Site icon Baladena.ID

Menuju Rumah Perjuangan

“Huh, capek,” kataku,  seraya melempar tas selempang yang Aku gunakan untuk pergi jalan-jalan. Ini sudah pukul sembilan malam, Aku baru saja pulang dari salah satu air terjun yang ada di Lombok. Setelah puasa Ramadhan berakhir, Aku memang selalu menyempatkan diri untuk pergi ke beberapa tempat wisata, karena rencananya, sekitar seminggu atau dua minggu lagi, aku akan masuk ke salah satu pondok pesantren di Semarang (dekat dengan kampusku) dan pulang lagi ke Lombok setelah Aku wisuda nanti. Jadi harus puas menikmati suasana Lombok dulu, sebelum menetap di Semarang.

Oiya, perkenalkan, aku Fia Handayani dari Lombok, mahasiswa jurusan Ilmu Al-qur’an dan Tafsir di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Banyak yang tanya, kok kuliahnya jauh banget sih? Gak takut apa? Udah kecil, cewek lagi. Nanti kalau terjadi sesuatu, bagaimana? Dan banyak sekali komentar-komentar tetangga dengan pilihanku untuk melanjutkan kuliah di Pulau Jawa.

Tapi itu hanya omongan orang yang tidak perlu aku dengar, karena bapak, mamak dan seluruh keluarga, selalu mendukung apapun keputusan yang aku ambil, dengan syarat aku mengurus semua keperluanku sendiri. Kata bapak, supaya aku menjadi pribadi yang mandiri. Tentu saja semua ini sulit, tapi aku punya banyak mimpi-mimpi besar yang harus aku wujudkan. So, aku gak akan pernah menyerah untuk menggapainya.

“Fia, besok puasa kan?” tanya mamak yang tiba-tiba sudah didepan pintu kamarku. “Insyaallah, Mak.” Jawabku sambil tersenyum.

“Yaudah, besok mamak bangunin” kata mamak sambil berlalu dan menutup pintu kamarku.

Sebelum tidur, aku membuka handphone untuk mengecek tugas kuliah dan konfirmasi ke teman-teman kalau hari sabtu kita snorkeling dan minggu sampai senin muncak. Ini memang sudah rencana kita sejak seminggu yang lalu. Karena ini hari Rabu, jadi hari Jumat memang sudah harus mempersiapkan semua alat-alat untuk menyelam, dan jangan lupa olahraga yang cukup biar nggak keram pas lagi berenang nanti. Aku nggak bisa bayangin bagaimana indahnya taman bawah laut Gili Nanggu, aku gak sabar buat nunggu hari sabtu.

“Lah, kok?” Aku kaget bukan kepalang saat membuka pesan di grup whatsapp Caldis Gelombang 1, disana tertulis bahwa kita harus sudah berada di rumah perkaderan monash institute pada hari sabtu, tanggal 22 mei 2021. Oh, tidak. Aku bahkan belum persiapan apapun, belum beli tiket pesawat, belum kasih tahu bapak, belum beli koper dan lain sebagainya. Bagaimana ini? Aku tidak mungkin menghubungi pihak pondok untuk meminta dispensasi, karena ini adalah salah satu rangkaian test untuk bisa diterima menjadi disciples di sana.
Waktu sudah menunjukan pukul 22.30 WITA.

Aku memutuskan untuk memberitahu bapak besok saja. Semoga dua hari ini bisa untuk mempersiapkan kebutuhanku menuju Semarang dan yang paling penting adalah adanya jadwal penerbangan sebelum ataupun tepat hari Sabtunya. Sudahlah, waktunya tidur. Biar hari esok menjadi jawaban untuk semua kegelisahanku hari ini.

“I’ve been here all night, I’ve been here all day” handphoneku berdering menyanyikan lagu dari Ariana Grande, waktu sudah menunjukan pukul 04.00 WITA. Diluar sepertinya sudah ada Mamak dan Bapak, setelah dari kamar mandi aku bergabung bersama mereka.

“Pak, itu, Fia harus ke Semarang hari Sabtu ini. Hmm, Informasi dari pondok, kita sudah harus disana hari Sabtu ini, untuk ikut pembukaan testcamp”

Aku terbata-bata bilang ke Bapak, takut sekaligus deg-degan mendengar bagaimana reaksi bapak karena aku memeberitahunya dengan mendadak seperti ini. Sebenarnya yang aku khawatirkan adalah bapak lagi punya pegangan uang atau tidak untuk aku beli tiket, apalagi setelah lebaran ini harga tiket masih sangat tinggi disbanding hari-hari biasanya.

“ Yaudah, nanti beli tiket, sekalian beli koper dan barang-barang yang Fia butuhkan buat disana nanti,” kata Bapak.

