Site icon Baladena.ID

Menjadi Ayah Tak Semudah Menikah

Bapak Ibu Guru

Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Rumah Perkaderan Monash Institute, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ.

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidh al-Qur’an Monash Institute Semarang, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ.

Pada saatnya, semua lelaki normal yang menjalani fithrah akan menjadi ayah. Saat itulah tanggung jawab kian bertambah. Namun, ternyata banyak yang tidak menyadarinya, sehingga tidak mempersiapkan diri untuk menjalankannya dengan mudah.

Menjadi ayah tak semudah menikah. Hanya datang kepada wali calon istri, lalu menyediakan mahar yang bahkan bisa dengan sekedar bismillah. Menjadi ayah berarti harus menjalankan berbagai peran dan fungsi di antaranya yang utama adalah sebagai pelindung, pelayan, penanggung beban atau tulang punggung keluarga, pendidik, motivator, pemimpin, teladan, dan eksekutor.

Sebagai pelindung, berarti harus memiliki kemampuan untuk membuat anak-anak merasa aman dari segala gangguan yang datang dari luar. Yang paling mendasar yang harus disediakan adalah tempat tinggal yang layak bagi kemanusiaan yang bisa membuat aman dan teduh dari panasnya matahari, dinginnya angin malam, dan juga siraman air hujan. Singkatnya, seorang ayah, harus siap untuk memberikan pangan, sandang, dan juga papan (tempat tinggal)

Sebagai pelayan berarti harus melakukan aktivitas-aktivitas yang pada umumnya dilakukan oleh para budak di zaman dulu dan pembantu di zaman sekarang. Di saat istri akan melahirkan, harus sudah bersiap siaga untuk menemani dan membuatnya tenang, agar anak lahir selamat. Saat sudah lahir, harus tetap siaga untuk mengerjakan apa saja yang diperlukan yang tidak atau belum bisa dilakukan oleh istri untuk anaknya karena keadaan pascamelahirkan. Di malam hari, saat anak bangun berkali-kali, harus menggantikan popok yang kotor oleh urine dan tinja, padahal sedang nyenyak-nyenyaknya tidur. Harus menimang-nimang sampai bayi tidur, padahal kantuk benar-benar tak tertahankan. Kesabaran diuji karena lelaki tidak memiliki keterlibatan seintens perempuan yang bisa mengeluarkan adrenalin untuk mengurus anak.

Sebagai penanggung beban berarti memberikan apa pun yang anak minta, bukan sekedar yang anak butuhkan. Pada saat masih sendiri, bahkan sudah beristri, semua bisa berada dalam kendali. Keinginan bisa menyesuaikan kondisi, terutama kondisi keuangan. Bahkan lapar pun bisa ditahan, walaupun berhari-hari. Namun, jika anak balita sudah menginginkan sesuatu, sudah sulit untuk melakukan kendali. Beruntung jika fokus keinginan anak bisa dialihkan, karena akan terdiam dari tangis dan rengekan. Jika tidak, tidak ada jalan lain kecuali menuruti keinginannya. Apalagi jika mereka sudah menangis karena lapar. Tidak mungkin meminta anak-anak untuk menahan lapar. Dan berpura-pura memasak batu seperti seorang ibu pada masa Khalifah Umar hanya akan membuat mereka tertidur sebentar karena menunggu karena mengira akan segera bisa makan. Namun, setelah itu, anak-anak akan bangun kembali dan melanjutkan tangis karena lapar. Lebih dari itu, mereka akan menjadi anak-anak yang kekurangan gizi dan berimplikasi kepada penurunan kecerdasan. Anak-anak yang mestinya menjadi investasi, justru akan menjadi beban, karena mereka akan menjadi generasi yang tidak bisa diharapkan. Bukan karena mereka, tetapi karena ayah mereka yang tidak siap menghadapi tuntutan.

Sebagai pendidik harus memahami fase tumbang, alias tumbuh kembang. Harus tahu kapan anak bisa distimulasi, diajak untuk mengulang kata, diperkenalkan kepada syair untuk menyanyi dan mengenal nada untuk menguatkan rasa, diajak membaca lalu menulis merangkai kata dan menajamkan logika, dilatih berpikir kritis dan mulai banyak tanya, tidak hanya mengisinya dengan pengetahuan ideologis bagaikan mengisi gelas kosong, tetapi juga mengobarkan api di dalam diri anak, sehingga nanti bisa mencari sendiri pengetahuan karena selalu membuntuti rasa penasaran.

