Belum lama ini, umat islam dihadapkan pada dua perbedaan dalam merayakan hari raya idul fitri. Perbedaan pendapat adalah fenomena yang tidak asing terdengar, khususnya di momen penghujung ramadhan seperti yang terjadi sepekan terakhir. Jenis perbedaan apalagi jika bukan soal penentuan ketetapan hari raya idul fitri?
Biasanya ada dua perbedaan dalam penentuan hari raya idul fitri ini, kedua perbedaan tersebut tentu dilatar belakangi oleh dua metode yang berbeda dalam melihat hilal. Misalnya metode Rukyah hilal, adalah metode berdasarkan pengamatan terhadap bulan, bisa dengan mata telanjang maupun dengan bantuan teleskop. Selain itu ada metode lain yaitu wujudul hilal, dengan pengamatan hilal berdasarkan kriteria penentuan awal bulan pada kalender hijriyah, metode ini di gunakan di Indonesia oleh Muhammadiyah dalam menentukan kapan awal ramadhan dan satu syawal berlangsung.
Dalam salah satu tulisan yang terdapat pada website Portonews yang berjudul “Menyikapi perbedaan hari raya Idul Fitri” tertulis bahwa perbedaan ini disebabakan oleh perbedaan hadits yang dipakai (antara menyempurnakan bilangan bulan dan perhitungan atau perkiraan posisi hilal). Dari penjelasan ini, tentu bisa disimpulkan bahwa ketika mengangkat suatu hadits sebagai acuan tentu telah dilewati proses pertimbangan matang, sekiranya apa yang terkandung dalam suatu hadits tersebut dirasa mudah alias tidak memberatkan diri sendiri, bukankah Islam memang dirancang untuk memudahkan umatnya?
Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah R.A dalam riwayat Imam Al-Bukhari,
yang artinya adalah: “Sesungguhnya agama itu mudah. Dan selamanya agama tidak akan memberatkan seseorang melainkan memudahkannya. Karena itu, luruskanlah, dekatilah, dan berilah kabar gembira! Minta tolonglah kalian di waktu pagi-pagi sekali, siang hari di kala waktu istirahat dan di awal malam.
Serta dalam firman Allah Swt pada Q.S Al-Baqarah: 185
yang artinya, bahwa: “Allah menghendaki kalian kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan,”
Jadi tidak ada alasan untuk menjadikan perbedaan sebagai alasan atas terjadinya tindakan perpecahan. Untuk mengatasi perbedaan seperti ini, umat Islam dituntut bersikap dewasa serta bijaksana, tidak serta merta merusak hubungan silaturahim dengan sesama saudara muslim.
Semoga bermanfaat.
