Site icon Baladena.ID

Menyelami Samudra Tauhid: Catatan Ringkas Ngaji Jawahir Al-Qur’an bersama Gus Ulil Episode 25

Menyelami Samudra Tauhid: Catatan Ringkas Ngaji Jawahir Al-Qur’an bersama Gus Ulil Episode 25

Dalam lanskap pemikiran Islam kontemporer di Indonesia, tradisi ngaji kitab kuning yang dihidupkan kembali oleh KH. Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) memberikan kesegaran tersendiri. Salah satu kajian yang memikat perhatian adalah pembacaan atas kitab “Jawahir Al-Qur’an” (Permata-Permata Al-Qur’an) karya sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali.

Kitab ini bukan sekadar tafsir, melainkan sebuah peta spiritual untuk menemukan esensi terdalam dari firman Allah. Melalui untaian ayat-ayat pilihan, khususnya dari Surah Al-Ma’idah dan Surah Al-An’am, Gus Ulil mengajak kita membedah hakikat ketuhanan (matsani al-uluhiyyah) dan meruntuhkan segala bentuk ilusi keduniawian yang sering kali menduakan posisi Allah dalam hati manusia.

Menegaskan Batas Antara Khaliq dan Makhluk

Kajian dimulai dengan membedah sepuluh ayat pilihan dari Surah Al-Ma’idah. Di sini, Al-Qur’an secara tegas membersihkan konsep ketuhanan dari segala bentuk antropomorfisme atau penyamaan Tuhan dengan makhluk. Melalui ayat yang mengkritik pandangan kaum yang menuhankan Al-Masih putra Maryam, kita diingatkan tentang absolutisme kekuasaan Allah.

Jika Allah berkehendak untuk membinasakan Al-Masih, ibunya, dan seluruh penghuni bumi, siapakah yang dapat menghalangi-Nya? Pertanyaan retoris ini bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan sebuah tamparan eksistensial bagi ego manusia. Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki secara merdeka, tanpa intervensi.

Menariknya, narasi ini dipertegas dengan dialog eskatologis antara Allah dan Nabi Isa as. di akhir Surah Al-Ma’idah. Ketika ditanya apakah ia pernah menyuruh manusia untuk menyembah dirinya dan ibunya, Nabi Isa menjawab dengan penuh ketundukan: “Mahatinggi Engkau! Bukanlah hakku untuk mengatakan sesuatu yang bukan hakku…”

Pesan yang disampaikan Gus Ulil melalui pembacaan ayat ini sangat jernih: batasan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) bersifat mutlak. Bahkan seorang rasul seagung Nabi Isa yang dibekali mukjizat luar biasa pun tetaplah seorang hamba. Penghambaan inilah yang justru menjadi puncak kemuliaan manusia, bukan pendewaan yang keliru oleh pengikutnya.

Kuasa Absolut dan Keadilan Ilahi

Refleksi dari Surah Al-Ma’idah berlanjut pada penegasan kedaulatan hukum Allah: “Dia menghukum siapa yang Dia kehendaki dan mengampuni siapa yang Dia kehendaki.” Di era modern yang serba rasional dan mekanistik ini, manusia sering kali terjebak dalam delusi bahwa mereka bisa mengontrol segalanya. Ayat ini hadir sebagai pengingat bahwa di atas segala hukum sebab-akibat materiil, ada Kehendak Mutlak (Masyi’ah) Ilahi.

Namun, kekuasaan absolut Allah tidak pernah berdiri sendiri tanpa keadilan dan kasih sayang. Al-Qur’an segera mengimbanginya dengan menyatakan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sifat kerasnya azab Allah ditunjukkan kepada mereka yang pongah dan melampaui batas, sedangkan rahmat-Nya senantiasa membentang bagi mereka yang mengetuk pintu taubat.

Sementara tugas para rasul, dan secara ekstensi adalah tugas para ulama serta pemikir agama hari ini, hanyalah menyampaikan pesan (balagh). Manusia tidak memiliki hak untuk menghakimi batin sesamanya, karena hanya Allah yang mengetahui apa yang diungkapkan dan apa yang disembunyikan di dalam dada.

Kosmologi Tauhid dalam Surah Al-An’am

Jika Surah Al-Ma’idah banyak menekankan aspek teologis-dogmatis dalam mendudukan posisi Tuhan dan makhluk, maka empat puluh lima ayat dari Surah Al-An’am yang dibedah dalam ngaji ini membawa kita pada kosmologi tauhid yang puitis sekaligus saintifik.

Surah Al-An’am dibuka dengan deklarasi agung: “Segala puji bagi Allah, Yang menciptakan langit dan bumi dan menjadikan gelap dan terang.” Gus Ulil sering kali menekankan bahwa alam semesta ini adalah “ayat” yang terhampar (ayat kauniyah).