Sebagai motivator harus bisa membuat semangat anak terjaga, sehingga memiliki tenaga ekstra untuk meningkatkan kualitas, baik jiwa maupun raga, baik fisik, mental, maupun spiritual. Dengan demikian, anak akan melakukan percepatan dalam proses menjadi manusia yang seutuhnya. Tidak hanya religiusitasnya yang akan semakin menguat, tetapi juga intelektualitas dan profesionalitasnya. Dengan begitu, saat anak menginjak dewasa, dia sudah menjadi pribadi mandiri, tidak manja dan selalu mengandalkan pertolongan orang tua.

Sebagai pemimpin harus mampu mengarahkan anak-anak dengan berbagai cara yang tepat, dan seringkali berbeda antara satu anak dengan anak yang lain, karena setiap anak pasti unik, walaupun lahir dari rahim yang sama. Karena itu, seorang harus pandai menempat diri; kadang berada di depan, kadang di tengah, dan kadang juga di belakang, menyesuaikan sikon dan kebutuhan. Sebagai pemimpin, sorang ayah juga harus memiliki visi yang jelas dan membuatnya bisa ditangkap oleh anak-anak, sehingga mereka telah mampu membangun imajinasi sejak dini. Jika imajinasi itu terus dipupuk, maka akan menjadi semakin kuat dan pada gilirannya akan melahirkan dorongan besar dalam diri untuk bekerja sekuat tenaga.

Sebagai teladan, seorang ayah harus berusaha sekuat tenaga untuk mampu menunjukkan hanya yang baik-baik saja kepada anak. Sebab, kemampuan paling hebat pada anak adalah meniru. Apa yang anak lihat dan dengar, itulah yang akan dilakukannya. Jika buruk yang dia lihat dan dengar, maka anak akan mengarah kepada kepribadian yang buruk, sehingga diperlukan usaha untuk memperbaikinya. Padahal jika keburukan itu didapatkan dari figur ayah, maka anak akan melakukan protes, karena yang dia lakukan adalah tiruan dari ayah. Misalnya, banyak ayah merokok, tetapi melarang anaknya untuk merokok. Tentu saja itu akan menimbulkan pikiran dalam diri seorang anak bahwa ayahnya adalah orang yang tidak konsisten. Memerintahkan untuk meninggalkan keburukan, tetapi dia sendiri melakukannya. Itulah pangkal kegagalan untuk bisa menjadi teladan.

Sebagai eksekutor; ini yang tergolong paling tidak mudah. Bagi kebanyakan orang, anak adalah makhluk Tuhan yang paling disayang. Namun, dalam kehidupan praktis, jika anak melakukan kesalahan berulang, maka harus ada tindakan tegas. Ketegasan itu paling bisa diharapkan dari seorang ayah, bukan ibu. Sebab, yang dominan dalam diri seorang perempuan adalah perasaan. Namun, dalam melakukan eksekusi, harus dicari cara agar anak bisa terhindar dari tindakan yang bisa membuat hatinya tersakiti, apalagi sampai membuat tubuhnya terluka. Untuk sampai pada tindakan mengeksekusi, harus dicari cara agar anak terhindar dari tindakan keras ayah. Misalnya dalam kasus perintah untuk menjalankan shalat. Bahkan Rasulullah saw. memerintahkan untuk memukul anak yang sudah usia di atas tujuh tahun tetapi melalaikan shalat. Dalam konteks ini bisa dilakukan cara mengajak anak untuk shalat. Dan jika tetap mengabaikan, maka bisa dilakukan peringatan dengan cara menghitung: satu, dua, sampai tiga. Dengan melakukan cara itu, anak akan tahu bahwa jika dia tidak melakukan perintah, maka dia akan terkena hukuman. Namun, jika segera menjalankannya, dia akan terhindar dari eksekusi. Baru jika anak benar-benar mengabaikan, padahal sudah pada hitungan ketiga, maka tindakan keras dengan mengeksekusi hukuman harus dilakukan, dengan tujuan utama membuat anak jera mengulang kesalahan. Tentu tindakan itu harus juga disertai dengan memberikan pengertian kepada anak, agar anak mulai bisa memahami bahwa segala tindakan ayah, walaupun dirasakan menyakitkan, tujuannya adalah untuk kebaikan. Kemampuan menjelaskan sangat diperlukan agar perintah tidak dianggap sebagai beban, tetapi sesungguhnya adalah kebutuhan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Exit mobile version