Site icon Baladena.ID

Menyingkap Tirai Bias Gender: Dominasi Laki-laki dalam Masyarakat yang Perlu Dihentikan

Berbicara tentang gender tentu tidak akan ada habisnya, mengingat permasalahan-permasalahan baru yang terus muncul dalam kehidupan sosial masyarakat. Diantaranya, pembahasan tentang kata “setara” dan “adil” yang masih menjadi kontroversi sampai saat ini. Masing-masing pihak terus memperjuangkan pendapatnya dengan terus menggali alasan-alasan yang bisa dianggap rasional bagi masyarakat. Bahkan, secara tidak sengaja, hal tersebut memicu munculnya istilah-istilah baru yang mencakup permasalahan tentang gender. Salah satunya adalah bias gender.

Bias gender merupakan suatu kondisi yang di dalamnya terdapat pembagian posisi dan peran antara laki-laki dan perempuan secara tidak adil. Terdapat bentuk diskriminasi terhadap posisi perempuan, baik dalam ranah publik maupun domestik. Dalam kehidupan masyarakat, bernegara, dan beragama, permasalahan gender pasti selalu muncul dalam bentuk yang bermacam-macam tergantung dengan keadaan struktur  ekonomi, budaya, organisasi social, atau masayarakat serta kelompok tertentu.

Ada berbagai hal yang selalu dijadikan perbandingan antara laki-laki dan perempuan, diantaranya perempuan selalu dianggap berada dalam posisi kedua, dibawah posisi laki-laki, yaitu posisi pertama. Oleh karena itu, perempuan selalu dianggap bergantung pada laki-laki. Perempuan juga  sering kali tidak dilibatkan dalam pengambilan suatu keputusan yang sangat strategis dan sering tidak diberi kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin, baik itu pemimpin suatu organisasi, kelompok, atau suatu daerah tertentu. Bahkan, perempuan selalu dianggap lemah dibandingkan dengan laki-laki yang selalu dianggap lebih kuat dari pada seorang perempuan. Selain itu, pandangan masyarakat pada umumnya juga memandang perempuan selalu menggunakan hati atau perasaan daripada rasionalisasinya. Lebih sering menggunakan emosionalnya, sedangkan laki-laki dipandang selalu mengutamakan rasional atau pikirannya dari pada hatinya.

Padahal, jika kita amati dalm kehidupan sehari-hari, justru perempuan yang memiliki banyak peran dan tanggungan dibanding laki-laki.  Misal, ketika perempuan sudah mendapatkan pekerjaan dalam ranah domestic atau lebih gampangnya pekerjaan dalam rumah tangga sebagai istri ataupun sebagai ibu, tapi perempuan tetap bisa mendapatkan beban pekerjaan di ranah public. Berbeda dengan seorang laki-laki yang hanya mendapatkan satu tekanan saja, yaitu pekerjaan di luar rumah. Ketika laki-laki tidak memiliki kesempatan untuk bisa bekerja di luar rumah, entah karena suatu hal apapun, maka perempuan lah yang kemudian menanggung beban ganda untuk tetap mengurus pekerjaan rumah dan juga harus mencari nafkah di luar rumah untuk bisa menghdupi keluarganya.

Banyak asumsi yang kemudian menyebabkan pihak laki-laki itu merasa lebih berkuasa terhadap perempuan dan juga memiliki otoritas lebih terhadap perempuan. Dari asumsi-asumsi tersebut lah yang kemudian menimbulkan perilaku kekerasan terhadap perempuan yang sudah marak di lingkungan masyarakat.

Bukan hanya itu. Berbicara tentang perempuan-perempuan yang memiliki peran penting sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. Hal tersebut bisa kita lihat dari sejarah kehidupan isteri-isteri Nabi maupun para perempuan sahabat Nabi yang mempunyai pengetahuan luas dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti bidang hadits, fikih, dan obat-obatan yang cukup menjadi bukti bahwa sejak masa Nabi, sudah banyak perempuan muslimah yang menempuh pendidikan tinggi, sehingga dapat menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Sedangkan pembahasan mengenai perempuan kurang akal dan agamanya dibanding laki-laki itu hanyalah mitos.

Permasalahan-permasalahan mengenai bias gender seharusnya bisa dicegah dengan menerapkan sikap adil dalam kehidupan sehari-hari, terlebih ketika kita sedang dalam masa mengurus anak. Anak laki-laki maupun perempuan akan belajar dari perilaku orang tuanya Jika kita sudah menerapkan hal tersebut, tentu akan memberikan pengaruh terhadap pandangan anak kedepannya. Selain itu juga dengan memberikan edukasi tentang seks sejak dini kepada anak. Dengan begitu, salah pandang mengenai gender akan lebih teratasi.

Oleh: Zahrotul Muniroh, Ketua Bidang lnternal Kohati Korkom Walisongo Periode 2023-2024

Exit mobile version