Site icon Baladena.ID

Meniru Perjuangan Cak Nun

Bingung saya mulai darimana menulis tentang sosok satu ini. Sudah banyak yang membahas tentangnya. Kiprahnya di tengah masyarakat tak usah diragukan lagi. Ya, saat ini saya ingin sedikit mengulas tentang Emha Ainun Nadjib atau yang biasa dikenal dengan sebutan Cak Nun. Sebagian kawan-kawan dekatnya mengakui akan pengabdian dan dedikasi Cak Nun untuk agama, nusa, dan bangsa. Dia manusia multidimensi dengan segala macam sepak terjangnya. Dibilang sebagai kolumnis handal ya tidak terbantahkan. Dikatakan sebagai penggerak dan konseptor grup teater juga tak bisa disangkal. Diberikan predikat sebagai pengamat politik dan budaya juga sah-sah saja. Dia juga dikenal luas sebagai kiai dan budayawan. Semua itu sangat cocok dengan apa yang selama ini dikerjakannya. Cak Nun adalah manusia yang tak bisa diikat oleh stempel yang menyertainya. Baik sebagai seorang intelektual maupun seniman. Dia selalu berkarya tanpa lelah. Hidup dalam medan perjuangan. Ikatannya dengan masyarakat begitu kuat. Sepertinya Cak Nun tak begitu mempedulikan ketenaran, materi, dan kekuasaan.

Jika memang menginginkannya, saya rasa semua itu tidak begitu sulit bagi sosok sekaliber Cak Nun. Terbukti, dari masa Orde Baru hingga saat ini, Cak Nun sama sekali pernah menduduki jabatan apapun. Dia justru lebih senang dan menikmati bergiat dengan Kiai Kanjeng dan Majelis Maiyahnya. Dari berbagai pelosok Tanah Air, dia intens membersamai masyarakat. Dia menjadi wadah bagi masyarakat untuk berdiskusi dan berkeluh kesah mengenai beragam persoalan. Mulai dari persoalan politik nasional, hingga bagaimana sulitnya bertahan hidup di era sekarang. Cak Nun mengajak masyarakat berpikir lebih jernih dan lebih reflektif. Dia juga tak bosan-bosan menanamkan rasa cinta kepada Allah dan Rasulullah ke dalam hati masyarakat. Dari panggung ke panggung, dia kerap kali menjadi juru dakwah yang menyejukkan. Tidak hanya itu, dia juga sering melontarkan jokes-jokes ‘ lucu. Tak heran, para jemaahnya tertawa terpingkal-pingkal mendengarkannya. Di sisi lain, dia juga mengajak mereka berpikir secara mendalam. Berpikir secara lebih radikal lagi mengenai tetek bengek kehidupan. Dalam hal ini, Cak Nun benar-benar menjadi pelita bagi pendengarnya.

Tulisan ini, sama sekali tidak berniatan untuk mengkultuskan sosok Cak Nun. Bagaimanapun juga, kita harus sepakati dulu, bahwa Cak Nun, sama seperti kita; membutuhkan makan, minum, dan sebagainya. Cak Nun tak pernah lepas dari salah dan khilaf. Kita harus mengakui sisi manusiawinya. Bagi mereka yang membencinya, biasanya selalu mencari kesalahan untuk menjatuhkannya. Namun, bagi pecintanya, Cak Nun adalah pelita yang menerangi langkah-langkah mereka. Ibarat kompas yang menunjukkan jejak langkah mereka. Cak Nun sendiri tidak ingin diagung-agungkan. Bahkan dia tidak merasa atau beranggapan dirinya sebagai guru bagi jemaahnya. Tapi, kita mengakui, bahwa Cak Nun tetaplah guru bagi kita. Guru yang membimbing hati dan pikiran kita. Jujur saja. bangsa ini harus berterima kasih terhadap apa yang dilakukan oleh Cak Nun. Terutama bagi generasi milenial, rasa-rasanya perlu untuk menjadikan sosok Cak Nun sebagai inspirator mereka.

Saya pribadi penasaran, bagaimana kisah hidup Cak Nun,. Bagaimana perjalanan hidupnya selama ini. Ternyata, sedari belia, karakter dan bakat kepemimpinannya mulai terasa. Sebagian mengenal sosok Cak Nun muda sebagai pembangkang atau pemberontak. Dia tidak bisa ditundukkan oleh sistem, organisasi, atau kharisma seorang tokoh. Sepertinya, cikal bakal sebagai sosok Pendobrak mulai nampak dari kecil. Hemat saya, Cak Nun ini mengalami fase pencarian identitas dan jati diri mulai dari usia belia. Hal itulah yang membawanya sempat menjadi ‘Gelandangan’ di Malioboro, Yogyakarta. Namun, percayalah, dia tidak sekadar menjadi gelandangan biasa. Dia mengamati kehidupan. Dia belajar dari realitas sosial di sekelilingnya. Di Malioboro, Cak Nun muda berkenalan dengan sejumlah seniman dan intelektual. Bahkan, dia sempat tergabung dengan beberapa komunitas seni di Malioboro. Seperti halnya bergabung dengan Persada Studi Klub (PSK), sebuah ruang studi sastra bagi penyair muda. Sempat juga menjadi jurnalis dan redaktur media massa pada periode tersebut.