Adanya siang dan malam, gelap dan terang, bukan sekadar fenomena astronomis biasa, melainkan manifestasi dari keteraturan yang diciptakan oleh Zat Yang Maha Mengetahui. Sungguh ironis, sebagaimana disinggung ayat tersebut, ketika manusia menyaksikan keteraturan makrokosmos ini, mereka masih saja menyekutukan Tuhan dengan otoritas-otoritas semu lainnya.

Ketuhanan dalam Surah Al-An’am digambarkan sebagai Zat yang memberi makan (yuth’im) tetapi tidak diberi makan (walaa yuth’am). Ini adalah konsep kemandirian mutlak (Qiyamuhu bi Nafsihi).

Manusia, di sisi lain, adalah makhluk yang sepenuhnya dependen (butuh). Kita diciptakan dari tanah liat, diberi waktu yang terbatas di dunia, dan sering kali dirundung keraguan. Ketika bahaya menimpa, barulah ego manusia runtuh dan menyadari bahwa tidak ada yang dapat menghilangkan mudarat tersebut kecuali Dia. Begitupun saat nikmat datang, itu semata-mata karena kemurahan-Nya.

Dari Daun yang Gugur hingga Jiwa yang Tertidur

Salah satu puncak estetika spiritual dalam kitab “Jawahir Al-Qur’an” adalah ketika membahas ayat tentang pengetahuan Allah yang meliputi segala hal, baik yang tampak maupun yang gaib. Al-Qur’an menggambarkan dengan sangat indah: “Dan di sisi-Nya terdapat kunci-kunci yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia… Tidak sehelai daun pun jatuh melainkan Dia mengetahuinya.”

Bayangkan miliaran pohon di bumi ini, dan setiap detiknya ada jutaan daun yang gugur. Bagi manusia, gugurnya sehelai daun adalah peristiwa sepele yang acak. Namun bagi Allah, setiap gerakan terkecil di alam semesta ini tercatat dalam skenario agung-Nya. Begitu pula dengan kehidupan manusia. Allah adalah Zat yang “mengambil jiwa” kita di malam hari melalui tidur, dan membangunkan kita kembali di siang hari untuk menyelesaikan ajal yang telah ditentukan.

Melalui penjelasan Gus Ulil, ayat ini mengajarkan kita tentang kesadaran eksistensial. Kita tidak pernah sendirian. Setiap helai napas, setiap butir biji yang tersembunyi di kegelapan bumi, hingga dinamika makro di lautan dan daratan, berada dalam pengawasan total (Muraqabah) Ilahi. Kesadaran inilah yang semestinya melahirkan rasa syukur dan ketundukan yang mendalam.

Ancaman Perpecahan: Tantangan Sosial Kontemporer

Ngaji “Jawahir Al-Qur’an” tidak hanya berhenti pada wilayah metafisika, tetapi juga menyentuh realitas sosiologis. Di bagian akhir dari rangkaian ayat ini, Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang situasi kritis ketika mereka berada dalam kegelapan darat dan laut. Dalam kondisi terjepit, manusia akan berdoa dengan khusyuk menjanjikan keluhuran budi. Namun, setelah diselamatkan, mereka kerap kembali berbuat syirik dan melupakan penciptanya.

Lebih jauh lagi, ada peringatan sosial yang sangat relevan dengan kondisi bangsa kita hari ini. Allah berkuasa untuk mengirimkan azab, tidak hanya dari langit atau dari bawah kaki, melainkan dalam bentuk: “…membingungkanmu (dengan memecah belahmu menjadi) golongan-golongan dan membuatmu merasakan kekerasan satu sama lain.”

Gus Ulil sering menggarisbawahi ayat ini sebagai peringatan keras bagi umat Islam. Perpecahan, fanatisme golongan (ashabiyah), dan hilangnya rasa persaudaraan sehingga melahirkan kekerasan antar-sesama adalah bentuk “azab” sosial yang sangat nyata. Ketika agama tidak lagi menjadi pemersatu melainkan alat pemecah belah, saat itulah kita sedang mengalami degradasi spiritual yang akut.

Kembali ke Permata Al-Qur’an

Melalui pembacaan kitab “Jawahir Al-Qur’an” ini, kita diajak oleh Gus Ulil untuk melakukan dekonstruksi terhadap cara kita beragama. Beragama bukan sekadar rutinitas ritual tanpa makna, bukan pula klaim-klaim kebenaran sepihak yang memicu konflik. Esensi agama, sebagaimana mutiara-mutiara ayat yang digali oleh Imam Al-Ghazali, adalah pemurnian tauhid.

Mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana seharusnya membuat manusia berjalan di muka bumi dengan penuh kerendahan hati (tawadu’). Kita adalah hamba yang daif di hadapan kemegahan kosmos yang diatur-Nya. Hanya dengan kejujuran batin, kepasrahan yang tulus, dan komitmen untuk menjaga kedamaian di antara sesama golongannyalah, manusia dapat meraih apa yang diistilahkan Al-Qur’an sebagai fauzul adzim, pencapaian agung berupa rida Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawab.

 

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, dan PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Exit mobile version