“Berani ke Semarang sendiri, kan? Bapak nggak bisa antar Fia sampai Semarang. Fia ingat pesan Bapak kan, Bapak percaya sama Fia, berarti Fia harus bertanggungjawab atas pilihan Fia,” Pesan yang sama ketika keberangkatanku ke Klaten empat tahun yang lalu.

Pesan yang akan selalu mengikuti kemanapun langkahku berlari, pesan yang akan Aku ingat bahkan saat berada di titik terendah dalam anganku.

“Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?” sapaan hangat dari petugas di lion air group.

“Saya mau memesan tiket tujuan semarang, apakah ada jadwal penerbangan besok atau lusa?” jawabku tak kalah ramah.

“Baik, jadwal penerbangan tercepat adanya hari Sabtu ya, Mbak. Dengan pilihan transit Denpasar, Surabaya, atau Jakarta?”

“Yang transit jakarta saja, Mbak.”

Akhirnya Aku sudah punya tiket penerbangan. Hari ini memang Aku jadwalkan untuk mengelilingi kota Mataram selain membeli tiket, aku juga membuat atm, beli koper, beli tas dan beli lainnya. Entah mendung darimana, tiba-tiba hujan mengguyur kota mataram setelah beberapa minggu ini cerah tanpa awan. Dalam hati aku merasa seperti ini adalah pertanda, entah pertanda baik atau buruk. Tapi itu hanya asumsiku saja, karena memang awan telah berkondensasi di atmosfer sehingga terjadilah hujan. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan keberangkatanku menuju Semarang.
Brukk. Aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Lelah juga, setelah seharian mengurusi semua kebutuhanku, apalagi sempat rapid antigen juga. Tidak apa-apa, ini demi tiba tepat waktu dipondok, bisa mengikuti test dengan baik, dan lolos menjadi disciples di Monash Institute. Masih ada banyak hal yang aku urusi untuk melewati peraturan di bandara nanti. Sudahlah, sekarang waktunya tidur.

“Sudah urus semuanya, Dek?” tiba-tiba Abangku didepan pintu.

“Sudah, tinggal berangkat,” Jawabku sudah hampir tertidur.

“Yaudah, langsung tidur aja, biar nggak sakit,” Ujar Abangku seraya berlalu.

Hal yang Aku rasakan adalah takut. Takut aku tersesat di Jakarta nanti, takut jika pesawatnya kecelakaan, takut Aku nggak akan bisa sampai di Semarang, aku takut semuanya. Seharian Aku memikirkan itu, tegang sekali rasanya. Satu kalimat yang selalu Aku fikirkan adalah Monash Institute patut untuk diperjuangkan. Maka, setakut apapun aku, itu tidak akan membuatku menyerah. Takut itu hanya sebuah perasaan atas sesuatu hal yang bahkan belum terjadi. Anggap saja ini adalah latihan untuk menjadi kuat.

Sabtu, 22 Mei 2021. Jadwal keberangkatan ku pun tiba. Aku berangkat dari rumah pukul 03.30 WITA, sampai di bandara ketika azan subuh berkumandang. Aku harus cepat-cepat masuk ke bandara supaya tidak ketinggalan pesawat, setelah bersalaman dengan semua keluargaku, Aku memasuki pintu keberangkatan Bandara. Kulangkahkan kaki dengan mantap, dengan membaca basmallah, Aku teguhkan tekat dan kuatkan niat, Aku jauh dari kelurga demi menuntut ilmu. Dan detik itu juga, ketika aku sudah menginjakan kaki di gate keberangkatan, petualanganan tak terlupakan dimulai, hingga aku bisa berada di Monash Institute hari ini.

Pukul 05.30 WITA, Aku harus check in, tapi baru sampai pada tahap pemeriksaan pertama, Aku langsung mendapat masalah. Ketika petugas memeriksa surat hasil rapid test ku, surat itu langsung dikembalikan alias di tolak, karena melebihi batas waktu 1 x 24 jam. Itu artinya Aku tidak akan bisa naik pesawat jika aku tidk melakukan rapid test ulang. Dengan berat hati, Aku melangkah keluar Bandara menuju laboratorium untuk rapid tes lagi, dengan antrian sepanjang ini, aku khawatir akan ketinggalan pesawat. Tepat pukul 04.55 WITA, hasil rapid tes ku keluar dan Aku langsung berlarian menuju gate keberangkatan. Ternyata antrian pemeriksaan surat hasil rapid test sangat panjang, dan mau tidak mau aku harus mengantri lagi.