Tidak hanya itu, ketekunannya dalam menulis, tak usah diragukan lagi. Dia termasuk sosok yang konsisten dalam menulis. Sejumlah karya-karyanya, baik yang berbentuk essai, puisi, maupun cerpen berhasil terbit di sejumlah media ternama saat itu. Di usianya yang relatif muda, tulisan Cak Nun berhasil menembus meja redaksi koran Tempo. Kualitas puisinya juga diakui oleh sejumlah penyair kenamaan saat itu. Saya pun berpikir, darimana Cak Nun belajar menulis puisi, cerpen, dan essai. Bukankah dia tidak memiliki gelar akademik di belakang namanya. Bagaimana Cak Nun menjalani proses kreatifnya dalam menghasilkan karya-larva hebat? Sementara, kesimpulannya saya adalah Cak Nun ini adalah sosok pembelajaran otodidak yang tekun. Dia senantiasa belajar di mana pun, kapan pun, dan kepada siapa pun. Tidak terikat oleh ruang dan waktu. Tidak terikat oleh gedung-gedung sekolah maupun kampus. Dia selalu haus akan ilmu. Termasuk ilmu mengenai tulis menulis.

Tidak hanya itu, Cak Nun tidak hanya menjadikan pers sebagai satu-satunya medan perjuangannya. Dia memanfaatkan beragam cara untuk mencerdaskan bangsa ini. Seperti halnya dengan mengisi seminar, mengadakan teater, tampil di acara talk show, dan semacamnya. Tidak hanya koran dan majalah, Cak Nun juga menggunakan saluran TV dan radio sebagai alat untuk berjuang. Ya, dia kerap kali tampil sebagai narasumber di berbagai acara. Cak Nun mengambil kesempatan itu bukan untuk membesarkan namanya. Namun, memang murni untuk ikut berkontribusi demi bangsa dan negaranya. Popularitas dan duit tidak bisa menyilaukan tujuan dan cita-cita besarnya. Hemat saya, dari muda hingga usia tuanya sekarang, beliau persembahkan sebagian besar hidupnya untuk negeri yang dicintainya. Dia keliling Indonesia, bahkan sampai Eropa, hanya untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan persatuan.

Sekali lagi, saya pribadi hanya mengenal lebih dekat sosok Cak Nun dari media massa. Secara pribadi saya tidak mengenal beliau. Ini hanyalah catatan seorang pengagum terhadap sosok yang dikaguminya. Jujur saja, saya hanya sekali bertemu beliau secara langsung. Itupun dalam acara Kiai Kanjeng yang dihadiri ribuan massa di Sumenep. Saya lupa sudah tahun berapa itu. Yang jelas, yang masih terkenang oleh saya adalah Cak Nun memang sosok multitalenta yang memiliki magnet tersendiri bagi masyarakat. Kehadirannya memikat pubik. Dalam setiap acaranya, Cak Nun memakai bahasa yang gampang dimengerti oleh semua kalangan. Bukan tidak bisa beliau melontarkan kata-kata ilmiah, khas cendekiawan kampus. Tapi, Cak Nun lebih memahami audiensnya. Sepertinya, dia ingin lebih akrab dan tidak ingin dikenal sebagai sosok elitis yang berjarak dengan publik.

Cakrawala berpikir Cak Nun memang begitu luas. Hampir semua bidang dia bisa membahasnya. Dia bisa mengimbangi siapapun yang berbicara dengannya. Meskipun memiliki gelar akademik yang berderet-deret. Tapi kadang, pengetahuannya melampaui itu. Dari Cak Nun, saya yakin bahwa ilmu sebenarnya tidak tertera di lembaran ijazah. Ilmu sejati yaitu ilmu yang ada di hati kita dan membawa manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Buat apa memiliki ilmu banyak tapi hanya membawa keuntungan untuk diri kita sendiri. Buat apa memiliki pengetahuan yang luas dan dalam jika hanya digunakan untuk memperkaya diri. Cak Nun tidak seperti itu. Bagi saya, dia sosok luar biasa dengan tampilan yang sederhana. Tekad dan semangatnya untuk membangun negeri ini tanpa henti. Itu harus ditiru oleh generasi sekarang. Yaitu, memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki untuk kebermanfaatan. Yakinlah, bahwa sabda Nabi, sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak membawa manfaat bagi sesamanya.

Spirit Cak Nun dalam berkarya mesti diteladani oleh generasi sekarang. Tidak hanya sebagai konseptor dan kreator dalam berkarya, dia juga sebagai inisiator dan aktor dalam membangun peradaban bangsa. Kita, sebagai generasi muda bisa menghirup air sumber keteladanan dari Cak Nur. Banyak yang yang bisa ditiru, Mulai dari komitmen dan konsistensinya terjun di medan perjuangan.

Langkah-langkah Cak Nun tak bisa dibendung. Dia istikamah menyuarakan nilai kebenaran dan keadilan di tengah masyarakat. Istikamah merajut tali persaudaraan. Istikamah dalam berbagi ilmu dan pengetahuan. Istikamah dalam mengajak kepada jalan yang diridhai oleh Allah. Baik melalui lisan, tulisan, maupun perbuatan.

Semoga pemuda sekarang bisa mengikuti jejaknya. Yaitu dengan menjadi pribadi yang membawa dampak positif bagi sekelilingnya. Atau setidaknya minimal tidak membawa keburukan bagi lingkungannya. Cak Nun telah lama menanam benih kebaikan, Saya yakin, kelak dia akan memanen hasilnya. Sebab, tidak ada satupun kebaikan yang tidak tercatat oleh malaikat Roqib. Terakhir, saya mengajak kaum muda agar memiliki spirit untuk belajar dan menebar kebaikan seperti halnya Cak Nun. Manfaatkan masa muda sebaik mungkin. Sebab, masa muda hanya sekali seumur hidup.

 

Oleh: Muhammad Aufal Fresky

Penulis buku ‘Empat Titik Lima Dimensi’

 

Villa Bukit Tidar, Kota Malang

Sabtu, 10 Juni 2023

18.32 WIB

Exit mobile version