Doktrin terhadap masyarakat bahwa anak kyai harus dididik dengan benar, baik dari segi karakter, pendidikan formal, maupun keilmuan non-formalnya dengan tujuan agar bisa menjadi suri tauladan dan pemimpin yang dapat berpengaruh bagi masyarakat muslim merupakan suatu hal yang lazim kita temui. Bukan seharusnya pandangan seperti itu tertanam dalam benak masyarakat, melainkan semua orang, baik dari kalangan kyai maupun tidak, memiliki hak yang sama untuk bisa berkompetisi dalam mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan sebagaimana yang diberlakukan kepada anak kyai.
Bahkan dengan adanya doktrin tersebut kemudian membuat orang lain terutama penduduk desa berpikiran bahwa anak kyai memiliki ilmu laduni, karena dirasa mampu melakukan banyak hal. Padahal itu hanya soal pengulangan. Semua hal yang ia milikii dan ia bisa merupakan hasil didikan dan pengaruh oleh Bapaknya. Anak kyai memiliki lebih banyak waktu bersama dengan bapaknya, sehingga mempermudah dalam pengajaran dan pengulangan. Berbeda halnya dengan anak orang biasa atau kita sebut sebagai santri, yang hanya memiliki beberapa waktu saja untuk bisa satu forum dengan kyainya. Hal tersebut yang kemudian membuat kesempatan anak orang biasa yang minim untuk bisa menjadi penerus perjuangan kyainya dalam memimpin sebuah pondok pesantren.
Pada dasarnya, anak seorang kyai selalu diberi treathman khusus, sehingga memiliki potensi untuk memiliki profesi yang sama dengan orang tuanya. Selain itu juga karena pengaruh dari lingkungan. Jika hidup dalam lingkungan ulama’ atau kyai, maka kemungkinan besar untuk menjadi seorang kyai juga. Lain halnya dengan anak orang biasa yang kemudian bisa menduduki posisi tersebut karena memang memiliki kedekatan dengan keluarga atau kyainya langsung.
Beberapa efek mindset yang bisa timbul dari situasi tersebut adalah banyak orang yang beranggapan bahwa dalam hidup ini terdapat perbedaan kasta, yang pada kenyatannya hanya perihal keturunan saja. Adanya pemikiran tersebut kemudian membuat anak menjadi seorang pemalas karena realita yang mereka lihat kebanyakan yang bisa menjadi penerus kyainya yaitu hanya anak kyai saja. Bukan hanya berdampak pada mindset anak orang biasa, melainkan situasi tersebut juga akan berdampak pada perilaku anak kyai yang kemudian bersikap sombong, egois, feodalistik, suka merendahkan orang lain, tidak mau menetima saran dan krikit, serta merasa dirinya paling mulia.
Anggapan salah kaprah tersebut seharusnya bisa segera terselesaikan, agar tidak berdampak bagi generasi kedepannya. Secara eksternal, sebagai seorang kyai harus bisa memberikan kesempatan yang sama kepada anak dan santrinya untuk saling berlomba-lomba dalam meraih posisi tersebut, karena bukan hanya anak kyai yang bisa menjadi pemimpin, namun anak orang biasa juga bisa menduduki posisi tersebut. Tak kalah penting, adalah kyai seharusnya memberikan apresiasi kepada santri yang berani bersikap kritis dan memiliki prestasi yang bagus.
Suatu fenomena yang jarang kita temukan jika ada seorang santri yang berani bersikap kritis, baik kepada kyai maupun keluarganya dengan dasar kebenaran. Hal tersebut karena pengaruh feodalisme yang masih kental tertanam dalam pondok pesantren. Bahkan, feodalisme bukan hanya terjadi kepada kyai saja, melainkan kepada anak-anak dan keluarganya. Kyai sebagai figur panutan dalam masyarakat seharusnya bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk memerlakukan anaknya dengan wajar dengan tidak mencium tangan ketika bersalaman dan dikritik ketika berbuat kesalahan.
Anak kyai tidak berbeda dengan anak lainnya, bahwa kesuksesan dalam hidup ini tak melulu dari keturunan, namun sangat tergantung pada kerja keras yang sudah dilakukan. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surah an-Najm ayat 39;
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,”
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa kemuliaan dunia dan akhirat tidak berdasarkan pada keturunan, tapi tergantung pada hasil usaha dari masing-masing individu. Karena itu, kita harus belajar lebih rajin dan bekerja keras untuk bisa mencapai sebuah kesuksesan.
Di samping itu, sebagai orang tua hendaknya menerapkan metode pembelaran pada anak dengan lebih intensif lagi, karena dukungan dan didikan orang tua juga dapat menjadi basic dan pendukung kesuksesan seorang anak, selain hanya mengandalkan pendidikan dari pondok saja.

