Dunia Islam belakangan ini kembali disegarkan oleh model pembacaan kitab suci yang tidak sekadar berhenti pada aspek hukum (fikih) atau teologis-dogmatis yang kaku. Salah satu motor penggerak dari kesadaran baru ini adalah serial pengajian virtual yang diampu oleh Gus Ulil Abshar Abdalla.
Melalui pembacaan kitab-kitab klasik, khususnya mahakarya Imam Al-Ghazali, “Jawahir Al-Qur’an” (Permata Al-Qur’an), kita diajak untuk melihat Al-Qur’an bukan sebagai teks yang berjarak, melainkan sebagai sebuah samudra spiritual yang menyimpan kekayaan batin tak terbatas.
Ketika memasuki pembahasan bagian kedua dari kitab ini, Imam Al-Ghazali mengajak kita memetakan tujuan-tujuan asasi dari diturunkannya Al-Qur’an. Beliau membaginya ke dalam dua jenis ayat yang sangat fundamental: kelompok ayat yang dikategorikan sebagai Jawahir (Permata) dan Durar (Mutiara).
Fokus kita kali ini adalah menyelami klasifikasi pertama, sebuah pola awal dari struktur spiritual Al-Qur’an yang merangkum sekitar 763 ayat pilihan. Ayat-ayat inilah yang oleh Al-Ghazali disebut sebagai fondasi pengenalan (ma’rifat) manusia kepada Sang Pencipta.
Metafora Permata dan Struktur Spiritual Al-Qur’an
Mengapa Al-Ghazali menggunakan metafora “permata”? Sifat permata adalah memancarkan cahaya, memiliki nilai substansial yang tinggi, dan memikat siapa saja yang memandangnya dengan kejernihan batin. Dalam struktur “Jawahir Al-Qur’an”, pola pertama ini dibuka dengan absolut: Surah Al-Fatihah. Dimulai dari untaian Basmalah, “Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang” surah ini bertindak sebagai gerbang utama (the opening) yang merangkum seluruh esensi ketuhanan dan kemanusiaan.
Setelah Al-Fatihah, penjelajahan batin kita dituntun masuk ke dalam bentangan Surah Al-Baqarah. Di sinilah Gus Ulil kerap menekankan betapa Al-Ghazali sangat jeli dalam memilah ayat. Dari sekian ratus ayat dalam Al-Baqarah, terdapat empat belas ayat yang dikategorikan sebagai “permata murni”. Ayat-ayat ini tidak berbicara tentang hukum waris, potong tangan, atau hudud, melainkan tentang kosmologi, eksistensi, dan relasi intim antara Khaliq dan makhluk.
Mari kita renungkan penggalan permata pertama dari Al-Baqarah yang dihadirkan: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai tempat tidur bagimu dan langit sebagai naungan, lalu menurunkan hujan dari langit dan menumbuhkan buah-buahan sebagai rezeki bagimu…”
Ayat ini adalah sebuah undangan kontemplatif. Melalui penjelasan Gus Ulil, kita disadarkan bahwa bumi dan langit bukanlah objek mati yang ada secara kebetulan. Mereka adalah “fasilitas sakral” yang disediakan Allah agar manusia dapat hidup dan mengenali penciptanya. Larangan menyekutukan Allah di akhir ayat tersebut bukanlah doktrin kering, melainkan sebuah konsekuensi logis: setelah melihat keteraturan alam semesta, bagaimana mungkin manusia berpaling kepada selain Dia?
Kosmologi, Ilmu Pengetahuan, dan Batas Nalar Manusia
Permata berikutnya membawa kita pada kesadaran ekologis dan epistemologis: “Dialah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 29). Di sini, Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia memegang mandat kekhalifahan atas bumi. Namun, mandat ini harus diimbangi dengan ilmu.
Menariknya, Al-Ghazali menyandingkan ayat penciptaan alam dengan dialog kosmik antara Allah dan para malaikat: “Maha Suci Engkau! Kami tidak mempunyai pengetahuan selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami…” (QS. Al-Baqarah: 32).
Ayat ini melahirkan sebuah kritik epistemologis yang tajam terhadap kesombongan intelektual manusia modern. Seringkali, manusia merasa menguasai alam semesta melalui sains dan teknologi, lalu melupakan bahwa semua sains itu hanyalah setetes air dari samudra ilmu Allah yang tak bertepi. Melalui ngaji ini, kita diajak untuk miliki sikap tawadhu’ ilmiah, mengakui bahwa di atas setiap orang berilmu, ada Yang Maha Mengetahui.
Kesadaran akan kemutlakan kekuasaan Allah ini dipertegas kembali dalam ayat selanjutnya, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa milik Allah-lah kekuasaan langit dan bumi…?” Ini adalah penegasan status ontologis manusia: kita adalah hamba yang butuh pelindung (wali) dan penolong (nashir). Di tengah dunia yang serba tidak pasti dan penuh kecemasan (anxiety), ayat ini hadir sebagai jangkar spiritual yang menenangkan hati.
Teologi Keindahan: Wajah Allah di Mana-mana
Salah satu puncak estetika spiritual dalam kajian “Jawahir Al-Qur’an” ini adalah perenungan atas ayat 115 dari Surah Al-Baqarah yang berbunyi: “Milik Allah-lah timur dan barat. Maka ke mana pun kamu berpaling, di situ ada Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui.”