Setelah dinyatakan boleh memasuki gate penerbangan, Aku terburu-buru menuju tempat penukaran tiket dengan antrian yang lebih panjang lagi. Apalah dayaku yang masih anak kecil dengan mereka yang sudah dewasa dan berombongan.

Waktuku tinggal lima belas menit sampai waktu untuk check in, aku masih belum melewati pemeriksaan tiket lagi, pemeriksaan barang bawaan, urusan bagasi dan lain-lain.

Aku tiba tepat dua menit sebelum pramugari mempersilahkan kami untuk check in. “Bisa lihat kartu identitas, mbak?” Aku menyerahkan tiket untuk transit di Jakarta dan kartu identitasku.

“Selamat datang di penerbangan Lion Air dengan nomor penerbangan 502*** dari Lombok menuju Jakarta, silahkan menuju tempat duduk anda sesuai dengan nomor kursi yang anda dapatkan.” Sambutan pramugari saat aku sudah memasuki pesawat.

Aku sudah menemukan tempat dudukku, tapi aku punya satu permasalahan lagi, aku tidak bisa menaikan koperku di bagasi atas pesawat. Untungnya salah seorang pramugari menghampiriku dan membantu menaikan koper.

Pukul 07.00 WITA. Penerbangan di mulai. “Bismillahirrahmaanirrahiim, semoga selamat sampai Jakarta,” lirihku dalam hati, sebenarnya Aku takut sekali, karena sebelum berangkat tadi, ketika aku mau bersalaman dengan kakek, kakek menolak,

“Gak usah salaman, perasaan kakek nggak enak. Nanti malah seakan kamu pamit. Sudah berangkat saja, jangan lupa berdo’a,” pesan kakek yang masih terngiang-ngiang sampai saat ini.

Pikiranku bahkan berfantasi kemana-mana. Bagaimana jika pesawatnya jatuh, atau kebakaran atau menabrak gunung, semua hal itu membuatku menjadi ngeri, dan semakin membuatku tidak tenang saat melihat keluar jendela , kita benar-benar berada di ketinggian sekarang. Daripada memikirkan hal-hal menakutkan, lebih baik aku tertidur saja, mengganti jatah tidurku tadi malam yang hanya dua jam saja. Semoga ketika aku terbangun nanti, pesawat sudah mendarat di Jakarta dengan selamat.“

“Para menumpang yang terhormat, kita sudah tiba di bandar udara Soekarno-Hatta, harap menggunakan sabuk pengaman anda,”

Aku terbangun saat mendengar pramugari mengulangi kata-katanya.
Ini adalah masalah kedua yang Aku temui selanjutnya, Aku belum pernah ke Jakarta, dan bandara ini luas sekali. Menuju terminalnya saja, kita harus dijemput oleh bis yang khusus di bandara itu. Ketika sudah memasuki terminal Bandara, Aku bingung mencari gate F, gate penerbangan menuju Semarang. Aku berada di gate D, dan harus berjalan menuju arah utara sekita 500 meter untuk menemukan gate F, itu baru gate F, belum lagi harus mencari gate F pintu 1, pintu 2 atau pintu-pintu yang lainnya. Waktu transit di Jakarta memang lumayan lama, bisa Aku gunakan untuk berkeliling mencari gate F.

Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 WIB. Aku sudah berada di ruang tunggu gate F, ini masih di ruang tunggu bagian depan, Aku belum melewati Lorong-lorong di ruang tunggu utama gate F. jadwal penerbangan menuju semarang masih pukul 11.40, aku masih punya banyak waktu untuk sarapan dan istirahat. Mamak memang sengaja membawakanku kotak makan, supaya bisa makan dimanapun aku berada. Tak lupa mengabari Bapak, bahwa Aku tiba di Jakarta dengan selamat, tinggal menunggu perjalanan menuju Semarang.

Bepergian sendiri dengan barang bawaan sebanyak ini sangat tidak menyenangkan. Untuk ke kamar mandi saja Aku memberanikan diri menitipkan barang-barangku ke salah satu penumpang perempuan yang kebetulan duduk di sampingku. Belum lagi kamar mandi yang jauh sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk Kembali lagi ke ruang tunggu. Apalagi perempuan menggunakan outfit yang tidak sederhana seperti laki-laki. Jadilah aku hanya diam di ruang tunggu salama dua jam. Tanpa kemana-mana, daripada harus repot menenteng ransel dan koperku.

