Site icon Baladena.ID

Menyambut Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19

Sebentar lagi umat Islam akan memasuki bulan Ramadhan 1441 H. Datangnya Ramadhan kali berbeda. Kondisi dunia, khususnya di Indonesia masih harus kerja ekstra agar segera terbebas dari Virus Corona atau Covid-19. Berbagai daerah sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang tentunya akan semakin berdampak secara sosial, ekonomi hinggan kegiatan ibadah termasuk ibadah di Bulan Ramadhan.

Umat Islam di daerah yang terkena dampak Covid-19 tidak akan menemukan lagi nikmatnya shalat tarwih berjamaah, shalat ied, maupun silaturahmi. Hal ini seiring dengan kebijakan pemerintah maupun himbauan-himbauan organisasi keagamaan tentang physical distancing juga protokol kesehatan untuk menghindari kerumunan, termasuk kegiatan ibadah berjamaah.

Namun bagi seorang muslim, kedatangan bulan Ramadhan tentu harus tetap disambut dengan rasa gembira dan penuh syukur, karena Ramadhan merupakan bulan maghfirah, rahmat dan menuai pahala serta sarana menjadi orang yang bertakwa. Umat Islam juga bisa tetap khusuk menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan di rumah bersama keluarga.

Ada beberapa hal tetap bisa dilakukan guna menyambut bulan Ramadhan, agar tetap memiliki nilai yang tinggi dan bisa mengisinya di tengah-tengah pandemi Covid-19.

Pertama, berdoa kepada Allah Swt, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salaf al-shalih. Mereka berdoa kepada Allah Swt. dengan sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan selama enam bulan berikutnya. Doa popular yang mereka baca adalah:”Ya Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”. Tidak kalah pentingnya adalah berdoa agar Virus Covid-19 segera lenyap.

Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu jika ada yang terutang karena halangan syar’i, misalnya karena sakit atau bepergian yang jarak tempuhnya membolehkan berbuka puasa, termasuk mengingatkan keluarga khususnya isteri dan anak, jika ada puasa di Ramadhan yang terutang. Menunda qadha puasa dengan sengaja tanpa ada uzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah menunda-nunda kewajiban.

Ketiga, persiapan intelektual (memahami fiqh puasa). Mu’adz bin Jabal r.a. berkata: ”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari pernyataan di atas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.

Suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakanya lebih banyak daripada kebaikannya. Hanya dengan ilmu dapat mengetahui cara berpuasa yang benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw. Begitu juga ilmu sangat diperlukan dalam segala urusan.

Kempat, persiapan jiwa dan spiritual. Persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan dengan hati yang ikhlas dan melakukan ibadah sesuai dengan perintah-Nya.

Persiapan jiwa dan spiritual merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam upaya untuk memetik manfaat sepenuhnya dari ibadah puasa. Penyucian jiwa (Tazkiayah al-nafs) dengan berbagai amal ibadah dapat melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan, dan amalan-amalan hati lainnya yang akan menuntun seseorang kepada jenjang ibadah yang berkualitas.

Kelima, persiapan dana (finansial). Pada bulan Ramadhan setiap muslim dianjurkan memperbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah, ifthar (memberi buka orang lain yang berpuasa) dan mengeluarkan zakat jika belum dikeluarkan. Karena itu, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliah (keuangan) yang mengalokasikan dana untuk zakat, shadaqah, infaq serta memberi ifhtar. Moment Ramadhan merupakan moment yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliah. Ibnu Abbas r.a berkata, ”Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Keenam, persiapan fisik dengan menjaga kesehatan .Kondisi fisik yang sehat dan kuat di bulan Ramadhan sangat penting. Kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Termasuk persiapan fisik adalah membersihkan lingkungan, membersihkan rumah, menata ruangan agar rapi, menyingkirkan barang-barang yang tidak terpakai, agar suasana rumah nyaman untuk ditinggali.

Dengan persiapan-persiapan tersebut, semoga bulan Ramadhan tetap membawa berkah. Meskipun seluruh ibadah Ramadhan dilakukan di rumah, jika dilakukan dengan khusyu tetap akan bernilai dan memiliki hikmah. Apalagi seluruh anggota keluarga bisa berkumpul dan bersama-sama menjalankan rangkaian ibadah di bulan Ramadhan.

Oleh: Dr. AI Hamzani, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Exit mobile version