Ayat ini adalah menu utama para pencinta sufisme. Gus Ulil dalam berbagai kesempatan sering menjelaskan bahwa “Wajah Allah” di sini mengindikasikan kehadiran-Nya yang imanen sekaligus transenden. Allah tidak terpenjara oleh ruang, waktu, barat, maupun timur. Di dalam keindahan alam, di dalam kesunyian malam, bahkan di dalam senyuman sesama manusia, ada refleksi dari keindahan dan keagungan-Nya.
Kontemplasi ini membebaskan manusia dari cara beragama yang sempit dan fanatik. Jika ke mana pun kita menghadap di situ ada Wajah Allah, maka seluruh alam semesta ini adalah masjid, dan seluruh kehidupan adalah ritus ibadah.
Kesadaran akan kemahaluasan Allah ini ditutup dengan keindahan celupan Allah (shibghah): “Shibghatallah, dan siapa yang lebih baik shibghah-nya daripada Allah?” Menjadi hamba Allah berarti membiarkan diri kita “diwarnai” oleh sifat-sifat-Nya yang mulia: kasih sayang, keadilan, dan kebijaksanaan.
Dari Keteraturan Alam Menuju Kedekatan Personal
Al-Qur’an tidak membiarkan Tuhannya menjadi entitas yang jauh di atas Arasy tanpa memedulikan makhluk-Nya. Dalam ayat tentang penciptaan dan pergantian siang-malam (QS. Al-Baqarah: 164), kita disuguhi argumen rasional tentang keteraturan kosmis, mulai dari perahu yang berlayar hingga angin yang bertiup. Semua itu adalah tanda (ayat) bagi orang yang berakal.
Namun, setelah membawa nalar kita terbang tinggi ke makrokosmos, Al-Qur’an langsung menarik kita ke dalam keintiman mikrokosmos yang sangat personal melalui ayat doa yang sangat menyentuh: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…” (QS. Al-Baqarah: 186).
Inilah inti dari seluruh perjalanan spiritual. Tuhan yang menguasai jagat raya, yang menciptakan tujuh lapis langit, ternyata adalah Tuhan yang sangat dekat dengan helaan napas hamba-Nya. Hubungan ini bersifat timbal balik: Allah mendekat melalui pengabulan doa, dan manusia mendekat melalui ketaatan dan keimanan.
Puncak Permata: Ayat Kursi dan Kebebasan Beragama
Puncak dari rangkaian 14 ayat permata dalam Al-Baqarah yang diulas ini tidak lain adalah Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255). Ayat ini adalah proklamasi teologis tertinggi tentang kemandirian eksistensi Tuhan (Al-Hayyu Al-Qayyum), yang tidak dihinggapi kantuk maupun tidur. Konsep ketuhanan Islam dalam Ayat Kursi membersihkan nalar kita dari segala bentuk antropomorfisme (menyerupakan Tuhan dengan makhluk).
Namun, ada hal yang sangat revolusioner dalam penataan urutan ayat oleh Al-Ghazali. Tepat setelah Ayat Kursi yang megah itu, Allah langsung menyambungnya dengan kalimat: “La ikraha fid-din”, adalah tidak ada paksaan dalam agama.
Gus Ulil sering menggarisbawahi keunikan struktur ini. Mengapa ayat tentang kebebasan berkeyakinan diletakkan langsung setelah deklarasi keagungan Tuhan? Jawabannya sangat filosofis: karena kebenaran (al-rusyd) telah jelas terpisah dari kesesatan (al-ghayy).
Tuhan yang Maha Agung dan Maha Jelas tidak membutuhkan pemaksaan, intimidasi, atau kekerasan untuk disembah. Iman harus lahir dari kesadaran murni dan kemerdekaan berpikir manusia, bukan dari represi. Barangsiapa yang beriman atas dasar kesadaran batin ini, maka ia telah berpegang pada tali yang paling kuat (al-urwatul wutsqa) yang tidak akan pernah putus.
Menghidupkan Kembali Jiwa Al-Qur’an
Melalui pembacaan kitab “Jawahir Al-Qur’an” bersama Gus Ulil, kita disadarkan bahwa mengkaji Al-Qur’an bukan sekadar mengumpulkan pahala dari setiap huruf yang dibaca, melainkan sebuah upaya aktif untuk “menggali permata” yang tertimbun di dalam teks.
Empat belas ayat dari Surah Al-Baqarah yang dipetakan oleh Imam Al-Ghazali ini memberikan kita cara beragama yang ideal: beragama yang berbasis pada pengenalan Tuhan yang mendalam, apresiasi terhadap ilmu dan alam semesta, kedekatan spiritual yang intim, serta penghormatan yang tinggi terhadap kebebasan dan kemanusiaan.
Syahdan. Di tengah gempuran modernitas yang materialistik, ngaji seperti inilah yang kita butuhkan, sebuah oase yang mengembalikan jiwa Al-Qur’an ke dalam ruang batin kita yang paling dalam. Wallahu a’lam bisshawab.
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, dan PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

