Kaya menjadi keinginan setiap orang, akan tetapi terkadang keinginan tersebut tidak diimbangi oleh pola pikir kaya dan usaha yang keras. Masih banyak pemuda-pemuda yang ingin kaya tapi tidak diimbangi langkah-langkah menuju orang kaya. Bahkan ada juga orang yang berfikiran bahwa nanti akan kaya pada waktunya. Padahal realitanya ia tidak berbuat apa-apa untuk mencapai kekayaan tersebut.
Ada juga seseorang yang bersekolah tinggi dengan tujuan kaya, biasanya kasus ini bisa ditemui pada mahasiswa-mahasiswa baru maupun lama yang mereka berasal dari kampung. Jika ditanya, apa tujuan anda kuliah? Ada yang menjawab untuk memperbaiki ekonomi keluarga.
Niatan tersebut terkadang hanya menjadi ekspektasi semata jika nanti lulus kuliah dan mendapatkan ijazah S1 bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan mampu memperbaiki perekonomian keluarga. Ada juga yang berfikiran nanti agar bisa jadi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau yang biasa disebut PNS (Pegawai Negeri Sipil).
Ekspektasi-ekspektasi tersebut sampai sekarang masih ada di fikiran para mahasiswa, tidak pandang di Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta. Padahal realitanya, banyak sarjana yang setelah lulus menjadi pengangguran. Pada tahun 2018 lalu, Menristekdikti (Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi) Mohammad Nasir mengatakan ada 630.000 sarjana yang menjadi pengangguran. Ini menjadi PR bersama bahwa masih banyak mahasiswa pasca lulus belum mendapatkan pekerjaan.
Sebagai mahasiswa, idealnya mampu memberikan solusi atas konflik-konflik yang ada di masyarakat. Bukan malah menambahi konflik dengan menjadi pengangguran setelah lulus dari bangku perkuliahan.
Untuk bisa menyelesaikan persoalan tersebut bisa ditarik dari pangkal semuanya, yakni pola pikir dan mental. Ternyata bangsa ini masih banyak yang ingin kaya dengan praktis, bermental konsumtif, dan memilih jalan yang nyaman, bukan sukara dan mendaki. Setidaknya hal-hal semacam ini bisa dimulai dari para mahasiswa yang idealnya telah memiliki jiwa agen perubahan.
Perubahan yang perlu diubah pertama kali yaitu dari mental. Mental menjadi orang kaya harus ditanamkan sejak dini mungkin dengan cara suka memberi dan sedikit menerima. Bahkan jangan sampai meminta-minta. Kondisi di lapangan masih banyak pola pikir yang selalu ingin diberi, sehingga jika ia lapar atau bahkan tidak punya uang selalu menyalahkan pemerintah, bahkan ada juga yang menyalahkan Tuhan.
Jika orang bermental kaya, ia tak pernah menyalahkan orang lain, tak pernah menyalahkan keadaan, melainkan menyalahkan diri sendiri lalu bangkit dan berubah. Jika lapar maka harus bekerja, jangan hanya berdiam diri menunggu ada orang yang memberi dan mengkasihani.
Dalam bekerja pun harus keras, jujur, dan dapat dipercaya. Kerja tidak harus menjadi karyawan, melainkan bisa dengan berdagang, dan ini lebih baik. Dalam berdagang bisa dengan hanya modal kepercayaan. Contoh dengan pergi ke pasar untuk membantu menjualkan barang dagangan orang lain dengan mengambil keuntungan beberapa persen. Dilakukan dengan konsisten hingga mampu mengumpulkan modal dan bisa berjualan sendiri.
Persoalan Kerja jangan malah mencari-cari lowongan pekerjaan yang menjadi rebutan banyak orang dikarenakan dapat gaji pasti dan bisa membuat masuk ke zona nyaman. Ini yang menjadi problematika di masyarakat yang lebih suka menjadi karyawan dibandingkan jadi pedagang.
Jika bermental kaya, tentunya tidak akan memiliki sifat konsumtif, melainkan harus memiliki sifat produktif. Realitanya tidak demikian, tujuan orang-orang bekerja untuk mendapatkan gaji, dari gaji tersebut akan mendapatkan surplus, dan dari surplus tersebut akan digunakan untuk bersenang-senang. Siklus tersebuat akan berputar terus, dan ini yang terjadi di sekeliling kita.
Penyebab utamanya adalah rasa aman, merasa memiliki banyak sumberdaya, memiliki banyak saudara dan tetangga. Sehingga dari rasa aman tersebutlah yang menjadikan malas bekerja. Lihat saja di pulau jawa khususnya, di kampung-kampung dan di kota-kota pemilik restaurant, toko material, hotel dan swalayan kebanyakan bukan orang pribumi, melainkan orang pendatang yang mencari penghidupan disini.
Para pendatang memiliki semangat bekerja keras karena merasa tidak aman, jika tidak bekerja maka tidak makan, jika tidak makan nanti akan mati. Itulah yang ada di dalam fikiran mereka sehingga mendorong semangat bekerja dan berinovasi agar bisa mendapatkan uang dan kekayaan.
Melihat fenomena-fenomena tersebut perlu penyadaran terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar bahwa sejahtera secara ekonomi perlu ditingkatkan. Jangan hanya ingin kaya tetapi mental belum siap untuk kaya. Jang pernah berharap punya penghasilan jika tidak bekerja, dan jangan pernah bermimpi untuk membuat lapangan kerja jika masih berkompetisi cari lowongan kerja. Harus berwirausaha agar mampu sejahtera dan mampu menolong teman-teman kita. Lebih banyak memberi daripada menerima.

