Site icon Baladena.ID

Mengisi Kemerdekaan dengan Gotong Royong Kebangsaan

Benarkah Indonesia Sudah Merdeka

Telah kita ketahui bersama bahwa Indonesia merupakan negara heterogen yang kaya akan keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Meskipun demikian, negeri ini dikenal oleh dunia, karena masyarakatnya memiliki sikap ramah, kekeluargaan, dan gotong royong di dalam kehidupan sehari-hari. Gotong royong seakan sudah mengakar menjadi karakter budaya bangsa Indonesia sejak dulu. Oleh karenanya, sudah saatnya warisan luhur gotong royong ini selalu kita amalkan dalam mengisi kemerdekaan negara ini.

Diantara contoh gotong rorong, misalnya di pedesaan di Jawa yang masih melakukan tradisi gotong royong dalam pembangunan rumah, perkawinan dan kematian. Di Toraja, Sulawesi Selatan, kita mungkin mengenal arisan tenaga, yaitu kegiatan semacam kerja bakti secara bergilir untuk menggarap sawah milik warga lain. Demikian Suku Dayak melakukan hal serupa yang disebut sa’aleant. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya karakter budaya bangsa gotong royong ini seterus kita aktualisasikan dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini.

Dalam mengisi kemerdekaan ini, gotong royong kebangsaan bisa dibangun melalui beberapa hal yaitu pengorganisasian solidaritas, kerangka kerja relawan komunitas yang komprehensif, optimalisasi filantropi, peningkatan kemandirian ekonomi wilayah, informasi yang ramah publik, pengelolaan kerelawanan yang efektif dan ramah, dan penguatan modal sosial bagi para penyelenggara negara.

Kita patut bangga melihat semangat gotong royong rakyat Indonesia dalam menghadapi pandemi ini begitu bergelora. Tanpa ada yang menyuruh masyarakat dengan kesadaran yang tinggi gencar mengumpulkan dana untuk membantu tenaga medis dan menolong sesama warga yang kesusahan akibat terdampak Covid-19. Dalam membantu tentunya kita jangan pandang bulu melihat suku, agama, ras, dan golongan. Tidak ada sekat perbedaan budaya, semua adalah satu yakni bangsa Indonesia. Inilah cerminan gotong royong sesungguhnya.

Kemudian, meski di masa pandemi ini kita dianjurkan sebisa mungkin untuk social distancing bukan berarti semangat gotong royong surut. Kita juga bisa melakukan gotong royong sekalipun dengan minim interaksi. Gotong royong kebangsaan memerangi Covid-19 sudah saatnya bertransformasi. Menyasar ke hal-hal yang tak melulu bersifat artikulasi fisik, melaikan aktivitas sosial di dunia maya ataupun dukungan moril dan psikologis terhadap pasien positif Covid-19.

Hal yang patut dipahami, gotong royong adalah simpul kebangsaan kunci sukses dalam memerangi wabah Covid-19 ini. Adapun sikap yang bisa kita lakukan dalam mengamalkan gotong royong kebangsaan ini diantaranya, pertama aksi gotong royong dimulai dari diri sendiri dengan selalu menjaga kesehatan, kebersihan, rajin berolah raga, memakai masker ketika keluar rumah, dan menjaga jarak. Kerumunan massa juga harus kita hindari demi kebaikan bersama.

Kedua, dukungan atas kesembuhan pasien positif Covid-19 termasuk aksi kemanusiaan terhadap jenazah pasien Covid-19. Mengingat beberapa waktu lalu marak kasus penolakan jenazah pasien positif Covid-19. Bahkan, aksi antipati terhadap warga yang positif ataupun petugas medis juga sempat mencuat. Tentu ini bukan tindakan yang mencerminkan karakter gotong royong kebangsaan. Sudah seharusnya kita memberikan dukungan mental dan psikologis kepada mereka. Apalagi, sikap antipati justru akan membuat semakin tertekan, dan berdampak negatif pada sistem imun atau kekebalan tubuh menjadi menurun.

Ketiga, kegiatan gotong royong juga bisa dilakukan dengan melakukan aksi kemanusiaan lewat media sosial. Dengan kata lain gotong royong di dunia maya. Misalnya saja dengan membentuk grup filantropi via media sosial (medsos) untuk menggalang dana. Dengan adanya grup ini kita bisa saling berkoordinasi. Melalui grup medsos ini juga kita bisa melakukan gotong royong dalam memerangi hoax. Grup di media sosial sudah saatnya bisa menjadi wadah edukasi bagi masyarakat guna membedakan mana berita hoax dan mana berita yang valid.

Berbagai bentuk aksi gotong royong tersebut menandakan bahwa gotong royong kebangsaan dalam melawan wabah Covid-19 tak harus melulu ditempuh melalui aktivitas fisik turun di lapangan. Tetapi, juga dengan aksi kemanusiaan baik melalui dukungan sosial, dana, ataupun solidaritas melalui media sosial.

Hal yang terpenting memperkuat simpul gotong royong kebangsaan guna memerangi wabah Covid-19 tersebut tentunya membutuhkan sinergi diantara pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh agama, dan pemangku kepentingan, serta masyarakat. Perayaan HUT ke-75 RI di tengah pandemi ini harus kita jadikan momentum untuk menggalang persatuan dan kesatuan bangsa, dengan semangat gotong royong kebangsaan. Dengan perannya masing masing dan dilandasi atas gotong royong kebangsaan, harapannya wabah Covid-19 lekas mereda, semoga.

 

Exit mobile version