Site icon Baladena.ID

Mental Health dalam Membentuk Keharmonisan Rumah Tangga

Semua orang tentu menginginkan pernikahan yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan dan dapat mendukung keinginan mereka. Pernikahan yang bahagia sangat diperlukan untuk menjadikan suatu rumah tangga memiliki kenyamanan yang abadi. Beberapa riset menunjukkan pernikahan bahagia berhubungan erat dengan tingkat kesehatan emosional dan juiga fisik yang baik dari pasanagan mereka. Namun, sayangnya pernikahan yang berbahagia semakin langka ditemukan di Indonesia. Tingkat kepuasan dalam sebuah pernikahan pun nampak semakin rendah.  Tingkat perceraian semakin meningkat, bahkan untuk mereka yang tidak bercerai, tetap memiliki permasalahan mengenai penurunan kepuasan dalam sebuah pernikahan.

Sebuah penelitian melakukan analisi terhadap faktor-faktor apa saja yang berkaitan erat dengan pernikahan yang berbahagia. Berdasarkan penelitian tersebut, diperoleh suatu data bahwa kepuasan suatu pernikahan terganntung pada tiga hal. Pertama, kerentanan. Kerentanan yng dimaksud disini adalah suatu karakteristik stabil yang sudah dibawa pasangan sejak mereka menikah. Seperti latar belakang keluarga dan kepribadian yang mereka miliki. Mereka yang memiliki tingkat kerentanan yang besar mengenai latar belakang keluarga mereka, misal keluarga yang sering adu mulut, serta polah asuh yang salah sehingga membentuk masalah kepribadian akan sangat kesulitan dalam membentuk kelurga bahagia saat ia sudah memilki keluarga nantinya. Sesuatu yang dia dapatkan dari keluarganya, akan secara otomatis menjadi laboratorium dalam praktik kehidupannya. Al hasil hal buruk tersebut akan membentuk kepribadinnya saat ia telah berkeluarga.

Kedua, Stress. Stress adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami tekanan berlebih sebagai akibat dari permasalahan yang sedang dihadapi. Semakin besar stress yang dialami oleh seseorang saat berumah tangga, semakin besar pula peluang bagi mereka untuk mengalami perceraian. Penyebab stress yang dialami seseorang dalm rumah tangga bisa dipicu dari berbagai faktor. Diantaranya tuntutan ekonomi yang semakin tidak stabil, kurang pengetahuan dalam pola asuh anak, kesibukan suami atau istri hingga taka da waktu satu sama lain, permasalahn dari lingkungan sekitar, dan masih banyak lagi.

Ketiga, proses adaptasi. Adaptasi disini mengacu pada proses menyeimbangkan diri dengan llingkungan baru. Saat seseorang sudah memutuskan untuk menikah, tentu ia sudah mengetahui dan siap untuk menerima lingkungan pasangan barunya. Ia akan berada di lingkungan dan suasana baru tersebut. dengan begitu ia harus mampu memiliki cara berkomunikasi yang tepat untuk orang-orang baru di sekitarnya.  Selain itu, tentu akan ada permasalahan baru yang akan ia hadapi dan belum pernah dihadapi sebelumnya. Jika dia tak bisa menjalani proses adaptasi dengan baik, tentu ia juga tidak akan bisa memiliki kebahagiaan dalam pernikahannya.

Sebelum mengacu kepada proses perjalanan sepasang kekasih dalam berumah tangga, tentunya kita akan membahas terlebih dahulu mengenai alasan kedua pasangan tersebut memutuskan untuk menjalin janji sucinya. Pola ketertarikan menjadi penyebab utama yang paling banyak ditemui saat dua orang manusia memutuskan untuk menjalin hubungan.

Miller (2015) berpendapat seseorang biasanya tertarik pada orang lain yang bisa memberi keuntungan baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti perhatian, keuntungan finansial, berpenampilan menarik, dan kepribadian yang baik. Sekalipun ketertarikan ini terjadi karena adanya pengharapan akan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, tidak semua orang menyadari semua alasan mengapa mereka tertarik pada seseorang. Ketertarikan mereka lebih didorong oleh alam bawah sadar mereka.

Seseorang mungkin sudah mempunyai kriteria pasangan ideal yang diinginkannya, namun dalam praktek di lapangan, orang yang disukainya tidak selalu memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Tidaklah mengherankan banyak orang yang salah memilih pasangan. Yang lebih merepotkan lagi, ternyata memutuskan hubungan yang sudah berlangsung tidak semudah yang dibayangkan. Banyak orang merasa tidak nyaman memutuskan hubungan dengan pasangannya karena kasihan dan tidak mau menyakiti pasangannya sehingga mereka terperangkap dalam hubungan yang buruk.

Namun, pada realitanya semakin banyak saja pernikahan yang justru berujung pada perceraian. Salah satu penyebab banyaknaya perceraian yang terjadi adalah kurangnya kehati-hatian mereka dalam memilah dan memilih calon pendamping hidupnya. Adakalanya mereka hanya memandang keuntungan lahiriyyah saja. tanpa mereka sadari, bahwa ada hal lebih penting yang harus mereka pikirkan, yakni problematika bathiniyyah.

Pernikahan merupakan ibadah terpanjang, sehingga selama menjalani hal tersebut, pasti akan menamukan banyak sekali rintangan dan juga ujian. Entah itu berasal dari faktor internal ataupun faktor eksternal. Disinilah letak ketahanan sepasang suami istri di uji. Berapa besar kekompakan mereka dalam menghadapi guncangan ataupun ombak yang menerpa rumah tangga mereka. Atau justru sebalinya, masing-masing merekalah yang menciptakan guncangan itu sendiri.

Oleh karena itu, tiga hal yang menjadi faktor tingkat kepuasan seseorang terhadap pernikahan tersebut harus benar-benar diperhatikan sejak dini. Karkater yang sangat mungkin kita bawa hingga kehidupan berkeluarga nanti juga harus ditangani dengan baik. Agar tidak hanya menciptakan mental health yang baik bagi diri sendiri, namun juga keharmonisan yang abadi dalam pernikahan.

Exit mobile version