Site icon Baladena.ID

Meningkatkan Kualitas Kaderasi untuk Memperkuat Organisasi HMI

(Kuliah Umum dalam Training SC BPL HMI Cabang Semarang 01. 03, 2022 di Asrama Insan Cita Monasmuda Institute Semarang)

Oleh: Dr. Mohammad Nasih

Dosen Ilmu Politik FISIP UMJ dan Pengasuh Pondok Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Pamotan Rembang

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki tujuan mulia dan sekaligus sangat berat, yaitu: terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridlai Allah Swt.. Di dalam tujuan HMI ini, terdapat aspek ideologis dan juga praktis. Keduanya ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang harus ada secara bersamaan.

Aspek ideologisnya adalah nafas Islam, yang meniscayakan nilai-nilai yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits. Sebab, hanya dengan nilai-nilai itulah, ridla Allah Swt. akan bisa didapatkan. Sedangkan aspek teknisnya adalah mencipta, mengabdi, dan mewujudkan masyarakat adil makmur. Aspek yang kedua ini meniscayakan sesuatu yang bersifat material. Walaupun sesungguhnya di dalam ajaran Islam sendiri, terdapat anjuran untuk juga melakukan hal-hal yang praktis yang disebut dengan amal saleh. Nampaknya, nafas Islam yang dimaksud dalam tujuan HMI tersebut adalah spirit imannya. Dan konsepsi iman Islam memang berbeda dengan kepercayaan-kepercayaan yang lain.

Karena itu, kaderisasi yang dibangun oleh HMI harus meliputi dua aspek tersebut sekaligus. Keduanya juga bisa diibaratkan dua kaki yang harus dimiliki oleh setiap kader HMI. Hanya dengan keduanya, kader HMI bisa berjalan dengan sempurna dan mampu melakukan gerakan apa pun dengan optimal. Sebaliknya, jika salah satunya bermasalah, apalagi tidak ada sama sekali, maka pasti akan berjalan dengan pincang, dan gerakan akan mengalami hambatan.

Tujuan HMI ini sudah terurai dengan sangat baik di dalam NDP (Nilai-nilai Dasar Perjuangan) HMI dimulai dari dasar-dasar kepercayaan yang berprinsip tauhid, pemahaman tentang kemanusiaan yang berbasis ketuhanan, ikhtiar dan takdir, individu dan masyarakat, keadilan sosial dan keadilan ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Di dalam NDP HMI, nampak sekali bahwa HMI tidak hanya terfokus kepada kepercayaan yang benar, tetapi juga transformasinya ke dalam kehidupan manusia yang berperadaban unggul dengan penguasaan ekonomi dan ilmu pengetahuan. Kedua hal itu mendapatkan perhatian besar dibuktikan dengan disebut secara tegas dalam bab-bab khusus dari hanya enam bab yang dibahas. Dan sekali lagi, itu menunjukkan bahwa HMI menginginkan agar kader-kadernya memandang dunia ini secara realistis dan kebaikan di dalamnya harus diperjuangkan.

Oleh karena itu, kaderisasi di HMI juga harus didesain secara holistik, tidak hanya terfokus pada aspek ideologis, tetapi juga yang bersifat praktis. Atau sebaliknya, memandang bahwa penekanan pada aspek ideologis tidak lagi penting, karena aspek praktis dianggap sebagai yang utama, adalah sebuah kekeliruan fatal.

HMI sesungguhnya sudah menyadari paradigm tersebut dengan adanya konsepsi muslim intelektual profesional. Ketiga kualitas itu harus berada dalam diri yang satu. Kader HMI bisa disebut sebagai seorang yang muslim apabila benar-benar turut kepada segala ketetapan yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw.. Sebab, kata islâm berarti memasrahkan atau tunduk dan patuh. Dengan kata lain, seorang muslim adalah seorang yang seluruh gerak langkahnya berdasarkan ketetapan yang ada di dalam al-Qur’an dan berada dalam koridor sunnah Nabi Muhammad saw.. Jika sudah ditetapkan oleh al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw., maka tidak ada lagi pilihan lain:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (al-Ahzab: 36)

Seorang muslim bisa disebut memiliki kualitas intelektual apabila mampu memahami petunjuk yang ada di dalam al-Qur’an dan sunnah secara saintifik yang dengan itu bisa mendakwahkannya kepada orang lain. Sedangkan seorang muslim intelektual dipandang juga sekaligus profesional apabila ia memiliki keterampilan hidup. Ini sesungguhnya merupakan transformasi dari kualitas muslim intelektual yang membuatnya mampu hidup dengan benar dan memberikan kontribusi terbaik untuk pembangunan peradaban umat manusia, sehingga memiliki kemampuan kompetitif untuk menunjukkan bahwa umat Islam adalah umat terbaik.

 كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali Imran: 110).

Seluruh kualitas di atas itu, sesungguhnya adalah kualitas-kualitas yang terdapat dalam diri Rasulullah saw. yang membuat beliau disebut sebagai manusia sempurna (insân kâmil). Dari sinilah, HMI membangun dan memiliki istilah yang bermakna sama, yakni insan cita. Ia adalah manusia ideal karena mampu memberikan manfaat terbesar dalam dan untuk masyarakat.

Berdasar itu, HMI tidak bisa mengandalkan kaderisasi yang berada di ruang-ruang kelas. Kaderisasi yang bersifat teoritis harus langsung ditindaklanjuti dengan kaderisasi di lapangan. Jika diibaratkan mata kuliah, kaderisasi di dalam kelas adalah MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) yang seluruh kader HMI harus menguasainya dan membentuk kerangka berpikir islami dengan ciri utama rasional dan saintifik. Sedangkan kaderisasi tindaklanjut adalah transformasi kaderisasi ideologis dengan menyesuaikan disiplin keilmuan yang dipilih di fakultas/jurusan masing-masing. Kaderisasi di lapangan ini ibarat MKDK (Mata Kuliah Dasar Khusus) yang membuat setiap kader memiliki keunggulan komparatif berupa ketrampilan yang andal. Berbagai keunggulan komparatif inilah yang memungkinkan kader-kader HMI bisa melakukan tidak hanya kerjasama, tetapi juga sinergi yang bisa membuat HMI menjadi organisasi yang kuat. Semakin diasah keunggulan-keunggulan tersebut, maka HMI akan menjadi semakin kuat.

Karena itu, kaderisasi di HMI tidak boleh hanya berhenti di LK I, LK II, dan LK III, yang materinya sesungguhnya bersifat umum dengan penekanan pada ranah afektif dan kognitif. Yang harus juga mendapatkan perhatian besar, karena inilah yang diperlukan untuk menjadi insan profesional, adalah membangun aspek psikomotorik, yang berkaitan dengan ketrampilan-ketrampilan (skills) khusus. Untuk ini, diperlukan pengkader-pengkader yang benar-benar berkualitas tinggi dengan penguasaan al-Qur’an dan hadits benar-benar mumpuni dan memiliki ketrampilan yang spesifik sekaligus. Sebab, pengkader tidak cukup hanya mengajarkan berpikir, tetapi juga mengimplementasikannya secara praktik. Inilah relevansi trilogi ilmu, iman, dan amal. Karena ilmu tanpa amal bagaikan pohon yang tidak berbuah, dan iman tanpa amal sama dengan tidak beriman sama sekali, sama dengan sebaliknya amal tanpa iman sama dengan tidak beramal sama sekali, atau bahkan bisa menyebabkan kecelakaan besar.

Untuk itu, para pengkader yang ada sekarang harus membangun sistem kaderisasi yang spesifik dan berbasis kepada perkembangan sains dan teknologi bersama dengan lembaga-lembaga kekaryaan yang dimiliki HMI, yaitu: LDMI (Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam). LKMI (Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam), LTMI (Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam), LAPMI (Lembaga Pers Mahasiswa Islam), LAPENMI (Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam), LEMI (Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam), LBHMI (Lembaga Bantuan Hukum Mahasiswa Islam), LPMI (Lembaga Pertanian Mahasiswa Islam), dan LAMI (Lembaga Astronomi Mahasiswa Islam). Jika lembaga-lembaga kekaryaan ini benar-benar dioptimalkan, maka akan menjadi tempat untuk berlatih yang sangat bermanfaat bagi para kader HMI, sehingga benar-benar bisa menjadi kader-kader yang memperkuat HMI dan HMI menjadi sumber insani pembangunan bangsa yang membanggakan. Sebab, dari lembaga-lembaga ini akan lahir dokter, insinyur, jurnalis, astronom, penegak hukum, dan profesi-profesi lain yang memiliki identitas yang kuat sebagai seorang muslim. Profesionalitas mereka akan membuat mereka senantiasa eksis di mana pun dan kapan pun. Dan ideologi mereka akan memudahkan mereka untuk menyambungkan visi dan juga aksi untuk membangun umat dan bangsa.Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Exit mobile version