovalen. Monovalen yang dimaksud adalah setiap penyuluh pertanian hanya memiliki satu bidang keahlian atau spesialisasi saja. Sebagai contoh, penyuluh pertanian pada daerah A memiliki keahlian dalam pembibitan, maka hanya  melakukan penyuluhan tentang pembibitan saja.

Pada masa Bottom Up, penyuluh pertanian bersifat polivalen. Polivalen yang dimaksud adalah setiap penyuluh pertanian diwajibkan mampu menguasai berbagai bidang pertanian. Meskipun Ia adalah seorang lulusan pertanian bidang teknologi pangan, namun seorang penyuluh pertanian akan dihadapkan pada urusan ternak dan berbagai masalah yang bisa saja tidak relevan dengan gelar yang Ia peroleh.

Pada masa kini, banyak orang berpengalaman yang membagikan berbagai tips tentang pertanian di media digital dan sosial. Secara tidak langsung, hal tersebut sudah lebih maju satu langkah disbanding dengan penyuluh pertanian yang ada. Namun, pihak penyuluh pertanian merasa enggan disebut bahwa kegiatan penyuluh sudah ketinggalan zaman. Mereka berasumsi meskipun sudah berbeda pola penyuluhan dari masa reformasi dan masa kini, tetapi merek tetap tangan panjang dari kebijakan pemerintah. Mereka juga berasumsi bahwa teknologi belum sampai ke desa-desa terpencil, sehingga keterbatasan memperoleh informasi masih masif, maka dari itu dibutuhkan seorang penyuluh pertanian.

Perdebatan tentang pentingnya penyuluh pertanian di era digitalisasi tidak akan selesai apabila saling adu argumen tanpa solusi penyelesaian, akibatnya pemerintah akan selalu impor bahan pangan yang sebenarnya bisa diproduksi sendiri oleh petani karena minimnya hubungan yang harmoni dan komunikasi. Salah satu solusi yang dapat dilaksanakan adalah dengan penggunaan teknologi serta kolaborasi antara penyuluh pertanian dengan media digital maupun media sosial.

Penyuluh pertanian dapat memanfaatkan media sosial seperti YouTube, Instagram, TikTok, Twitter, Facebook  dalam bentuk video atau poster untuk menjangkau masyarakat dengan meminimalkan waktu dan tenaga. Selain itu, penyuluh pertanian juga dapat menggunakan media sosial sebagai sarana memperoleh informasi tentang keadaan atau kendala yang ada di mayarakat yang berkaitan dengan kegiatan pertanian. Apabila peluang memaksimalkan teknologi mampu dimanfaatkan dengan baik, maka akan tercipta peluang untuk memajukan Indonesia yang terkenal dari kegiatan pertaniannya menjadi benar-benar sejahtera.

 

“…dan pasti akan Kami beritakan kepada mereka dengan ilmu (Kami) dan Kami tidak jauh (dari mereka).” Q.S. Al-A’raf ayat 7

Oleh: Muhammad Wildanul Atqiya, Mahasiswa Agribisnis UNDIP

 

Exit mobile version