Site icon Baladena.ID

Mengenal Mufassir Indonesia: Telaah Pemikiran Dawam Raharjo

 

Seorang ahli tafsir atau lebih dikenal dengan sebutan mufassir tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, terutama mufassir yang berasal dari tanah kelahiran Indonesia. Sifat inferior super besar yang dimiliki masyarakat Indonesia menjadi salah satu penyebab tidak populernya para mufassir Indonesia. Mereka mengganggap ulama-ulama yang berasal dari luar negeri, lebih tepatnya negara-negara islam di Timur tengah sanlah yang patut diikuti ajaranya, sehingga produk hasil pemikiran ulama dalam negeri seringkali tidak dikenal sebagaimana tafsir ulama-ulama timur tengah lainnya. Padahal, hasil pemikiran para mufassir Indonesia tidak kalah keren dengan pemikiran ulama-ulama terdahulu. Mereka berhasil menciptakan ciri khas baru dalam penafsirannya. Sebut saja Dawam Raharjo, seorang mufassir Indonesia yang berasal dari Solo.

Ia bernama lengkap Muhammad Dawam Raharjo, lahir di Solo 20 April 1942. Ayahnya berasal dari Desa Tempursari, Klaten dan pernah belajar di pesantren Jamsaren dan Manba’ul Ulum. Ibunya bernama Muthmainnah, perempuan cantic yang berasal dari Baluwarti, Solo, seorang guru Sekolah Rakyat di Ambarawa sekaligus Putri Solo pada masanya. Salah satu fakta tentang perjalanan hidup Dawam Raharjo adalah ia tumbuh dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Sejak kecil ia diasupi pengetahuan agam oleh ayahnya, juga pengetahuan umum oleh ibunya. Dua hal penting untuk menumbuhkan logikanya dengan baik.

Sejak remaja, Dawam Raharjo telah menunjukkan ketertarikan kepada dunia tulis- menulis dan sastra. Ia banyak bergaul dengan para seniman dan sastrawan, juga mulai menulis sajak-sajak dan  cerpen. Sebelum masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), ia mengikuti program AFS (American Field Services) juga aktif mendorong berdirinya LSM (Lembaga Swadya Masyarakat) di daerah-dareh tertentu. Keaktifannya dalam berbagai organsasi menjadikan ia seorang yang terkenal memiliki prinsip hebat. Tulisan-tulisannya banyak dipublikasikan oleh media, sampai akhirnya ia berhasil menyelesaikan kajian-kajiannya atas al-Qur’an yang diberi judul Ensiklopedi Al-Qur’an.

Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci. Buku ini  berisikan tema-tema yang berhasil ditafsirkan oleh Dawam Raharjo dari ayat-ayat al-Qur’an. Awalnya karya ini merupakan kumpulan tulisannya  mengenai tema-tema sosial yang ditulisnya dalam beberapa waktu. Judul dengan nama Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep- konsep Kunci sangat terkait dengan pemikiran Dawam Raharjo mengenai al-Qur’an yang dikatakan sebagai ensiklopedia. Sementara itu kata-kata tafsir sosial berdasarkan konsep-konsep kunci, merupakan gambaran akan karakteristik penafsirannya. Selain itu, judul tersbut menggambarkan pemikiran Dawam Raharjo dalam masalah sosial dan perkembangan keilmuan sekarang yang cenderung antroposentrisme.

Adapun sistematika pembahasan dan penulisan Dawam Raharjo dalam Ensiklopedi al-Qur’an secara global terbagi menjadi dua aspek, yakni dimensi spiritual-keagamaan dan dimensi sosial-keagamaan. Sebelum menguraikan dua aspek pembahasan tema-tema tafsirnya, Dawam Raharjo memberikan Pendahuluan: Metodologi Tafsir dan Akses terhadap al-Qur’an. Dalam pendahuluan ini, ia memperkenalkan perspektif metode dan corak penafsirannya, diantara sub-sub yang menjadi pembahasan; Menciptakan Masa Depan dengan al-Qur’an, Munculnya Penafsiran Baru atas al-Qur’an, Membudayakan Nilai-nilai al-Qur’an dalam Konteks Indonesia, al-Qur’an sebagai Ensiklopedi, al-Fatihah; al-Qur’an in a nutshell, dan Perlunya Penyusunan Ensiklopedi al-Qur’an.

Dawam Raharjo memahami al-Qur’an bukanlah sebagai sesuatu yang bisa dirubah atau bahkan direvisi oleh kaum muslim. Tetapi wahyu Allah swt. tersebut akan berlaku sepanjang zaman, karena seluruh isi al-Qur’an bersifat parenial. Nilai-nilai yang terdapat dalam al-Qur’an itu berlaku abadi, karena sejalan dengan fitrah kejadian manusia. Larangan untuk mencuri atau membunuh misalnya, akan berlaku terus dalam kehidupan manusia.

Menurut Dawam Raharjo, sebagaimana tertulis dalam karyanya Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, al-Qur’an mengandung ajaran tentang universalisme kebenaran Islam yang tidak terbatas kepada ruang dan waktu, kebudayaan, adat, letak geografis dan faktor lainnya. Dan keanekaragaman   itu   justru   dianggap   sebagai   kebesaran   Tuhan   yang   harus diapresiasi dengan segala keta’dziman

Dawam Raharjo memilih model tematik atau maudhu’i sebagai metode tafsirnya. Ia menganggap Metode ini  sebagai metode yang mampu menjawab berbagai problematika umat kekinian dengan menggali tema- tema sosial-keagamaan baik dari dalam al-Qur’an sendiri maupun dari luar. Tafsir   tematik Dawan Raharjo   tidak menghadirkan  asbab  al-nuzul   dalam  penafsirannya,  namun Ia  menuliskan perkembangan tema pembahasan sesuai dengan konteks ke-Indonesia-an.

Capaian yang dilakukan oleh Dawam Raharjo mampu memberikan perspektif baru dalam dunia kajian tafsir al-Qur’an. Bahwa al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua manusia, dan semua manusia memiliki hak akses langsung sesuai kemampuan dan keahliannya untuk menafsirkan al-Qur’an. Gagasan Dawam Raharjo dalam menafsirkan al-Qur’an telah mewarnai dan memperkaya kajian atau studi tafsir al-Qur’an khususnya di Indonesia.

 

 

Exit mobile version