Site icon Baladena.ID

Mengatasi Mental Health pada Anak Perempuan

Oleh: Afrida Rif’atul Hanifa, Peserta LKK HMI Cabang Bogor 2024

Perempuan cenderung lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan laki-laki. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang melibatkan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan dan Badan Pusat Statistik (BPS), ditemukan bahwa 1,8% perempuan mengalami gangguan kesehatan mental, sementara pada laki-laki angkanya hanya 1%. Artinya, sekitar 2 dari 100 warga Indonesia menghadapi masalah kesehatan mental.

Faktor Kerentanan Mental Health pada Anak Perempuan

Pertama, tekanan sosial dan budaya. Anak perempuan sering menghadapi harapan yang tidak realistis, seperti norma gender, tuntutan kesempurnaan, atau peran tradisional yang membatasi kebebasan mereka. Hal ini meningkatkan tekanan emosional yang mereka rasakan.

Kedua, pengaruh media sosial. Platform digital menjadi pemicu utama masalah kesehatan mental akibat body shaming, cyberbullying, dan standar kecantikan yang tidak realistis. Dampak ini sering kali memperburuk rasa percaya diri dan harga diri anak perempuan.

Ketiga, keterbatasan akses ke layanan kesehatan mental. Banyak anak perempuan tidak mendapatkan dukungan yang memadai akibat stigma sosial, kurangnya fasilitas di wilayah tertentu, atau keterbatasan biaya untuk konsultasi psikologis.

Langkah-Langkah Mengatasi Mental Health pada Anak Perempuan

Pertama, mengintegrasikan pendidikan kesehatan mental ke dalam kurikulum sekolah. Konsep seperti self-awareness, kecerdasan emosional, dan manajemen stres dapat membantu anak perempuan mengelola tekanan yang mereka hadapi dengan lebih baik.

Kedua, memperkuat peran tokoh masyarakat, influencer, atau publik figur dalam mengampanyekan pentingnya kesehatan mental. Hal ini bertujuan mengurangi stigma terhadap isu mental health di masyarakat.

Ketiga, meningkatkan peran pemerintah. Pemerintah perlu menyediakan lebih banyak layanan konseling psikologis, baik di sekolah maupun di puskesmas, terutama di daerah terpencil. Selain itu, program subsidi atau layanan kesehatan mental gratis dapat membantu keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Keempat, peran keluarga sebagai pendukung utama. Komunikasi yang terbuka dan pola asuh yang inklusif sangat penting untuk mendukung kesehatan mental anak perempuan. Keluarga dapat menjadi tempat aman bagi anak untuk berbagi cerita dan mengungkapkan emosi mereka.

Kelima, membentuk komunitas pendukung. Di lingkungan sekolah atau masyarakat, peer-support groups dapat membantu anak perempuan merasa didengar, saling berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.

Kebijakan Perlindungan yang Lebih Menyeluruh

Mengatasi masalah mental health pada anak perempuan juga memerlukan kebijakan yang melindungi mereka dari kekerasan berbasis gender. Kekerasan ini sering menjadi salah satu penyebab utama gangguan kesehatan mental.

Harapan untuk Masa Depan

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan anak perempuan dapat tumbuh dalam lingkungan yang mendukung kesehatan mental mereka. Dengan kesehatan mental yang terjaga, mereka mampu mencapai potensi penuh tanpa dibatasi oleh hambatan psikologis.

 

Exit mobile version