Site icon Baladena.ID

Menolak Kemiskinan dengan Seni

Judul                : Kilatsyah Dalam Jeratan Kemiskinan

Penulis             : Muhammad Fachrul Hudallah

Halaman          : 221

Penerbit           : CV. Nakomu

Novel ini merupakan karya tulis dari salah satu kader HMI, mahasiswa Universitas Wachid Hasyim Semarang yaitu Muhammad Fachrul Hudallah. Penulis merampungkan karyanya ini sebagai hadiah untuk dirinya di umur 20 tahun. Namun, ketika tiba hari spesialnya tersebut, ia belum rampat merampungkannya dan akhirnya terselesaikan disaat libur kuliah serta sedang tidak menjual hijab di tokonya.

Isi buku ini berisi kisah seorang anak kecil yang dikisahkan berasal dari desa kecil di Kudus. Penulis mengemas cerita ini dengan apik sehingga dapat mencampuradukkan suasana pembaca dengan cerita yang ada di dalam novel ini. Lalu, gaya penulis dalam menceritakan runutan kisah di novel ini mengukuti kebutuhan dalam setiap bagiannya, yakni setiap objek yang diceritakan dapat seolah menjadi objek pertamanya walaupun lebih dominan pada Kilatsyah sebagai tokoh utama.

Kilatsyah di dalam cerita ini diceritakan sejak menjelang kelahirannya hingga dewasa dan berkeluarga. Kilatsayah lahir di tengah keluarga yang sangat sederhana dari kedua orang tua yang hidup pas-pasan bahwa kekurangan. Walaupun demikian, orang tua Kilatsyah yaitu Aniq dan Retno tidak berpikiran untuk menjadi penerima atau orang yang meminta-minta kepada orang lain. Hidup yang berkualitas itu bukan dari belas kasihan orang lain melainkan hasil keras sendiri, sehingga hal inilah yang terbangun di dalam mindset Kilatsyah hingga dewasa.

Walaupun Kilatsyah lahir dari keluarga miskin dan selalu dihina oleh teman-teman baik di lingkungan sekolah atau masyarakat, Kilatsyah selalu tertanam sikap tidak sakit hati dan membalas secara langsung ataupun menerima belas kasihan secara mudah dari orang lain. Kilatsyah kecil dididik dengan penuh kasih sayang, pendidikan karakter dan spiritual yang cukup setiap harinya. Ia, memang miskin akan finanasial, namun kaya dalam hal yang lainnya terkhusus kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Ketika Kilatsyah mencoba untuk bergabung bermain ke anak-anak sekitar tempat tinggalnya, selalu ia dicemooh dan tidak diterima. Namun, dari beberapa kali ia coba untuk bergabung Kembali dan tetap diperlakukan sama oleh anak-anak di desannya, ada satu anak laki-laki bernama Mahmud yang berkenan untuk bermain kepadanya.

Mahmud dan Kiki yang menjadi sapaan Kilatsyah senantiasa bermain bersama setiap harinya dan tolong menolong layaknya teman melibihi saudara. Bahkan ketika Kiki dihujat habis-habisan oleh teman-teman di desa dan teman-teman di sekolahnya, justru Mahmud yang tidak terima dan terpancing emosi serta ingin membalas orang-orang yang telah menghina Kiki atas dasar kemiskinan. Namun, Kiki senantiasa dapat meredam Mumud yang naik pitam bahwa tidak perlu api dibalas dengan api, toh yang disampaikan oleh mereka adalah benar adanya bahwa Kiki memang terlahir dari keluarga yang miskin. Namun, Kiki juga menyampaikan bahwa ia telah memiliki cara tersendiri untuk membalasnya yaitu dengan sebuah seni.

Mahmud sampai heran dengan Kiki. Ia menemukan sosok teman yang sangat langka bahkan dirinya sendiri tidak mampu untuk melakukannya, sehingga hal ini membuat Mahmud juga menyayangi Kiki layaknya saudaranya kandung, dan Kiki pun demikian.

Kiki terus tumbuh di dalam asuhan kedua orang tua yang sangat menyayanginya dan penuh kerja keras. Ibunya harus berjuang setiap harinya untuk berjualan gorengan keliling kampung untuk mencukupi kebutuhan keluarganya sejak Ayah Kiki yaitu Aniq yang mengalami patah tulang sehingga tidak dapat membantu mencari nafkah untuk menghidupi kelurganya. Kiki pun sangat menyangi kedua orang tuanya hingga ia turut terjun langsung menjajakan gorengan yang dibuat oleh ibunya, hingga pada suatu hari Ibunya mengalami kecelakaan parah yang menjadinya Kiki full menjadi tulang punggung bagi keluarga walaupun masih menginjak kelas satu SD.

