Site icon Baladena.ID

Menjadi Santri Sociopreneur

Menjadi seorang santri di era modern tidak hanya tentang mendalami ilmu agama dan menjalankan ibadah secara khusyuk. Di zaman yang semakin berkembang ini, santri juga dituntut untuk mampu beradaptasi dengan berbagai dinamika sosial dan ekonomi yang ada. Salah satu konsep yang mulai diperkenalkan dan ditekankan di berbagai pondok pesantren adalah menjadi santri sociopreneur. Dr. Mohammad Nasih, atau yang akrab disapa Abah Nasih, dalam ceramahnya di hadapan para santrinya di Sekolah Alam dan Pondok Pesantren Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang, menegaskan pentingnya menjadi santri yang sociopreneur.

Santri sociopreneur bukanlah istilah yang biasa kita dengar. Konsep ini menggabungkan elemen keagamaan dengan kewirausahaan sosial. Menurut Abah Nasih, santri harus memahami berbagai peran dalam dunia kerja dan usaha: karyawan, pengusaha, profesional, dan sociopreneur. Dalam pengertian yang sederhana, karyawan adalah orang yang tidak punya banyak uang dan tidak punya banyak waktu luang. Pengusaha adalah orang yang punya banyak uang dan punya banyak waktu luang. Profesional adalah orang yang banyak uang tetapi tidak punya waktu luang. Sedangkan sociopreneur adalah orang yang banyak uang dan banyak waktu luang, tetapi waktu dan uangnya digunakan untuk berjuang demi kepentingan sosial.

Dr. Mohammad Nasih, pendiri dan pengasuh Planet Nufo Rembang, berpendapat bahwa jika mereka bisa mewujudkan santri sociopreneur di sini, ini akan menjadi satu-satunya sekolah dan pondok pesantren di Indonesia yang punya santri sociopreneur. Pentingnya menjadi santri sociopreneur tidak hanya terletak pada aspek ekonomi semata, tetapi juga pada nilai-nilai yang diemban dan dikembangkan dalam prosesnya. Santri sociopreneur harus mampu menjadi agen perubahan di masyarakat, yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan pribadi tetapi juga pada kesejahteraan bersama.

Memahami perbedaan antara karyawan, pengusaha, profesional, dan sociopreneur adalah langkah pertama yang harus diambil oleh para santri. Karyawan seringkali bekerja untuk orang lain dan memiliki keterbatasan dalam hal waktu dan finansial. Mereka mungkin tidak punya banyak waktu untuk beraktivitas di luar pekerjaan dan pendapatan mereka seringkali cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya, pengusaha memiliki kendali lebih besar atas waktu dan finansial mereka. Mereka menciptakan lapangan pekerjaan dan dapat mengatur waktu mereka sendiri, namun motivasi utama seringkali adalah keuntungan finansial.

Profesional adalah individu yang memiliki keahlian khusus dan biasanya bekerja di bidang yang membutuhkan keterampilan tinggi. Mereka mungkin memiliki pendapatan yang tinggi, tetapi waktu mereka sangat terbatas karena keterlibatan penuh dalam pekerjaan mereka. Sociopreneur, di sisi lain, menggabungkan elemen-elemen positif dari ketiga peran tersebut. Mereka memiliki keuangan yang baik, waktu yang cukup, dan yang paling penting, mereka menggunakan sumber daya tersebut untuk berkontribusi pada masyarakat.

Menjadi santri sociopreneur tentu bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana menyeimbangkan antara kegiatan keagamaan dengan aktivitas kewirausahaan. Santri dituntut untuk tetap menjalankan ibadah dan mendalami ilmu agama, sementara di sisi lain mereka juga harus belajar tentang kewirausahaan dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Selain itu, ada tantangan dalam hal keterbatasan akses terhadap modal dan pasar. Namun, tantangan ini dapat diatasi dengan adanya dukungan dari pesantren dan masyarakat sekitar. Pondok Pesantren Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang, misalnya, telah menunjukkan komitmennya untuk mensosialisasikan pentingnya menjadi santri sociopreneur. Melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan, pesantren ini berusaha memberikan bekal yang cukup bagi para santri untuk menjadi sociopreneur yang sukses.

Peluang menjadi santri sociopreneur juga sangat besar. Dengan berkembangnya teknologi dan akses informasi yang semakin mudah, santri memiliki kesempatan untuk mengembangkan usaha mereka secara lebih luas. Mereka bisa memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk mempromosikan produk atau jasa yang mereka tawarkan. Selain itu, dengan adanya jaringan alumni pesantren yang kuat, santri dapat saling mendukung dan bekerja sama dalam mengembangkan usaha mereka.

Nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang santri sociopreneur meliputi kejujuran, kemandirian, keberanian, dan kepedulian sosial. Kejujuran adalah fondasi utama dalam setiap kegiatan usaha. Santri harus selalu jujur dalam berbisnis, baik kepada pelanggan, mitra bisnis, maupun kepada diri sendiri. Kemandirian berarti santri harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung pada orang lain, dan memiliki inisiatif dalam mencari peluang dan solusi.

Keberanian juga sangat penting, terutama dalam menghadapi berbagai risiko dan tantangan dalam berwirausaha. Santri harus berani mengambil keputusan, menghadapi kegagalan, dan terus mencoba hingga mencapai kesuksesan. Kepedulian sosial adalah esensi dari sociopreneurship. Santri harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Mereka harus mampu melihat masalah-masalah sosial yang ada dan mencari cara untuk mengatasinya melalui kegiatan usaha.

Menjadi santri sociopreneur adalah sebuah panggilan untuk berkontribusi lebih dalam pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat. Dengan memahami perbedaan antara karyawan, pengusaha, profesional, dan sociopreneur, santri dapat menentukan arah dan tujuan mereka dalam berkarya. Tantangan yang ada harus dijadikan motivasi untuk terus belajar dan berkembang, sementara peluang yang ada harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Nilai-nilai kejujuran, kemandirian, keberanian, dan kepedulian sosial harus menjadi landasan dalam setiap langkah yang diambil. Dengan begitu, santri sociopreneur tidak hanya sukses dalam hal finansial, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat. Pondok Pesantren Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang, di bawah bimbingan Abah Nasih, telah memulai langkah penting dalam mengembangkan konsep ini, dan semoga dapat diikuti oleh pesantren-pesantren lainnya di seluruh Indonesia.

 

Oleh: Gunawan Trihatoro, Wali Sanja Planet Nufo Rembang dan penulis buku-buku Moderasi Beragama di Kemenag RI.

Exit mobile version