Site icon Baladena.ID

Mengenal Lebih Dekat Ibnu Sina

Ibnu Sina dilahirkan pada  masa kekacauan dan kemunduran Daulat Bani Abbasiyah. Saat itu, daerah-daerah yang pada awalnya berada di bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah, mulai melepaskan diri satu persatu untuk berdiri sendiri, Sementara kota Baghdad masa itu menjadi  pusat pemerintahan Khalifah Abbasiyah yang telah dikuasai oleh Golongan Bani Buwaih pada tahun 334 H, dan  kekuasaannya berlangsung hingga  tahun 447 H.

Diantara  daerah yang telah bediri sendiri yakni Daulat Samani di Bukhara dan salah satu khalifahnya adalah Nuh bin  Mansur, dan pada masa kepemimpinan Nuh bin Sam inilah di salah suatu tempat di daerah Bukhara tepatnya daerah  Afsyana sekarang wilayah Uzbekistan(Bagian Persia), lahir dan tumbuh seorang bayi  yang bernama Ibnu Sina (370 H/980 M) (Hanafi, 1976:168).

Ibnu Sina memilki nama Lengkap Al-Shaykh al-Rais Abu Ali al-Husayn bin  Abdullah bin Sina   D (370-429 H/980- 1037 M), dikenal di dunia Barat dengan Avicenna dan juga “Pangeran Para Dokter”. Dia juga memperoleh gelar Al-Syaikh al-Ra’is (Pemimpin Orang Bijak) sebutan yang diberikan dari murid-muridnya dan Hujjat al-Haqq (Bukti Sang Kebenaran/Tuhan), yang masih dikenal di Timur dengan gelar itu. Seyyed Hossein Nasr, Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2006), cet. 1, h. 44-45

Ayahnya bernama Abdullah an-Natili  yang berasal dari Balkh, dan bertemu dan menikah dengan Sitarah. An-Natili dan Sitarah mempunyai tiga putra, Ali, Al-Husain (Ibnu Sina), dan Mahmud. Saat Ibnu Sina berumur 5 tahun, keluarga ini pindah ke Bukhara pada masa pemerintahan Nuh ibn Mansur. Saat itu, ayahnya diangkat menjadi Gubernur Khormithan, sebuah desa di pinggiran Kota Bukhara. Dan Ibnu Sina berasal dari keluarga bersekte Ismaili

Pada usianya yang begitu sangat muda yakni  10  tahun,  di Bukhara ia belajar al-Qur’an dan kesustraan arab. Dan  ia telah mampu menghafal Alquran dan belajar filsafat, ilmu-ilmu agama Islam, astronomi, matematika, fisika, metafisika, dan logika usia itu pula.

Setelah ayahnya an-Natili pindah ke kota Karkanj Ibnu Sin menyibukkan diri menulis buku-buku fisika dan buku-buku yang mengenai ketuhanan. Kemudian ia memperdalam ilmu Kedokteran  yang menurutnya mudah untuk menganalisisnya. Ia belajar ilmu kedokteran pada seorang Masehi yang bernama Isa bin  Yahya.  Sehingga pada usia 16 tahun, ia telah menjadi seorang dokter dan mampu memecahkan masalah pengobatan dengan melalui metode eksperimen yang dilakukannya.

Selanjutnya selama satu setengah tahun, ia terus memperdalam ilmu khususnya ilu manthiq dan filsafat. Dalam usia 18 tahun, ia telah menguasai ilmu filsafat matematika, logika astronomi, music,mistik, Bahasa dan ilmu hukum islam. Namanya semakin popular ketika ia mengobati Sultan Bukhara Nuh bin Mansur dan berhasil sembuh. Sehingga ia diberi kesempatan membaca buku-buku  yang ribuan banyaknya  dan buku sukar yang diperoleh dalam perpustakaan  Sultan. Setelah itu, Kejadian buruk menimpanya,  perpustakaan itu terbakar sehingga ia dipenjarakan.

Kegemarannya dalam ilmu filsafat juga telah membuatnya belajar penuh kesungguhan untuk mempelajarinya. Tampak pada dirinya mulai kesulitan dalam mempelajari ini, sehingga ia seringkali masuk ke masjid untk beribadah dan berdoa kepada Allah pada saat kesulitan menghampirinya.

Pada usianya  yang ke 22 tahun, ayahnya wafat. Ibnu Sina pergi  meninggalkan Bukhara menuju Jurjan, kemudian ke Khawarizm, sebab kekacauan  politik ia berpindah dari suatu daerah ke daerah lainnya akhirnya sampai ke Hamdan.  Oleh Syamsuddaulah, penguasa daerah ini, ia diangkat menjadi menteri beberapa kali, dan akhirnya ia pindah ke Isfahan dan mendapatkan sambutan yang istimewa dari penguasa daerah ini (Hanafi, 1976:169).

Hidup Ibnu Sina penuh dengan kesibukan bekerja dan mengarang, penuh pula dengan kesenangan dan kepahitan, dan mungkin saja keadaan inilah yang mempengaruhi kesehatannya sehingga ia terserang penyakit dingin (cooling) yang menyerang usus bearnya yang tidak bisa disembuhkan lagi, dan akhirnya beliau wafat di Hamdan pada tahun 428 H./1037 M.  dalam usia lima puluh delapan tahun (Al-Iraqi, 1969:37).

Oleh: Naila Rifqiyani, Mahasiswa Jurusan Matematika UIN Walisongo Semarang

Exit mobile version