Perjuangan Kiki menjadi penjual gorengan terus berlanjut hingga Kiki melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMA. Apalagi setelah kehilangan sang Ibu yang menjadi malaikat untuknya harus Kiki terima dengan penuh ikhlas. Kiki yang dahulu hingga Kiki yang tengah beranjak menuju dewasa dari masa remaja terus saja mendapatkan hinaan dari teman-temannya tentang kemiskinan.

Teman-teman Kiki mengartikan seolah-olah aib bagi dunia menjadi orang yang miskin seperti Kiki dan keluarganya sehingga apapun aktivitas yang dilakukan oleh Kiki senantiasa diganggu dan dikacaukan seperti Kiki merupakan tempat pelampiasan dan simbol kemiskinan. Namun Kiki terus saja tidak membalas, ia justru semakin bersemangat dalam menempuh pendidikan dan senantiasa menadapatkan peringkat terbaik satu angkatan. Tentunya hal ini semakin memancing amarah para teman-teman yang tidak menyukai Kiki.

Kiki sudah berkali-kali coba dijebak dengan uang namun, karena ia telah terpondasi kuat dari kedua orang tuanya agar tidak tergoda dengan materi dan menjadi orang rendahan  maka Kiki tidak pernah menerima uang licik yang akan dijadikan teman-temannya untuk mengahalalkan segaal cara agar sama-sama memiliki nilai yang bagus. Ternyata, kecemburuan sosial terjadi pada Mahmud kepada Kiki, karena Kiki telah menemukan teman baru yang berkenan belajar bersama dengannya hingga kecemburuan itu berlarut-larut hingga masa dewasa telah tiba diantara keduanya. Kiki senantiasa memiliki cara-cara unik untuk membalas semua caian, hinaan, dan hal-hal buruk yang orang lain utarakan untuknya dan keluarganya tentang jeratan kemiskinan.

Cerita yang disampaikan penulis di dalam novel ini tidak ditemukan kata-kata baru yang dapat digunakan sebagai penambah kosa kata. Kata-kata yang digunakan umum dan cukup mudah dipahami sehingga buku ini cukup ringan dibaca sebagai bahan bacaan setiap harinya atau sebagai pengobat rasa penat setelah aktivitas seharian. Selain alur ceritanya yang menarik dan memunculkan nilai-nilai kehidupan yang dapat dipetik dari setiap bagiannya, ada motivasi-motivasi baru yang seakan menjadi vitamin tersendiri bagi pembaca karena tidak menutup kemungkinan bahwa banyak bagian real yang sama dialami oleh sosok Kilatsyah maupun pembaca.

Adapun kekurangan dari buku ini dapat dikatakan sangat kecil, karena cetakannya rapi, nyaman untuk dibaca dan bukunya juga ringan. Kekurangan kecil tersebut yaitu, masih ditemukan kata-kata hubung di yang digunakan sebagai kata diawal kalimat, maka saran ke depannya agat dapat diperbaiki dan semoga terbitnya buku ini dapat memotivasi generasi muda dimanapun berada untuk menciptakan karya-karya yang indah. Temukan cerita selengkapnya di dalam novel ini yaitu “Kilatsyah dalam Jeratan Kemiskinan”.

 

Wallahu a’lam Bi al-showwab.

Sosok Reviewer

Penulis review dari buku yang telah ia baca ini merupakan seorang peneliti Islamic Research Center Jawa Tengah. Ia sangat menyukai dunia tulis menulis khusunya karya ilmiah sejak dirinya menjadi pelajar berseragam putih abu-abu. Namun, selain tulisan ilmiah kini ia juga menekuni karya tulis populer sehingga dapat dijumpai tulisan-tulisannya dibeberapa tulisannya dapat dijumpai di laman baladena.id, monasmedia, darus.id jogjakartanews dan lainnya. Lalu, penulis juga seorang aktivis di beberapa organisasi kampus dan kepemudaan sekaligus mahasantri di pondok perkaderan Monash Institute Semarang. Kemudian, ia juga merupakan pelajar di sekolah miliarder yang mencetak para miliarder muda setiap tahunnya. Penulis merupakan seorang perempuan kelahiran OKU TIMUR, 1 Agustus 2001 silam. Kenalan lebih jauh dengan penulis dapat melalui IG: yulia_010801, FB: Yulia Mayasari, Gmail: yuliamayasari010801@gmail.com.

 

Exit mobile version