“Penumpang yang terhormat, kami beritahukan bahwa penerbangan dari Jakarta menuju Semarang dipindah melalui gerbang G, terima kasih.” Tiba-tiba saja pengumuman di speaker menggema di seluruh penjuru Bandara. Aku yang sedang asyik menonton youtube sontak kebingungan, itu artinya Aku harus mencari gerbang G lagi. Ketika melihat segerombolan orang-orang berjalan menuju arah utara, Aku langsung mengikuti mereka, siapa tahu mereka pindah menuju gate G. Benar saja, semua penumpang menuju Semarang sudah berkumpul di depan gate G yang bagian 1. Setelah menyerahkan tiket dan kartu identitas, aku melewati Lorong-lorong untuk menuju pesawat. Aku lupa, setelah melewati Lorong, kita tidak langsung masuk kedalam pesawat, tapi menuju lapangan dan dijemput oleh bus dan dibawa ke tangga menuju pesawat. Oh lihatlah, aku menyedihkan sekali, sudah kecil, perempuan, sendirian, bawa koper sama ransel lagi. Untung nya ada bapak baik hati yang mau mengangkat koper ku ke dalam bus dan membantu menurunkannya juga.

“Terima kasih nggih, Pak,.” Ucapku setelah turun dari bus.

“Sama-sama, dek. Mari,” balas Bapaknya tersenyum ramah sambil menaiki tangga pesawat.

“Nggih, Pak,” jawabku sambil mengikuti Bapak itu.
“ Alhamdulillah, semoga perjalanan ke Semarang ini lancar” lirih ku setelah menempati kursi nomer 27 A. Aku duduk dekat dengan jendela pesawat dan tepat berada di sayap pesawat juga, aku jadi tahu bagaimana sayap pesawat membuka atau menutup saat persiapan lepas landas. Setelah semua penumpang memenuhi kursi pesawat, penerbangan siap dimulai. Apalah dayaku yang duduk di samping pasangan mbak cantik dan mas ganteng yang dengan senang hati mengumbar kemesraan saat pesawat mulai lepas landas. Sebenarnya ini adalah bagian paling menakutkan dari menumpang pesawat.  “astagfirullahal’aziim”

Aku tak hentinya menyebut nama Allah, siapa yang tidak takut, pesawat belum dalam mode seimbang, sabuk pengaman masih harus digunakan dan yang paling membuatku kaget adalah ketika pesawat menabrak awan tebal.

Itu seperti naik roller coaster dan digoyang-goyangkan. aku melihat keluar jendea, hanya awan gelap yang tebal. Semua kemungkinan-kemungkinan sudah terfikirkan di benak ku. Jika hari ini adalah akhir dari hidupku maka izinkan Aku menyebut nama-Mu ya rabb. Satu menit berlalu, dua menit berlalu, pesawat masih belum dalam mode aman. Tak pernah henti aku menyebut nama-Nya. Jika aku bisa menangis sekencang-kencangnya, aku ingin teriak saja, tapi teriak tidak ada gunanya dalam kondisi seperti ini. Semua orang terdiam sambil tetap mengenakan sabuk pengaman. Sampai beberapa menit kemudian, pesawat telah melewati awan tebal, terbang dengan ketinggan normal, dan sabuk pengaman sudah boleh dilepaskan. Ucapan syukur tak pernah berhenti keluar dari bibirku. Tidak ada rasa paling menyenangkan selain keluar dari sistuasi seperti tadi.

“alhamdulillah, ya Allah. Engkau memberi keselamatan untukku,” ucapku berulang kali.

Semarang sudah terlihat, sabuk pengaman kembali dipasang, handphone dimatikan dan duduk dengan manis di kursi. Alhamdulillah mendarat dengan mulus walaupun sedikit melewati batas dari tempat parkir pesawat, tapi semua aman terkendali. Terminal Semarang memang tidak terlalu besar, tapi pemeriksaan ketat. Bahkan pemeriksaan Kesehatan menggunakan aplikasi di handphone. Setelah semua urusan itu selesai, aku langsung menuju parkiran karena sudah ditunggu oleh temanku. Kita mampir makan dan membeli keperluan untuk di pondok nanti. Aku langsung memesan grab dan berangkat ke pondok monash institute.

Di perjalanan, hujan mengguyur kota Semarang, tapi matahari masih tetap bersinar. Ini adalah sore yang penuh kedamaian untuk mengawali hari-hari penuh perjuangan di Monash Institute. Selamat datang di Rumah Perkaderan Monash Institute, baru berangkat saja sudah banyak perjuangan, apalagi sudah resmi menjadi disciples. Tapi itu bukan suatu alasan untuk menyerah. Monash institute adalah tujuan, sebesar apapun perjuangan untuk mendapatkannya,maka harus aku lakukan. Selamat berjuang, aku adalah generasi penerus kepemimpinan Bangsa, tidak ada kata menyerah dalam kondisi apapun. Salam satu visi.

Oleh: Sufiatun Handayani

Exit mobile version