Site icon Baladena.ID

Mengoptimalkan Solusi Ekonomi di Tengah Pandemi

Benarkah Senyawa Hisperidin Mampu Menghambat Pertumbuhan COVID-19 Ini Penjelasannya

Sebuah virus yang dinyatakan sebagai pandemi global pada tanggal 12 Maret 2020 lalu, kini semakin menyebar luas. Dikutip dari bbc.com, bahwa berdasarkan data dari Universitas John Hopskins di Amerika mengonfirmasi total kasus corona virus  yang ada di dunia telah mencapai angka 30 juta. Bahkan lebih dari 940.000 orang meninggal dunia akibat virus tersebut. Bahaya dari virus ini memang tidak bisa diremehkan. Pemerintahpun mengambil tindakan dengan melockdown beberapa daerah, menerapkan social distancing dan protocol kesehatan yang sangat ketat. Akibatnya, hal ini tidak hanya berdampak di bidang kesehatan tapi juga ekonomi.

Semenjak peristiwa ini, ekonomi negara menjadi kocar kacir. Bahkan dampaknya langsung terasa. Banyak karyawan dan buruh yang di PHK, usaha yang terpaksa tutup bahkan sampai gulung tikar. Akibatnya ekonomi Indonesia merosot drastis. Banyak rakyat miskin yang kelapan dan kesusahan dalam hal pangan. Pemerintah berusaha mencarikan  solusi dengan memberikan bantuan seperti bantuan sembako, sosial tunai, BLT dana desa, listrik gratis, kartu prakerja, subsidi gaji karyawan, dan BLT UMK. Semua itu dilakukan agar masyarakat tetap bisa bertahan selama masa pandemi ini. Akan tetapi, dari mana pemerintah memperoleh semua dana itu? Tidak mungkin negara memiliki dana sebesar itu untuk mencukupi kebutuhan rakyat. Uang sebanyak itu diperoleh melalui pinjaman dari bank sentral.

Dikutip dari laman website kompas.com, bahwa jumlah dana yang dikeluarkan pemerintah untuk bantuan sosial sembako yang diberikan selama 3 bulan  kepada sasarannya yaitu masyarakat DKI Jakarta dengan total anggaran 2,2 triliun dan daerah Bodetabek dengan total anggaran sebesar Rp 1 triliun.

Pemerintah juga menghabiskan dana sebanyak Rp 4,69 triliun unuk penyaluran BLT Dana Desa tahap pertama (Bulan April, Mei dan Juni), Rp 4,05 triliun pada tahap ke dua (Bulan Juli, Agustus, dan September) dan Rp 2,07 triliun  untuk tahap ke tiga, dan yang terakhir menghabiskan Rp 17,55 milyar pada tahap ke empat.

Ada juga program listrik gratis dengan memberikan insentif bagi keluarga yang terdampak corona. Anggaran untuk program ini kurang lebih 15,39 triliun. Belum lagi dana yang dikucurkan untuk kartu prakerja, subsidi karyawan dan BLT usaha mikro kecil. Begitu banyak uang yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk membantu masyarakat.

Dilansir dari yoursay.suara.com, bahwa menurut Ekonom Bank BNI Ryan Kiryanto pembiayaan penanganan COVID-19 membutuhkan biaya besar dan penyelesaian pandemi yang berlarut-larut membuat kebutuhan biaya semakin tinggi. Keperluan biaya besar tersebut berpotensi meningkatkan utang pemerintah, baik utang domestik maupun ULN (Utang Luar Negeri). Bahkan berdasarkan informasi, Bank Indonesia (BI) mencatat ULN Indonesia pada kuartal I 2020 mencapai USD389,3 miliar. Jumlah yang begitu fantastis.

Memang tidak ada salahnya jika berhutang untuk kepentingan rakyat. Akan tetapi, dampak yang akan terjadi di masa depanlah yang perlu dikhawatirkan. Berapa bayak hutang yang harus dibayar oleh negara? Itu baru biaya yang dipergunakan selama beberapa bulan kemarin. Bagaimana dengan kedepannya? Bukankah itu akan membuat utang Indonesia semakin membengkak? Lalu upaya apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut?

Masyarakat harusnya tidak hanya diam berpangku tangan sambil menikmati bantuan yang diberikan oleh pemerintah. Namun, juga harus mampu mengoptimalkan anggaran yang diberikan agar bisa memperbaiki ekonomi sendiri dan negara. Terhalangi pandemi dan tak dapat beraktifitas di luar dengan leluasa seharusnya tak membuat kita diam berputus asa.

Manfaatkanlah teknologi yang ada dengan segudang ide, kreasi dan inovasi sehingga kita tetap bisa memperoleh penghasilan meski hanya bekerja dari rumah. Banyak hal yang bisa dilakukan selama dirumah, kita bisa membuat masker, hand sanitizer, dan face shield untuk dijual secara online. Kebutuhan pasar akan barang – barang tersebut akan membuat kita memperoleh untung yang berlimpah.

Contoh lain seperti aktivitas menulis artikel maupun teks opini kemudian dikirimkan ke perusahaan surat kabar yang ada sehingga kita dapat memperoleh pendapatan dari ide yang kita tuangkan. Selain untuk memperoleh uang, kegiatan ini juga  mampu melatih otak  untuk berrpikir logis dan kritis terhadap setiap permasalahan yang muncul di masyarakat sekaligus membuat kita semakin giat membaca dikarenakan kebutuhan data dalam membuat sebuah karya tulisan.

Berjualan jamu tradisional secara online juga cukup menjanjikan. Apalagi semenjak pandemi ini banyak masyarakat yang mencari minuman tersebut untuk menjaga daya tahan tubuh. Memulai bisnis online makanan dengan system PO dan delivery order pun bisa menjadi pilihan atau dapat pula melakukan hal lain yang lebih kreatif dan inovatif. Sehingga kita tetap bisa bekerja dari rumah tanpa takut akan tertular virus dari orang lain.

Selain peran dari masyarakat, pemerintah juga perlu melakukan upaya lain dalam memperbaiki ekonomi. Tidak hanya mengandalkan utang luar negeri, tapi hal-hal lain yang lebih efektif dan dan ampuh. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menemukan cara ayang tepat dengan resiko yang lebih minim. Baik antara pemerintah dan masyarakat harus saling bahu membahu dalam menghadapi permasalahan ini.

Saling bersinergi dan jangan sampai hanya memikirkan kepentingan masing – masing dan tidak mempedulikan kepentingan social yang harus diutamakan. Upaya-upaya yang telah dilakukan harus dioptimalkan sehingga solusi ekonomi selama masa pandemik dapat terlaksana dengan baik.

Oleh: Dewi Arum Jamilya, Mahasiswi UIN Walisongo Semarang 

 

Exit mobile version